Survival Skill Untuk Bertahan Hidup

Survival Skill Untuk Bertahan Hidup di alam liar.
Survival Skill

Survival Skill ; Mungkin sebagian besar dari kita sudah pernah melihat film Cast Away, Life of Pie, Into the Wild, The Jungle, Vertical Limit, The Grey, All Is Lost, The Revenant, Alive, dan mungkin masih banyak lagi film bertema survival yang fiksi maupun yang diangkat dari kisah nyata.

Banyak hikmah yang dapat diambil dari film di atas, mulai dari keteguhan hati, ketenangan, kesedihan, tindakan di luar nalar, dan lain sebagainya.

Nyaris di semua film bertema survival, yang dapat bertahan hidup sampai di akhir cerita adalah orang-orang – yang mungkin – terlihat biasa di awal-awal cerita, nothing special, namun kemudian dia sukses bertahan.

Kemudian kita dapat mungumpulkan point-point attitude/tingkah laku dari tokoh yang selamat tersebut dan merangkainya untuk menjadi pembelajaran.

Bertahan dalam kondisi survival membutuhkan kunci tingkah laku yang sesuai, bukan hanya masalah kekuatan otot dan IQ yang tinggi.

Survival Skill Indonesia

Tulisan ini dibuat berdasarkan kegiatan basic survival course (BSC) yang dilakukan oleh Survival Skill Indonesia (SSI). BSC yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 7 – 11 September 2019 di Taman Nasional Baluran ini merupakan batch ke-13 dari rangkaian BSC yang diinisiasi oleh SSI.

Tulisan ini menggambarkan proses selama kegiatan serta perilaku dari masing-masing peserta, yang kemudian dikaitkan dengan kondisi keseharian berdasarkan teori dari beberapa literatur dan juga studi kasus dari kejadian-kejadian survival sebelumnya.

Kondisi survival dapat terjadi di manapun, baik ketika berkegiatan di alam bebas, bencana alam, peperangan, dan kondisi lainnya.

Bertahan hidup maknanya adalah berarti tetap hidup untuk melanjutkan kehidupan. Karena survival merupakan kondisi yang tidak mudah, hal terpenting adalah menerimanya dengan ikhlash dan mencoba tetap hidup.

Sambil selalu mencari jalan dan mencoba untuk keluar dari kondisi survival tersebut. Kaitannya dengan kegiatan alam bebas, dalam satu dekade terakhir, setiap tahun trend musibah kecelakaan dan hilangnya pendaki gunung selalu meningkat.

Basic Survival Course, by
Survival Skill Indonesia (SSI)

Hal terpenting yang menjadi, kunci lolos dari keadaan Survival adalah bagaimana kita mengelola pikiran supaya tetap positif, yang dikenal dengan istilah positive mental attitude(PMA).

Pembahasan PMA muncul dalam ilmu survival modern setelah perang dunia ke-2, di mana dinyatakan bahwa PMA ini merupakan kunci bagi seorang survivor untuk bertahan dan mampu keluar dengan selamat.

Awalnya penulis berfikir bahwa penguasaan teknik-teknik survival adalah hal yang paling utama. Survival bukan hanya masalah fisik, tapi psikis, sehingga sikap tetap tenang dan berfikir serta berbuat logis merupakan kunci untuk selamat. Tidak salah kemudian muncul teori Stockdale Paradox.


Survival Skill Admiral Stockdale

Laksamana Pertama James Stockdale anggota US Navy merupakan tawanan perang dengan pangkat tertinggi yang ditahan oleh Vietnam Utara dalam Perang Vietnam.

Ketika sudah dibebaskan dan pulang ke Amerika, Admiral Stockdale ditanya tentang siapa yang lebih dulu tewas dalam penahanan?. Beliau menjawab, “Itu mudah saja mengetahuinya, yang tewas lebih dahulu adalah mereka yang optimis”

Optimisme bisa membunuh. Rentetan proses setelah optimis adalah harapan dan penantian.

Ketika harapan tak kunjung datang, maka yang terjadi adalah putus asa, dan akhirnya berujung ke tahap menyerah untuk hidup,…..END.

Lalui setiap saat dengan tetap berfikir positif dan selalu mengedepankan logika ata emosi. Seperti analogi “bagaimana cara memakan gajah?”, jawabannya adalah potong kecil-kecil dan pelan-pelan di makan sampai habis!.

Emosi berlebih justru akan menghabiskan energi dan berujung pada frustasi. Survival is easy, just don’t die!.

Dalam banyak kejadian, meninggalnya survivor bukan disebabkan karena faktor alam, namun faktor survivor sendiri yang sudah menyerah untuk hidup, hopeless karena berfikir sudah berakhir, serta ingin sesegera mungkin mengakhiri penderitaan.

Survival Skill Laksamana Muda Talbot

Menurut Laksamana Muda Talbot, setelah melakukan pengamatan pasca perang dunia ke-2, dari berbagai kejadian kondisi survival, yang dapat bertahan adalah orang-orang yang mempunyai “will-to-live”(keinginan untuk hidup). Dan orang yang tidak berhasil melalui kondisi survival adalah orang yang “wont-to-live” (tidak mau hidup).

Di sinilah letak pentingnya mengetahui, belajar, dan mengamalkan PMA di kegiatan keseharian.

Sikap “will-to-live” dapat dibentuk dengan pembiasaan dalam bersikap, pembiasaan dalam merespon setiap stimulus, dan pembiasaan dalam selalu menggunakan logika saat menghadapi sesuatu.

Pembiasaan akan menguatkan sinapsis dalam otak. Sinapsis will-to-live ini akan berguna ketika secara tiba-tiba kita berhadapan dengan kondisi survival.

Bersiap dan belajar untuk menghadapi kondisi survival dapat dilakukan oleh semua orang. “In Omnia Paratia”.

Mindset Suvivall

Dari semua materi kelas yang diberikan, materi psycological aspect of survival ini menjadi bagian yang terpenting karena ini adalah masalah mindset.

Be proactive! Merespon apapun stimulus yang ada dengan respon yang positive, selalu maksimalkan pengggunaanlocus of control di area otak kita yaitu pre frontal cortex (PFC)utuk segala kondisi.

Sehingga mentor selalu mendetailkan setiap point dan memberikan wawasan berupa contoh-contoh dari kejadian nyata dan simulasi dari beberapa film juga.

Banyak dari survivor yang sukses melewati kondisi survival, adalah seseorang yang mempunyai kata-kata mantra atau afirmasi yang sangat kuat tertanam di dalam benaknya.

Dari hasil sharing beberapa peserta lulusan BSC sebelumnya, setiap individu masih sangat hafal afirmasi masing-masing.

Beberapa contoh, Om Muha (one of my favorite person), seorang yang humble di lapangan, membagikan afirmasinya ketika mengikuti BSC, “saya ingin belajar!”, wis ngono ae. Dampak yang dirasakan ketika di lapangan adalah kekuatannya dalam menghadapi beberapa handicap yang ada.

“lebih baik saya pingsan daripada tidak jujur Om, saya selalu mengingat point nomor 14, yaitu “Berserah diri, tapi bukan putus asa”, ujarnya. Dan yang membuat saya lebih salut sama orang satu ini-sampai mbrebes milisesenggukan ketika saya nyaris menyerah dipermainkan asumsi – adalah kenyataan ketika siang harinya beliau menunjukan bekas jahitan memanjang di pinggang kanannya. Masya Allah, Anda begitu kuat!.

Om Arief “Si Mario Bross”, ketika bertemu pertama kali di basecamp, terlihat paling kurus dan lemah secara fisik dan cenderung pendiam.

Di lapangan, beliau adalah seorang yang ceria dan selalu menyatakan “Nikmati semua dengan senyuman”. Dampaknya memang dahsyat. Om Arief selalu menjadi penyemangat peserta yang lain.

Dengan gayanya yang sedikit nge-slang, beliau selalu menjadi hiburan. Bukan hanya bagi peserta, namun juga bagi para mentor.

Sungguh kekuatan fisik, background pendidikan, usia, serta pengetahuan bukan menjadi jaminan untuk seseorang ketika dalam kondisi survival. Afirmasi yang kuat menjadi salah satu penentunya.

Hal ini yang kemudian melahirkan Stockdale Paradoxdalam pemahaman seni survival modern.

Afirmasi

Afirmasi adalah wujud praktek dari sebuah grand design begin with end in mind. Mulai dan fokus dari apa yang menjadi tujuan akhir.

Setiap individu mengalami fase pembentukan 2 (dua) kali. Yang pertama adalah fase pembentukan mental dan kedua adalah fase pembentukan fisik.

Kedua fase ini akanmembentuk masa depan masing-masing individu berdasar kekuatan afirmasi yang melahirkan tata nilai dan visi kehidupan dalam setiap aktifitas seseorang.

Hidup seseorang bukan mengalir bagai air dan setiap tindakan yang dilakukan juga bukan merupakan kebetulan.

Semua tindakan yang dilakukan adalah hasil aksi dari setiap detail tata nilai/value/mindset yang sudah tertanam lama.

Tata nilai tersebut kemudian menjadi tindakan yang dengan sadar atau tanpa sadar dilakukan dalam keseharian dan menentukan masa depannya.

Begin with end in mind dan mewujudkan dalam bentuk afirmasi menjadi kekuatan mental yang dahsyat bagi setiap individu untuk menjalani keseharian, apapun kondisinya. Afirmasi yang kuat akan meneguhkan komitmen baik sebagai pribadi maupun bagian kelompok.

Positive Mental Attitude(PMA)

PMA merupakan penguasaan nalar/logika atas emosional. PMA adalah optimalisasi fungsipre frontal cortex (PFC) untuk mengendalikan respon sistem limbic terhadap kondisi yang dihadapi.

Pre frontal cortexmerupakan sistem kerja otak pada cortex di bagian depan, yang membedakan otak manusia dengan otak mahluk lainnya. Kinerja PFC memungkinkan manusia untuk memilah baik-buruk, boleh-tidak boleh, sumber kebaikan dalam bertindak.

Sedangkan sistem limbic adalah sistem kompleks yang berkaitan dengan segala emosi/naluri yang memang menjadi naluri manusia. Ketika emosi dibiarkan dan dibebaskan tanpa dikontral, maka apa bedanya manusia dengan binatang?, sehingga PFC merupakan berkah Illahi untuk mahluk yang paling mulia, manusia.

Kondisi survival yang terjadi secara tiba-tiba dapat mengakibatkan perasaan takut bagi survivor. Ketakutan akan keselamatan jiwanya merupakan ketakutan terbesar. Kondisi ini kemudian menjadi semakin menguat dengan munculnya stressor seperti seperti lapar, haus, luka, kesepian/kesendirian, binatang liar, kelelahan, kepanikan, serta kondisi yang tidak nyaman (dingin/panas).

Berkaitan dengan perasaan takut ini, dalam bukuNeuroleadership: A Journey Through the Brain for Business Leaders, pada bagian yang membahas tentang hal yang mungkin dapat terjadi ketika muncul rasa takut yang berkaitan dengan kinerja otak ternyata beragam tergantung kecakapan masing-masing orang untuk mengolah informasi tersebut.

Munculnya rasa takut kemudian memicu reaksi yang terjadi di beberapa sistem/bagian otak. Di sistemlimbic, ketakutan akan mengaktifkan emosi.

Sedang di bagian anterior singulate cortex, ketakutan ini akan menimbulkan kondisi bias ke arah yang negatif.

Pada bagian motor cortex, ketakutan dapat menimbulkan beberapa dampak yang aksinya dapat meng-aktive-kan atau meng-inactive-kan bergantung pada sinapsis masing-masing orang tersebut.

Dampaknya adalah antara fight(agresif), flight (penyangkalan),freeze (terpaku). Dampak inilah yang memungkinkan terjadinya perceptual narrowing.

Yang menarik adalah efek pada bagian PFC, di mana ketika PFCmenjadi aktif, akan terjadi peningkatan kemampuan kognitif serta kemampuan membaca dan menguasa keadaan yang kompleks

Kondisi survival akan menempatkan seorang survivor pada situasi antara hidup dan mati. Situasi ini tentu akan merangsang sistem limbicuntuk langsung dalam kondisi ON.

“Bagiamana supaya selamat”.

Apapun dapat dilakukan ketika tidak ada kontrol. Kesigapan mengaktifkan PFC pada kondisi ini akan segera membuat seseorang menguasai keadaan.

Keterlambatan mengaktifkanPFC justru berpotensi untuk menempatkan seseorang dalam kondisi terpaku, terdiam, dan tidak tahu harus melakukan apapun. Hal ini dalam perspektif stimulus dikenal dengan istilah perceptual narrowing.

Hanya saja respon yang ditimbulkan justru negatif dan merugikan bagi yang bersangkutan.

Dalam kasus kondisi survival karena sebab apapun, tersesat, musibah pesawat, musibah kapal, atau hal lainnya, kejadianperceptual narrowing dapat terjadi.

Pada kasus tenggelamnya kapal Estonia yang berlayar dari Tallin menuju Stockholm-Swedia, di laut Baltic kapal tersebut dihantam badai dan dengan segera separuh dek sudah terisi air.

Yang terjadi adalah hampir semua orang mengalami perceptual narrowing. Mereka terpaku meski sudah ada perintah segera meninggalkan kapal dengan sekoci. Dan akhirnya hanya 138 orang saja yang selamat dari 989 penumpang saat itu.

David Rock, Penulis buku Quiet Leadership dan pendekatan kepemimpinan melalui neuroscience juga menggaris-bawahi kinerja otak yang berkaitan dengan fungsinya sebagai pengendus/insting untuk bertahan hidup.

Dia menyampaikan bahwa dalam kondisi normal, sistem limbic akan langsung terlebih dahulu mengendus kemungkinan adanya ancaman/bahaya. Kekuatan ini berlipat-lipat dibandingkan dengan sistem di PFC yang membaca adanya kondisi yang menguntungkan.

Bagaimana supaya PFC langsung mengampil alih, menjadi panglima dalam kinerja otak?.

Perlu latihan dan pembiasaan untuk menguatkan sinapsis antara stimulus dan respon. Perlu konsentrasi, disiplin, dan kerendahan hati selama proses latihan dalam keseharian.

Positive mental attitude adalah kebiasaan harian dan akan lebih mudah muncul ketika dalam kondisi survival. Dengan pengalamannya dalam mengelola kursus survival, coach dan mentor pun mempunyai intuisi untuk menilai PMA masing-masing peserta dan mengaitkannya dengan kondisi yang bersangkutan nanti ketika di alam Baluran.

Karena PMA merupakan hal pertama yang berperan dalam keberhasilan seseorang dalam menghadapi kondisi abnormal.

Prinsip Dasar Survival skill

Materi kemudian dilanjutkan dengan Basis Principles of Survival yang isinya berupa hal-hal yang berkaitan dengan put first think first, melakukan berurutan sesuai prioritas ketika kita menyadari sedang dalam kondisi survival.

Yang pertama adalah bertindak dengan menggunakan PMA dalam segala kondisi, kemudian diikuti dengan mengaplikasikan keahlian emergency first aid untuk segala luka atau injury lainnya.

Role of 3

Di materi ini, peserta di berikan pengetahuan tentang“role of 3”; bahwa manusia akan collapse dalam kondisi: 3 menit tanpa oksigen, 3 jam tanpa perlindungan karena terpapar temperatur panas/dingin, 3 hari tanpa air, 3 minggu tanpa asupan makanan.

Role of 3 ini dapat dijadikan jembatan keledai untuk menghafalkan urutan apa yang harus dilakukan dalam kondisi survival, mulai dari mengedepankan ber-PMA, kemudian pengetahuan dan kecakapan dalam pertolongan pertama dalam kondisi bencana/survival, shelter untuk perlindungan paparan kondisi sekitar, kecakapan membuat api dengan alat dan bahan yang ada di sekitar, kecakapan membuat signal untuk meminta pertolongan, kecakapan dalam mencari dan mengumpulkan air dan makanan.

Urutan ini merupakan skala prioritas yang ditekankan oleh coach dan mentor dalam materi kelas.

Kondisi survival berkelompok

Ketika dalam situasi survival berkelompok, penting untuk mengelola kelompok tersebut supaya tetap menjadi satu kesatuan. Keselamatan seluruh anggota menjadi prioritas utama.

Di setiap batch kegiatan BSC yang dilakukan, ada beberapa perbedaan dari masing-masing peserta, mulai dari usia, daerah asal, latar belakang pendidikan, serta kultur keseharian.

Setelah penguasaan PMA maka kemudian setiap individu dalam kelompok dituntut untuk menjadi team player. No Superman and no Avenger, semua masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

Sebagai individu, afirmasi yang kuat diperlukan untuk menjaga irama positif di dalam kelompok. Hal ini dapat berujung pada respect terhadap perbedaan dan menerimanya sebagai bagian dari keberlimpahan yang semakin mewarnai kondisi survival.

Dalam kondisi static,food foraging dan water procurement merupakan kegiatan yang membutuhkan team work, sedang saling menanggung beban dan selalu bersama dilakukan dalam kondisi mobile dari satu lokasi ke lokasi yang lainnya.

Kondisi survival, percayalah, air tawar 100ml pun menjadi hal yang sangat berharga dan dapat menjadi sumber pertengkaran (bahkan dapat berujung ke perkelahian).

Kekuatan leadership untuk reasoning konsumsi air per individu sangat diperlukan di tengah kondisi yang terik. Belum lagi di saat anggota kelompok sudah mulai collapse-berjatuhan karena heat stroke.

Dari pelaksanaan BSC XIII, dengan perbedaan yang ada, sinergi di dalam tim akan semakin terlihat lebih menguntungkan.

Peserta yang mempunyai pengetahuan lebih pada navigasi darat akan menggunakan keahliannya dan bermanfaat ketika semua peserta harus menuju ke koordinat yang ditentukan oleh mentor.

Peserta yang mempunyai pengetahuan medical first responder (MFR), mempunyai kesigapan ketika ada peserta yang collapse, dengan membantu mentor untuk segera menanganinya.

Meskipun survival adalah perkara individu, karena berurusan dengan nyawa. Namun ketika survival berkelompok, maka menolong orang lain justru memperbesar peluang untuk selamat.

Dari berbagai analisa kejadian survival, para survivor yang selamat, hampir semuanya mempunyai mental untuk membantu sesama.

Penutup Survival Skill

Dari pemaparan di atas, seorang yang mempunyai peluang besar untuk bertahan dalam kondisi survival adalah seseorang yang hidup disiplin dalam kesehariannya, mempunyai sikap hati-hati dan mengutamakan keselamatan dalam bertindak, mensyukuri kehidupannya, respek dan berjiwa menolong orang lain.

Sepertinya terlihat klise, namun dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, 100% orang-orang SSI menyatakan hal ini. Ternyata kunci sukses bertahan dalam kondisi survival sama dengan kunci sukses hidup dan juga meniti karir.

Jhon Leach, seorang perwira dari angkatan bersenjata Inggris dan seorang profesor di Leicester Univesity, memperkenalkan teori 10 – 80 – 10 di dalam karyanya “Survival Psycology”.

Hanya 10% dari populasi manusia yang secara alami mempunyai gen-gen survival. Kelompok ini akan mudah melewati kondisi survival karena gen-gen tersebut otomatis teraktivasi ketika kondisi survival terjadi.

80% dari populasi manusia mempunyai peluang 50/50 untuk dapat bertahan. Setiap individu dari kelompok ini akan meningkat peluang keberhasilannya jika mereka mau belajar dan berlatih untuk menghadapi kondisi survival.

10% dari populasi manusia, adalah kelompok yang di label langsung tidak akan dapat bertahan dalam kondisi survival. Kita di kelompok mana? In Omnia paratia!

tulisan yang menginspirasi dari sahabat saya, : Muryanto : peserta BSC Batch XIII, Taman Nasional Baluran 7-11 September 2019

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10215723291302368&id=1445587536

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *