Tanda Keberhasilan Pada Akhir Perjuangan

Tanda Keberhasilan Pada Akhir Perjuangan
Tanda Keberhasilan Pada Akhir Perjuangan

DIANTARA TANDA KEBERHASILAN PADA AKHIR PERJUANGAN ADALAH KUAT BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH SWT SEJAK AWAL PERJUANGANNYA.

BARANGSIAPA YANG CEMERLANG PADA PERMULAANNYA, AKAN CEMERLANG PULA PADA KESUDAHANNYA.

Hikmat 34 dari kitab Al Hikam ini merumuskan intisari keseluruh Kalam Hikmat yang diuraikan terlebih dahulu. Berserah diri kepada Allah swt, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya adalah jalan untuk mendekati Allah swt. Semua ini dapat diibaratkan sebagai kendaraan, sementara ilmu dan amal diibaratkan sebagai roda.

Siapa yang hanya membuat roda tetapi tidak membuat kendaraannya, maka dia akan memikul roda bukan menaiki kendaraan. Dia akan keletihan dan berhenti di tengah jalan sambil asyik bermain-main dengan roda seperti anak-anak.

Persoalan berserah diri sering menimbulkan kekeliruan pada orang yang berlarut-larut membicarakan mengenainya. Suasana hati dan derajat akal telah mengeluarkan berbagai uraian tentang bagaimana berserah diri kepada Allah swt. Ada orang beranggapan bahwa berserah diri adalah berpeluk tangan, tidak melakukan apa-apa atau pasrah.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang yang berserah diri itu hidup dalam ibadah semata-mata, tidak memperdulikan kehidupan sehari-hari.

Banyak lagi anggapan dan pendapat yang dikemukakan dalam menjelaskan mengenai berserah diri.

Berserah Diri Pada Allah adalah tanda keberhasilan pada akhir perjuangan

Sifat orang yang berserah diri adalah merujuk pada suatu hal yang diperselisihkan pada Allah swt. Mereka tidak ta’asub memegang suatu pemahaman yang didapatkan melalui fikirannya atau pendapat orang lain.

Mereka bersedia meninggalkan pemahaman dan pendapat pribadi seandainya bertentangan dengan peraturan dan hukum Tuhan. Sewaktu hidup di dalam dunia ini, mereka mengembalikan segala urusan kepada Allah swt karena mereka yakin bahwa diri mereka dan urusan mereka akan kembali juga kepada Allah swt di akhirat kelak.

Pertemuan dengan Allah swt di akhirat menguasai tindakan mereka sewaktu mereka hidup di dunia ini.


وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ [٤٢:١٠]
“Dan (katakanlah wahai Muhammad kepada pengikut-pengikutmu): ‘Tentang suatu apapun perkara agama yang kamu berselisihan padanya maka hukum pemutusnya terserah kepada Allah; Hakim yang demikian kekuasaan-Nya ialah Allah Tuhanku; kepada-Nya jualah aku berserah diri dan kepada-Nya jualah aku rujuk kembali (dalam segala keadaan)’.” (Surah asy-Syuura : Ayat 10)

Orang yang berserah diri kepada Allah swt, mengembalikan urusan mereka kepada-Nya, meyakini bahwa golongan manusia yang benar-benar mengerti kehendak Allah swt adalah golongan para nabi dan rasul.

Oleh karena itu pegangan dan tindakan para nabi dan rasul selalu dijadikan sebagai sandaran dalam membentuk pegangan pribadi dan dalam melakukan amal perbuatannya.


وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ [١٢:٦٧]
“Dan ia (Yaakub) berkata lagi: ‘Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk (ke kota Mesir) dari sebuah pintu saja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu yang berlain-lain. Dan aku (dengan nasehatku ini), tidak dapat menyelamatkan kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kuasa menetapkan sesuatu (sebab dan akibat) itu hanya tertentu bagi Allah. Kepada-Nya jualah aku berserah diri, dan kepada-Nya jualah hendaknya berserah diri orang-orang yang mau berserah diri’.” (Surah Yusuf : Ayat 67)


وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُم مَّا كَانَ يُغْنِي عَنْهُم مِّنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِّمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [١٢:٦٨]
“Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Surah Yusuf : Ayat 68)

Ayat di atas menceritakan sifat berserah diri yang ada pada diri Nabi Yaakub as. Beliau as. menasehati anak-anaknya yang sebelas orang itu untuk memasuki kota Mesir melalui pintu-pintu yang berlainan.

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yaakub as. mengakui tuntutan berikhtiar sebagaimana kedudukan mereka sebagai manusia. Walaupun begitu, Nabi Yaakub as. mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa mengikuti nasehat beliau as. bukanlah jaminan bahwa anak-anaknya akan selamat dan mendapatkan apa yang mereka cari.

Ikhtiar pada lahiriyah mesti disertai dengan iman pada batiniyah.

Orang yang beriman meyakini bahwa Allah swt saja yang mempunyai kuasa penentuan. Oleh karena itu orang yang beriman dituntut agar berserah diri kepada Allah swt saja, tidak berserah diri kepada yang lain, sekalipun yang lain itu adalah malaikat, wali-wali ataupun ayat-ayat Allah swt. Allah swt yang menguasai malaikat, wali-wali dan ayat-ayat-Nya.

Penyerahan bulat kepada Allah swt bukan kepada sesuatu yang dinisbahkan kepada-Nya. Persoalan ini dinyatakan oleh Nabi Hud as. sebagaimana yang diceritakan oleh ayat berikut:


إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [١١:٥٦]
“Karena sesungguhnya aku telah berserah diri kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu. Tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk yang bergerak di muka bumi melainkan Allah jualah yang menguasai (memegang) ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku tetap di atas jalan yang lurus.” (Surah Hud : Ayat 56).

Tuhan berada di atas jalan yang lurus. Tuhan tidak mengantuk, tidak lalai, tidak keliru dan tidak melakukan kesalahan. Apa saja yang Tuhan lakukan adalah benar dan tepat. Tuhan berbuat sesuatu atas dasar ketuhanan dan dengan sifat ketuhanan, tidak ada pilih kasih. Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil.

Pekerjaan-Nya adalah adil. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengerti dan Maha Bijaksana. Pekerjaan-Nya adalah sempurna, teratur dan rapi. Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemurah dan Penyayang. Pekerjaan-Nya tidak ada yang zalim.

Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang baik-baik itu mengadakan peraturan untuk diikuti. Mengikuti peraturan-Nya merupakan penyerahan kepada-Nya. Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya menyampaikan kepada umat manusia apa saja yang datang dari Allah swt.

Pekerjaan manusia adalah menyampaikan. Jika yang disampaikan itu tidak diterima, maka serahkanlah kepada Allah swt. Dia memiliki ‘Arasy yang agung, yang memagari dan menjaga seluruh makhluk. Tidak ada makhluk yang dapat menembusi ‘Arasy-Nya. Arasy-Nya adalah pagar Qadar. Sesuatu yang Dia ciptakan dan tentukan untuk makhluk-Nya dibatasi oleh ‘Arasy Allah swt.


فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ [٩:١٢٩]
“Kemudian jika mereka berpaling ingkar, maka katakanlah (wahai Muhammad): ‘cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; kepada-Nya aku berserah diri, dan Dia jualah Tuhan yang mempunyai ‘Arasy yang agung’.” (Surah at-Taubah : Ayat 129)

Tauhid adalah akhir dari pencapaian perjalanan.

Pada tahapan ini, syirik tidak ada lagi walaupun sebesar zarah. Dalam proses mencapai tauhid perlu ada pemisahan dan perbedaan antara Tuhan dengan yang selain Tuhan. Tidak boleh diadakan sekutu bagi Tuhan.

Tidak boleh meletakkan unsur alam, amal, doa dan sebagainya pada kedudukan yang dapat menyebabkan timbulnya anggapan dimana selain Tuhan dianggap mampu mengaburkan kekuasaan-Nya. Tidak boleh terjadi ketaatan dan kasih sayang terhadap sesuatu melebihi ketaatan dan kasih sayang terhadap Allah swt.


قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [٩:٢٤]
“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, – (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih dari Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); karena Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (durhaka)’.” (Surah at-Taubah : Ayat 24).

Perlu difahami bahwa sekalipun seorang hamba telah berserah diri kepada Allah swt, namun jika Allah swt tidak menerimanya, maka tidak mungkin tercapai tujuannya. Hanya penerimaan Allah swt yang benar-benar membawa hamba kepada-Nya.

Tanda Allah swt menerima hamba-Nya ialah terdapat keberhasilannya disaat permulaan. Terjadi perubahan-perubahan pada diri hamba. Sifat buruknya terbuang dan sifat terpuji menghiasinya. Dia menjadi gemar beribadah dan berbuat taat.

Semakin jauh perjalanannya semakin cemerlang hatinya. Dia diterangi oleh Nur Ilahi dan dikaruniai ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah swt. Nur Makrifat menyinarinya, maka dia kenal pada Tuhannya.

Kata kunci dari tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah kuatnya berserah diri pada Allah sejak awal mula perjalanan.

[ patriapurwakarta.com ]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *