Pilkades Serentak Purwakarta di Tengah Pandemi

Pilkades Serentak Purwakarta
Pilkades Serentak di Purwakarta

Pilkades serentak Purwakarta di ikuti oleh 170 Desa se Kabupaten Purwakarta pada tanggal 25 Agustus 2021, di tengah pandemi Covid19 dengan lonjakan kasus yang cukup tinggi saat ini, bagaimanakah strategi terbaik untuk mensukseskan pilkades serentak tersebut?

Melihat jadwal kontestasi politik dimana tahun 2021 – 2023 ini tidak ada pilkada di kabupaten Purwakarta. Maka ajang pemilihan kepala desa menjadi satu satu nya kontestasi politik di Purwakarta dalam 3 tahun kedepan.

Karenanya Pilkades ini menajadi menarik untuk di lihat dari berbagai sudut pandang dan dari berbagai kepentingan. Saya coba lihat dari salah satu sudut yang menarik dan di bagian akhir saya coba urun rembuk bagaimana strategi mensukseskan Pilkades.

Sumber Pendapatan Desa

Desa mempunyai sumber pendapatan Desa yang terdiri atas Pendapatan Asli Desa, bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota, bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota, alokasi anggaran dari APBN, bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota, serta hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga.

Bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD  Kabupaten/Kota kepada Desa diberikan sesuai dengan kemampuan keuangan Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

Bantuan tersebut diarahkan untuk percepatan Pembangunan Desa. Sumber pendapatan lain yang dapat diusahakan oleh Desa berasal dari Badan Usaha Milik Desa, pengelolaan pasar Desa, pengelolaan kawasan wisata skala Desa, pengelolaan tambang mineral bukan logam dan tambang batuan dengan tidak menggunakan alat berat, serta sumber lainnya dan tidak untuk dijualbelikan.

Bagian dari dana perimbangan yang diterima Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa.

Alokasi Dana Desa

Alokasi dana desa inilah salah satu isu yang menarik untuk dilihat dalam konteks pilkades, alokasi dana desa yang kelak akan di kelola oleh kepala desa terpilih, sebuah alokasi yang cukup besar, yang seharusnya cukup untuk membangun sebuah desa, menjadi desa mandiri, maju dan sejahtera.

Dana Desa menjadi isi dan isu yang paling sensitif namun juga banyak diharapkan orang, baik aparat desa sendiri pun warga desanya. Dana desa ini diturunkan dengan maksud demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Diperkirakan nilai yang akan turun rata-rata adalah sebesar 1.4 miliar tiap desa.

Pertanyaan nya adalah, apakah para calon kepala desa, termasuk kepala desa yang pernah menjabat dan akan maju lagi (incumbent) memiliki pemahaman yang utuh tentang dana desa ini?

Sebuah pemahaman yang melahirkan rencana kerja terpadu, terukur, terstruktur, efektif, efisien dan transparan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

Saya kira inilah yang ingin didengar oleh masyarakat, bukan slogan kosong khas kampanye, yang ditulis hampir sama di setiap spanduk.

Inilah yang menarik untuk kita uji dari para calon kepala desa.

Rencana kerja yang terukur ini kelak yang akan menjadi dokumen penting, modal kepala desa untuk membangun desa nya, tanpa perencanaan yang matang kita khawatir justru alokasi dana desa menjadi bumerang yang akan menjerat dan menjerumuskan kepala desa dalam persoalan yang sangat pelik.

Strategi Menang Pilkades

Bagian akhir tulisan ini urun rembuk saya untuk para calon kepala desa yang sedang berjuang memenangkan kontestasi, bagaimana kita menang dengan cara yang elegan, halal, murah dan menyenangkan.

Pertama, banyak berdo’a. Perkuat keyakinan bahwa batas kemampuan manusia hanya berusaha, hasil akhir sepenuhnya ketentuan Yang Maha Kuasa. Karena nya kita meminta kepada yang Maha Kuasa dan menyerahkan keputusan terbaik pada keputusan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian kita tidak jumawa dan tetap rendah hati, tidak galau dan tetap tenang karena percaya apapun hasilnya itulah yang terbaik dari Yang Maha Kuasa, tidak curang dan menghalalkan segala cara karena merasa ada Allah, Rabb Semesta Alam yang mengawasi.

Kedua, banyak silaturahmi. Tidak ada rumus yang paling jitu untuk meraih hati masyarakat kecuali silaturahmi, sejak dahulu kala orang tua kita, guru guru kita mengajarkan untuk menjaga silaturahmi.

Mereka yang senantiasa menjaga silaturahmi akan dimudahkan segala urusannya, dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Dalam konteks politik, silaturahmi adalah sarana terkuat untuk meningkatkan elektabilitas.

awalnya dikenal, lalu di sukai, lalu dipilih. Memperluas silaturahmi akan memperluas keterkenalan, mudah mudahan mereka yang mengenal itu menyukai (belum tentu di kenal otomatis di sukai) dari mereka yang menyukai itu mudah mudahan memilih (yang di sukai belum tentu di pilih)

Ketiga, membangun faktor pembeda, faktor keunggulan dari calon yang lain. ada dua faktor penting pada point ini, pertama adalah keunggulan akhlaq / pribadi calon dan kedua keunggulan narasi/program kerja.

Pada dasarnya manusia itu menyukai orang baik. Oleh karena itu pribadi kita yang baik, akhlaq kita yang baik dengan berbagai varian nya (jujur, rendah hati, amanah, suka menolong, pemurah, ramah, selalu ada ketika dibutuhkan dll) adalah magnet terkuat untuk menarik pemilih.

Kemudian narasi/program kerja, ini penting bagi pemilih, sebab program kerja inilah yang nantinya akan berdampak pada kehidupan mereka, apa yang akan kita lakukan untuk mereka dan mereka percaya bahwa kita mau dan mampu mewujudkan itu.

Tidak perlu muluk-muluk, sebab pada akhirnya publik akan tahu yang kita sampaikan itu  omong kosng sekedar janji kampanye atau sebuah kesungguhan hati.

Keempat, memahami data dan peta. Bayangkan kita berjalan dalam gelap tanpa petunjuk, apa yang terjadi? mungkin akan salah jalan, mungkin akan menabrak tiang.

Bertarung dalam kontestasi politik tanpa data dan peta akan menghabiskan banyak sumberdaya secara tidak efektif.

Katakanlah kita punya 100 spanduk, tanpa data dan peta yang jelas kita mungkin akan pasang dimana saja spanduk itu dan tidak banyak berdampak.

Dengan data dan peta kita tahu betul dimana 100 spanduk itu harus di pasang, bahkan dengan data yang presisi bisa jadi kita hanya perlu 50 spanduk tidak perlu sampai harus 100 spanduk.

Data dan peta ini akan menunjukkan kepada kita apa keinginan masyarakat, jadi kita bisa ukur apakah program yang kita tawarkan sesuai dengan keinginan masyarakat, jangan jangan masyarakat inginnya jeruk kita menawarkan apel.

Data dan peta ini akan membantu kita mengambil keputusan dengan tepat, melakukan 20% tindakan yang berdampak pada 80% pencapaian hasil.

Pada akhirnya saya berharap kontestasi pilkades ini adalah momentum untuk memunculkan pemimpin pemimpin desa yang berkualitas, menang karena kualitas bukan karena pragmatisme.

Dengan demikian kita bisa berharap dibawah kepemimpina kepala desa yang terbaik, desa nya akan maju warga nya akan sejahtera.

Jadi, mari kita sukseskan Pemilihan Kepala Desa serentak di kabupaten Purwakarta.

[ patriapurwakarta.com ]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *