Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati

Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati
Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati

PERBUATAN LAHIRIYAH DAN SUASANA HATI, SEBAGIAN DARI TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN LAHIRIYAH) ADALAH BERKURANGNYA HARAPAN (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN

Imam Ibnu Atha’illah memulai Kalam Hikmat beliau tentang hakekat Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati ini dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal.

Amal dapat dibagi pada dua jenis yaitu amal perbuatan lahiriyah dan perbuatan hati atau suasana hati yang dipengaruhi oleh amal perbuatan lahiriyah.

Beberapa orang dapat melakukan perbuatan lahiriyah yang sama namun suasana hati yang berhubungan dengan amal perbuatan lahiriyah tersebut tidak sama.

Pengaruh perbuatan lahiriyah pada hati berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Jika suasana hati dipengaruhi oleh amal perbuatan lahiriyah, maka hati dapat dikatakan bersandar pada perbuatan lahiriyah.

Sedangkan jika hati juga dipengaruhi oleh perbuatan hati, maka hati dikatakan masih bersandar kepada amal, sekalipun perbuatan hati termasuk dalam perbuatan batiniyah.

Hati yang bebas dan tidak bersandar pada amal, baik amal perbuatan lahiriyah atau amal batiniyah adalah hati yang menghadap kepada Allah swt dan meletakkan ketergantungan hanya kepada-Nya tanpa membawa amal apapun, baik lahiriyah atau batiniyah, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah swt tanpa takwil atau tuntutan apapun.

Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, baik lahiriyah dan batiniyah, walau berapapun banyaknya, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan agar mendapatkan sesuatu.

Amal perbuatan tidak menjadi perantara antara dia dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membatasi kekuasaan dan kemurahan Tuhan agar tunduk kepada amal perbuatan manusia. Allah swt Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh sesiapapun atau oleh sesuatu apapun.

Apa saja yang berhubungan dengan Allah swt adalah mutlak, tiada batas, tidak ada sempadan atau perbatasan. Oleh karena itu, orang arif tidak menjadikan amal perbuatan mereka sebagai sekat-sekat yang mengungkung ketuhanan Allah swt atau “memaksa” Allah swt berbuat sesuatu menurut kehendak dan perbuatan makhluk.

Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati : Perbuatan Allah swt berada di depan dan perbuatan makhluk ada di belakang mengikutinya.


وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [٨١:٢٩]


“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” [Surah at-Takwir : ayat 29]

Selamanya tidak pernah terjadi Allah swt mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu. Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang mempunyai hubungan rapat dengan amal perbuatan dirinya, baik yang lahiriyah maupun yang batiniyah.

Manusia yang kuat bersandar pada amal perbuatan lahiriyahnya adalah mereka yang mencari manfaat keuntungan keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amal perbuatan batiniyah adalah mereka yang mencari keuntungan akhirat.

Kedua jenis manusia tersebut mempunyai kepercayaan bahwa amal perbuatannya menentukan apa yang akan mereka dapatkan baik di dunia maupun di akhirat. Kepercayaan yang demikian terkadang membuat manusia hilang atau kurang ketergantungannya kepada Tuhan.

Ketergantungan mereka hanyalah pada amal perbuatan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah swt, ketergantungan tersebut bercampur dengan keraguan.

Seorang manusia dapat melihat pada dirinya sendiri, apakah kuat atau lemah ketergantungannya kepada Allah swt.

Kalam Hikmat 1 yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah memberi petunjuk mengenai hal tersebut.

Orang yang beriman kepada Allah swt meletakkan ketergantungan hanya kepada-Nya

Lihatlah pada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kemaksiatan atau perbuatan dosanya yang demikian membuat kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah swt, itu tandanya ketergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. Firman-Nya:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ [١٢:٨٧

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Surah Yusuf : Ayat 87)

Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang beriman kepada Allah swt meletakkan ketergantungan hanya kepada-Nya walau bagaimanapun keadaannya. Ketergantungan kepada Allah swt membuat hati tidak berputus asa dalam menghadapi ujian hidup.

Kadang-kadang sesuatu yang diinginkan, direncanakan dan diusahakan tidak mendatangkan hasil seperti yang diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan berarti kita tidak menerima pemberian Allah swt.

Selama seorang itu masih beriman dan bergantung kepada-Nya, maka selama itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan berarti tidak mendapat rahmat Allah swt. Apa saja yang Allah swt lakukan kepada orang yang beriman pasti di dalamnya terdapat rahmat-Nya, walaupun Allah swt tidak mengabulkan keinginannya.

Keyakinan terhadap yang demikian, menjadikan orang beriman tabah menghadapi ujian hidup, tidak sekali-kali berputus asa. Mereka meyakini bahwa apabila mereka sandarkan segala sesuatu kepada Allah swt, maka amal kebaikan apa saja yang mereka lakukan tidak akan pernah sia-sia.

Orang yang tidak beriman kepada Allah swt, Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada perbuatan mereka

Orang yang tidak beriman kepada Allah swt, situasinya akan berbeda. Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada perbuatan mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha.

Apabila mereka melakukan suatu ikhtiar berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki, mereka berharap akan mendapat hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuk pertolongan orang lain) tidak mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi.

Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Allah swt yang mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.

Jika dikalangan orang kafir, mereka tidak bersandar kepada Allah swt dan mudah berputus asa, di kalangan sebagian orang Islam juga ada yang demikian, dalam amalnya, mereka bergantung sebagaimana sifat orang kafir.

Orang yang seperti ini, melakukan perbuatan karena kepentingan diri sendiri, bukan karena Allah swt. Orang ini mungkin berharap bahwa dengan perbuatannya tersebut, dia dapat menikmati kemakmuran hidup di dunia.

Dia mengharapkan semoga amal kebajikan yang dilakukannya dapat mendatangkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya, kedudukan atau pangkatnya, berharap orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan dari bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya.

Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besar harapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya.

Sebagian kaum muslimin yang lain menghubung kaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal shalih sebagai tiket untuk memasuki surga, dan juga untuk menjauhkan dirinya dari azab api neraka. Mereka masih menyandarkan sesuatunya pada makhluk, baik berupa amal perbuatan maupun surga.

Kejiwaan orang yang bersandar kepada amal perbuatannya adalah sangat lemah

Kejiwaan orang yang bersandar kepada amal perbuatannya adalah sangat lemah, terutama kejiwaaan mereka yang mencari keuntungan duniawi dengan amal perbuatan mereka.

Mereka tidak tahan dalam menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka senantiasa nyaman dan segala-segalanya dapat berjalan menurut yang mereka rencanakan. Apabila terjadi sesuatu di luar jangkauan, mereka cepat panik dan gelisah.

Bala bencana membuat mereka merasa bahwa merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Bila berhasil mendapatkan suatu kebaikan, mereka merasakan keberhasilan itu disebabkan kepandaian dan kemampuan mereka sendiri. Mereka mudah menjadi ego serta suka menyombongkan diri.


وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ [٢٢:١١

 “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia (merasa tenang) dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (lari dari Allah). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Surah al Haj : Ayat 11)


قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ … [٢٨:٧٨]


“Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?…” (Surah al-Qashshash : ayat 78)

Ketika ruhani seseorang bertambah teguh, dia akan melihat bahwa amal perbuatan sebagai jalan baginya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hatinya tidak lagi cenderung pada keuntungan duniawi dan ukhrawi, tetapi dia berharap agar mendapatkan karunia Allah swt seperti terbukanya hijab-hijab yang menutupi hatinya.

Orang ini merasakan bahwa amal perbuatannya yang membawanya kepada Tuhan. Dia sering menghubung kaitkan hasil usahanya dalam ruang kejiwaan dengan amal yang banyak dilakukannya seperti dzikir, melaksanakan shalat sunat, berpuasa dan lain-lain.

Bila tertinggal melakukan suatu amal yang biasa mereka lakukan atau bila mereka tergelincir melakukan kesalahan, maka mereka merasa dijauhkan oleh Tuhan.

Tahap permulaan dalam mendekatkan diri dengan Tuhan

Inilah orang yang berada pada tahap permulaan dalam mendekatkan dirinya dengan Tuhan melalui amalan thariqat tasawwuf.

Jadi, ada golongan yang bersandar kepada amal semata-mata dan ada juga golongan yang bersandar kepada Tuhan melalui amal. Kedua golongan tersebut masih termasuk kedalam golongan orang yang berpegang kepada manfaat amal dalam mendapatkan sesuatu.

Dua Golongan Orang :Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati

Golongan pertama kuat berpegang pada amal lahiriyah, yaitu perbuatan yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika mereka bersalah memilih ikhtiar, hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan yang mereka inginkan.

Ahli thariqat yang masih berada pada tahapan permulaan, kuat bersandar kepada amal perbuatan batiniyah seperti shalat dan dzikir. Jika mereka tertinggal melakukan suatu amal perbuatan yang biasa mereka lakukan, akan merasa berkurangnya harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah swt. Seandainya mereka tergelincir melakukan dosa, maka akan putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah swt.

Dalam hal bersandar pada amal ini, termasuk juga bersandar pada ilmu, apakah ilmu lahiriyah atau ilmu batiniyah. Ilmu lahiriyah adalah ilmu dalam pengelolaan dan pengurusan suatu hal menurut kekuatan akal. Sedangkan ilmu batiniyah adalah ilmu yang menggunakan kekuatan gaib (jiwa) untuk mengungkapkan keinginan.

Dimana termasuk penggunaan ayat-ayat al Qur’an dan doa-doa. Kebanyakan orang menggantungkan keberkahan kepada ayat, doa dan usaha, sehingga mereka lupa kepada Allah swt Yang meletakkan keberkahan pada tiap sesuatu itu.

Selanjutnya, seandainya Tuhan izinkan, kejiwaan seseorang akan meningkat pada maqam yang lebih tinggi. Nyata di dalam hatinya maksud kalimat:

لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إلأ بِاللهِ
Tiada daya dan upaya kecuali datang dari Allah.”

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ [٣٧:٩٦]
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Surah as- Shaaffaat : Ayat 96)

Orang yang berada di dalam maqam ini tidak melihat kepada amalnya, walaupun banyak amal telah dilakukannya, namun hatinya tetap melihat bahwa semua perbuatannya tersebut adalah karunia Allah swt kepadanya.

Jika bukan karena taufik dan hidayah dari Allah swt, tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah swt berfirman:


… فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ [٢٧:٤٠]

“… Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (kufur akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (Surah an-Naml : Ayat 40)

Terlaksananya suatu amal menunjukkan adanya limpahan karunia Allah kepada dirinya

Ketika seseorang melakukan amal perbuatan, mereka menyadari bahwa amal tersebut hanya dapat terlaksana jika sesuai dengan kehendak Allah swt.

Oleh karena itu, terlaksananya suatu amal menunjukkan adanya limpahan karunia Allah kepada dirinya sehinga amal perbuatan tersebut dapat terlaksana. Begitu juga dengan amal perbuatan dalam ibadah, tidak ada seorang yang terdorong untuk dapat beramal ibadah kecuali dorongan itu datang dari Allah, sehingga dia mengikuti apa yang dikehendaki oleh-Nya.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا، يُدْخِلُ مَن يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا [٣١-٧٦:٣٠]

“Dan tiadalah kamu berkemauan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengatur segala perkara yang dikehendaki-Nya). Dia memasukkan siapa yang kehendaki-Nya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmat-Nya (dengan ditempatkan-Nya di dalam surga); dan (bagi) orang-orang yang zalim, Dia menyediakan untuk mereka azab siksa yang tidak terperi sakitnya.” (Surah al-Insaan : Ayat 30 – 31)

Oleh karena itu, mereka menyadari bahwa amal perbuatan seseorang tidak menjadi jaminan seseorang tersebut masuk kedalam surga Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,


لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَارَسُولَ اللهِ، قَالَ لاَ وَلاَ أَنَاْ إلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلاَ يَتَمَنَّيَنَ أَحَدُكُمْ المَوْتَ إمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإمَّا مُسِيْئاً فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ


“Beramalah kalian setepat dan secermat mungkin, sebab ketahuilah bahwa amal salah seorang diantara kalian tidak menjamin akan memasukkannya ke dalam surga”. Mereka (para sahabat) bertanya, “lalu bagaimana dengan (amal) anda, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Aku juga, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan kasih sayang-Nya, oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan jangan salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa menjadikannya bertaubat.” (HR Imam Bukhari, no. 5241; Imam Muslim, no. 5043; Imam Ahmad, no. 7271)

Segala-galanya yang ada di alam semesta ini adalah karunia Allah swt dan menjadi milik-Nya. Orang tersebut melihat adanya takdir yang telah ditentukan oleh Allah swt dan tidak terlihat olehnya adanya keberkahan perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya sendiri.

Maqam ini dinamakan maqam ‘arifin yaitu orang yang mengenal Allah swt. Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal, namun merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadah. Karena mereka sangat mengetahui bahwa amal perbuatan yang baik dan ibadah merupakan perintah Allah yang wajib dijalankan, menunjukkan sifatnya sebagai hamba, sebagaimana firmanNya,


وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ [٩:١٠٥]


“Dan Katakanlah: “Beramalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal perbuatanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Surah al Taubah : ayat 105]


مَامِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إلاَ وَ قَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الجَنَّةِ وَ النَّارِ، قَالَ فَقَلُوا يَا رَسُولَ اللهِ فَلِمَ نَعْمَلُ، قَالَ إعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا حُ

Sabda Rasulullah saw, “Tidaklah setiap jiwa dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya di surga dan di neraka”. Ali bin Abi Thalib ra. berkata, lalu para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lantas untuk apa kita beramal?’ Beliau menjawab, “Beramalah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya”, kemudian beliau membaca, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. [Surah al Lail ayat 5 – 10]” (HR Imam Ahmad, no. 587; no. 19023; Imam Muslim, no. 4786]


Ibnu Mas’ud ra. berkata, dari Rasulullah saw yang bersabda,


فَوَ الذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَي مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَهَا إلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَ إنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَي مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَهَا إلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا


Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya ada salah seorang kalian berbuat dengan amalan penghuni surga hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta, namun kitab catatan (takdir) telah mendahuluinya hingga ia mengerjakan perbuatan penghuni neraka dan akhirnya masuk neraka. Dan sesungguhnya ada salah seorang kalian melakukan amalan penghuni neraka hingga tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta, namun kitab catatan (takdir) mendahuluinya hingga ia mengerjakan amalan penghuni surga dan akhrinya ia masuk ke surga.” [HR Ibnu Majah, no. 73; Imam Ahmad, no. 3738; Imam Bukhari, no. 2969, Abu Ya’la, no. 4668]


Sahal bin Sa’ad ra. berkata,


أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَقَي هُوَ وَالْمُشْرِكُوْنَ فَاقْتَتَلُوْا فَلَمَّا مَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَي عَسكَرِهِ وَمَالَ الأَخَرُوْنَ إلَي عَسْكَرِهِمْ وَفِي أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ لَا يَدَعَ لَهُمْ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً إلَّا اتْبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسِيْفِهِ فَقِيْلَ مَا أَجْزَأَ مِنَ الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أَنَاْ صَاحِبُهُ قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَإذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيْدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ سَيْفَهُ بِالأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَذْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَي سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إلَي رَسُوْلِ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرْتَ آنِفًا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسَ ذَلِكَ فَقُلْتُ أَنَاْ لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيْدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَذْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ (الحديث)

“Nabi saw bertemu kaum musyrikin (di medan perang). Kemudian keduanya saling menyerang. Ketika Rasulullah saw bergabung dengan bala tentara mereka, di antara sahabat-sahabat beliau terdapat seseorang yang tidak meninggalkan tentara yang sendirian melainkan ia membuntutinya kemudian membunuhnya dengan pedang.

Seseorang sahabat berkata, ‘Pada hari ini, tidak ada seorang pun di antara kami yang mendapat ganjaran seperti yang didapat orang tersebut”. Rasulullah saw bersabda, “Ia termasuk penghuni neraka”.

Seseorang dari kaumnya berkata, “Aku adalah sahabatnya (akan menemani orang tersebut)”.

Sahal berkata, ‘Orang kedua tersebut pun mengikuti orang tersebut, apabila dia berhenti, orang itupun berhenti dan bilamana dia bergegas maka orang itupun bergegas bersamanya’.

Sahal melanjutkan, ‘Akhirnya orang tersebut ditemukan dalam keadaan terluka parah hingga berharap cepat mati’; karena itu, ia meletakkan pedangnya di atas tanah, sedang ujung pedang tersebut berada di antara kedua buah dadanya, kemudian ia memukulkan pedangnya dan ia bunuh diri dengannya.’

Orang kedua tersebut menemui Rasulullah saw dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah”.

Beliau saw bertanya, ‘Kenapa kamu berkata seperti itu?’ Ia menceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seseorang betul-betul mengamalkan amal perbuatan penghuni surga seperti yang diperlihatkan kepada manusia, padahal ia termasuk golongan penghuni neraka.

Sesungguhnya seseorang pasti mengamalkan amal perbuatan penghuni neraka seperti yang diperlihatkan kepada manusia padahal ia termasuk penghuni surga”.

Imam Bukhari menambahkan di riwayatnya bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu ditentukan dengan penutupannya”. [HR Imam Bukhari, no. 3881, 6117; Imam Muslim, no. 163]

Orang dalam derajat ini, yaitu para ‘arifin, akan beramal dengan sungguh-sungguh dan yang terbaik, karena mereka memahami dengan baik, bahwa amal yang mereka lakukan merupakan karunia Allah swt yang patut di syukuri dan perintah yang nantinya akan dipertanggung jawabkannya di hadapan Allah di padang mahsyar.

Orang yang masuk ke dalam lautan takdir, ridha dengan segala yang ditentukan Allah swt, akan senantiasa tenang, tidak berdukacita jika kehilangan atau ketiadaan sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atau yang memberikan pengaruh terhadap sesuatu kecuali hanya Allah swt semata.

Awal perjalanan menuju Allah swt

Di awal perjalanan menuju Allah swt, seseorang akan rajin melakukan amal menurut tuntunan syariat. Dia melihat amal perbuatannya sebagai kendaraan yang dapat membawanya mendekat (taqarrub) kepada Allah swt. Semakin rajin dia beramal semakin besarlah harapannya untuk berhasil dalam perjalanannya.

 Apabila dia sudah mencapai satu tahap, pandangan mata hatinya terhadap amal mulai berubah. Dia tidak lagi melihat amal perbuatannya sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih pada karunia Allah swt.

Dia melihat semua amal perbuatannya merupakan karunia Allah swt kepadanya dan kedekatannya dengan Allah swt juga sebagai karunia-Nya baginya.

Selanjutnya terbuka hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Tuhan adalah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Mulia, Maha Bijaksana dan Maha Sempurna dalam segala segi.

Bila sudah mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju pada Ketetapan dan Kehendak Allah swt yang meliputi segala sesuatu dalam alam semesta ini.

Seorang ‘arif : Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati

Jadilah dia seorang ‘arif yang senantiasa memandang kepada Allah swt, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan berhajat kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah swt yang faqir, tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali semua itu datang dari Penciptanya yaitu Allah swt.


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا [٣٣:٣٦]


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Surah al Ahzab : Ayat 36)


قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ [١١:٧٣]


“Para malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah’.” (Surah Hud : Ayat 73)

Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati, penulis Prof. Ir. Agus Priyono, phD ditulis ulang / di salin oleh patriapurwakarta.com

gambar : pexel.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *