Sifat Kehidupan Duniawi dan tipe manusia di dalamnya

Sifat Kehidupan Duniawi
Sifat Kehidupan Duniawi

SIFAT KEHIDUPAN DUNIAWI : JANGAN MENGHERANKAN KAMU LANTARAN TERJADI KEKERUHAN KETIKA KAMU BERADA DI DALAM DUNIA, KARENA SESUNGGUHNYA KEKERUHAN ITU TIDAK TERJADI MELAINKAN KARENA BEGITULAH YANG PATUT TERJADI DAN ITULAH SIFATNYA (DUNIA) YANG ASLI.

Hikmat yang lalu (https://patriapurwakarta.com/mendekati-allah/) menyingkap halangan secara umum sedangkan Hikmat 32 ini – Sifat Kehidupan Duniawi  – mengkhususkan pada dunia sebagai hijab yang menutupi pandangan hati terhadap Allah swt.Halangan inilah yang banyak dihadapi oleh manusia.

Manusia menghadapi peristiwa yang terjadi di dalam dunia dengan salah satu dari dua sikap yaitu apakah mereka melihat apa yang terjadi adalah akibat perbuatan makhluk ataupun mereka memandangnya sebagai perbuatan Tuhan.

Hikmat 32 ini menjuruskan kepada golongan yang melihat peristiwa yang terjadi dalam dunia sebagai perbuatan Tuhan tetapi mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Tuhan dalam perbuatan-Nya.

Manusia Yang Insaf

Manusia yang telah mendapatkan keinsafan dan hatinya sudah beransur bersih, dia akan cenderung untuk mencari kesempurnaan. Dia sangat ingin untuk melihat syariat Allah swt menjadi yang termulia di atas muka bumi ini.

Dia sangat ingin melihat umat Nabi Muhammad saw menjadi pemimpin bagi seluruh umat manusia. Dia ingin melihat semua umat manusia hidup rukun damai. Dia inginkan segala yang baik-baik dan sanggup berkorban untuk mendatangkan kebaikan kepada dunia.

Begitulah sebagian dari keinginan yang lahir di dalam hati orang yang hatinya sudah mulai berangsur bersih. Tetapi, apa yang terjadi dalam kenyataannya adalah kebalikan dari apa yang menjadi hasrat murni hamba Allah swt yang insaf itu.

Huru hara terjadi dimana-mana. Pembunuhan terjadi di sana sini. Umat Islam ditindas di berbagai tempat. Kezaliman dan ketidak-adilan terjadi dengan leluasa. Seruan kepada kebaikan tidak didengarkan. Ajakan untuk perdamaian tidak dipedulikan. Perbuatan maksiat terus dilakukan tanpa segan.

Seorang hamba tadi melihat kekeruhan yang terjadi di dalam dunia dan merasakan seperti mata tombak yang menikam ke dalam hatinya. Hatinya merintih, “Agama-Mu dipermainkan, di manakah pembelaan dari-Mu wahai Tuhan! Umat Islam ditindas, di manakah pertolongan-Mu Wahai Tuhan! Seruan kepada jalan-Mu tidak disambut, apakah Engkau hanya berdiam diri wahai Tuhan!

Manusia melakukan kezaliman, kemaksiatan dan kemunkaran, apakah Engkau hanya membiarkannya wahai Tuhan?” Beginilah keadaan hati orang yang merasa heran melihat kekisruhan kehidupan dunia ini dan dia tidak mampu menjernihkannya. Allah swt menjawab keluhan hamba-Nya dengan firmanNya:


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ [٢:٣٠]
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi’. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): ‘Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan mensucikan-Mu?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak mengetahuinya’.” (Surah al-Baqarah : Ayat 30)

Para malaikat sudah dapat membayangkan tentang kehidupan dunia yang akan dijalani oleh makhluk manusia sebelum manusia pertama diciptakan.

Sifat Kehidupan Duniawi

Sifat dunia yang dinyatakan oleh malaikat ialah huru-hara dan pertumpahan darah. Dunia adalah ibu sementara dari huru-hara sedangkan pertumpahan darah adalah anaknya. Ibu tidak melahirkan kecuali anak dari jenisnya juga.

Kelahiran huru-hara, peperangan, pembunuhan dan sebagainya di dalam dunia adalah sesuatu yang memang sewajarnya terjadi di dalam dunia, maka tidak perlu heran. Jika terdapat kedamaian dan keharmonisan di sana sini di dunia, itu adalah bonus atau kelahiran yang tidak menuruti sifat ibunya. Selanjutnya Allah swt menceritakan tentang dunia:


قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ [٧:٢٤]
“Allah berfirman, ‘Turunlah kamu semuanya, dengan keadaan setengah kamu menjadi musuh bagi setengahnya yang lain, dan bagi kamu disediakan tempat kediaman di bumi, dan juga diberi kesenangan hingga ke suatu ketika (mati)’.” (Surah al-A’raaf : Ayat 24)

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ [٧:٢٥]
“Allah berfirman lagi : ‘Di bumi itu kamu hidup dan di situ juga kamu mati, dan daripadanya pula kamu akan dikeluarkan (dibangkitkan hidup semula pada hari kiamat)’.” (Surah al-A’raaf : Ayat 25)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ [٣:١٨٥]
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahwasanya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sesungguhnya ia telah berhasil. Dan (ingatlah bahwa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.” (Surah Ali ‘Imran : Ayat 185)

Allah swt menerangkan dengan jelas tentang sifat-sifat dunia yang dihuni oleh manusia. Manusia bermusuhan sesama mereka sendiri, saling rusak merusak dan kesenangannya adalah tipu daya. Segala perhitungan dan pembalasan yang terjadi di dunia tidak sempurna.

Sifat Kehidupan Duniawi : Dua Golongan Manusia

Manusia dibagi kedalam dua golongan yaitu golongan yang beriman dan yang tidak beriman. Golongan yang tidak beriman menerima upah terhadap kebaikan yang mereka lakukan ketika masih di dunia sedangkan di akhirat kelak mereka tidak bisa menuntut apa-apa lagi dari Tuhan. Jangan heran dan berdukacita seandainya Tuhan membalas kebaikan mereka ketika mereka masih hidup di dalam dunia dengan memberikan pada mereka berbagai kelebihan dan kemewahan.

Golongan tidak beriman

Namun mereka tidak berhak lagi menuntut nikmat akhirat dan tempat kembali mereka di sana kelak ialah neraka jahanam.


اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ [١٣:٢٦]
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang menipu dan sedikit).” (Surah ar Ra’d : Ayat 26)

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا [١٧:١٨]
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Surah al Isra’ : Ayat 18).

Golongan Beriman

Begitu juga jangan heran dan berdukacita seandainya orang-orang yang beriman dan beramal shalih terpaksa menghadapi penderitaan dan penghinaan ketika hidup di dunia.


أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Surah al Baqarah : Ayat 214)

وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ [١٦:١٢٢]
“Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih.” (Surah al Nahl : Ayat 122).

Bagi Allah swt, dunia ini tidak layak menjadi tempat untuk membalas kebaikan orang-orang beriman dan beramal shalih. Balasan kebaikan dari Allah swt sangat tinggi nilainya, sangat mulia dan sangat agung, tidak layak untuk disimpan di dalam dunia yang hina dan rendah ini.

Dunia hanyalah tempat hidup, beramal dan mati. Bila terjadi kiamat kita akan dibangkitkan dan yang menunggu kita adalah negeri yang abadi.

Sifat Kehidupan Duniawi, di tulis ulang oleh by patriapurwakarta.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *