Orang-Orang Curang di Sekitar Kita

orang orang curang
orang-orang curang

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (QS. al-Muthaffifîn/83:1-6)

Ada orang-orang bermental lemah yang terikat dengan dunia, orang-orang curang yang mempermainkan timbangan. Jadi orang-orang ini ingin hak nya dipenuhi tapi dia tidak mau memenuhi haknya kepada orang lain secara sempurna.

Dia ingin orang lain memenuhi hak dia secara penuh,  secara full. Tetapi dia tidak mau memenuhi kewajiban dia kepada orang lain secara full juga,  secara penuh sebagaimana seharusnya.

Orang-Orang Curang Di Sekitar Kita

Misal dia menjual barang, Seolah-olah  dia menjual barang seberat  10 Kg lalu dia atur sedemikian rupa alat ukurnya, alat timbangnya atau  alat hitungnya sehingga secara administratif, secara legal,  angka hasil pengukuran yang muncul adalah 10 Kg,  tetapi sebenarnya berat barangnya adalah 9 Kg,  Itu curang dan praktek seperti ini masih banyak terjadi dalam keseharian kita, dalam transaksi muamalah kita.

Dan tidak menutup kemungkinan praktik seperti ini muncul juga dalam bentuk yang lain. Yang dijual itu mungkin bukan barang secara fisik yang bisa diukur berat atau volume nya secara fisik,  misal nya yang dijual adalah jasa. 

Contohnya adalah, seseorang yang menjual jasa. Misal  akadnya  dia dibayar Satu juta rupiah untuk bekerja selama 8 jam.

Kemudian dia membuat sedemikian rupa secara sistem, sehingga secara administratif yang muncul adalah dia telah bekerja selama  8 jam walaupun pada kenyataan nya  dia bekerja hanya 6 jam, dan dia dibayar full  untuk 8 jam sesuai yang tercatat secara administratif.

Bedanya kalau pada jual beli barang fisik yang di utak-atik,  yang di rekayasa sedemikian rupa adalah alat timbangan nya, sehingga angka yang muncul bukanlah angka berat barang sebenarnya.

Pada contoh  kasus kedua yang diotak atik, yang direkayasa adalah administrasi nya, seolah olah dia bekerja 8 jam padahal yang sebenarnya kurang dari segitu. Ini juga perbuatan curang yang lazim terjadi dizaman sekarang.

Ada juga yang bentuknya markup harga, markup kwitansi, markup kegiatan dan lain sebagainya, ada juga yang modelnya kelebihan bayar, jika ada kelebihan bayar mereka tidak mengembalikan tetapi jika ada kekurangan bayar mereka menuntut di bayarkan kekurangannya. 

Praktek seperti ini Secara administrasi mungkin saja mereka aman dan selamat, tapi di hadapan pengadilan Allah mereka tidak akan bisa selamat, orang-orang seperti ini hidupnya tidak barokah dan akan selalu kekurangan meski harta berlimpah.

Kecurangan Sebagai Bentuk dari Pencurian

Kecurangan tersebut jelas merupakan satu bentuk praktek pencurian terhadap milik orang lain dan tidak mau bersikap adil dengan sesama. Dengan demikian, bila mengambil milik orang lain melalui takaran dan timbangan yang curang walaupun sedikit saja berakibat ancaman doa kecelakaan. Dan tentu ancaman akan lebih besar bagi siapa saja yang merampas harta dan kekayaan orang lain dalam jumlah yang lebih banyak.

Jika demikian ancaman bagi orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil kekayaan orang lain dengan paksa dan mencurinya, ia lebih pantas terkena ancaman ini.

Tentang bahaya kecurangan ini terhadap masyarakat, Syaikh ‘Athiyyah Sâlim rahimahullah mengatakan,

“Diawalinya pembukaan surat ini dengan doa kecelakaan bagi para pelaku tindakan curang dalam takaran dan timbangan itu menandakan betapa bahayanya perilaku buruk ini. Dan memang betul, hal itu merupakan perbuatan berbahaya. Karena timbangan dan takaran menjadi tumpuan roda perekonomian dunia dan asas dalam transaksi. Jika ada kecurangan di dalamnya, maka akan menimbulkan khalal (kekisruhan) dalam perekonomian, dan pada gilirannya akan mengakibatkan ikhtilâl (kegoncangan) hubungan transaksi. Ini salah satu bentuk kerusakan yang besar” 

Ajaran Islam Melarang Pencurian

Islam dengan kesempurnaan, kemuliaan dan keluhuran ajarannya, memerintahkan umatnya untuk menjalin muamalah dengan sesama atas dasar keadilan dan keridhaan. Di antaranya, dengan menyempurnakan timbangan dan takaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu [ar-Rahmân/55:9]. 

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya

[al-An’âm/6:152].

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa memenuhi takaran dan timbangan lebih utama dan lebih baik manfaat. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya

[al-Isrâ`/17:35].

Catatan Penting

Syaikh al-‘Utsaimîn rahimahullah mengingatkan, “Ayat ini meskipun berhubungan erat dengan takaran dan timbangan, hanya saja seorang buruh atau pegawai jika ia menginginkan honornya utuh, namun ia datang kerja terlambat atau pulang terlebih dahulu, ia termasuk muthaffifin yang Allâh ancam dengan kecelakaan. Sebab jika gajinya berkurang 1 riyal saja, pasti akan berkata, “Kok kurang?”. 

Beberapa Pelajaran

  • Ancaman berat bagi orang-orang curang dalam jual-beli (transaksi). 
  • Bahaya curang dalam takaran dan timbangan. 
  • Kewajiban manusia, memberikan seluruh milik orang lain yang menjadi tanggungannya. 4. Pentingnya umat memahami agama. 
  • Kewajiban menepati akad (menyempurnakan timbangan dan takaran) sudah ada dalam syariat-syariat sebelumnya. 
  • Kenekadan dalam berbuat maksiat bertolak dari tipisnya keimanan orang kepada Hari Akhir.
  • Semua orang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia di hadapan Allâh Azza wa Jalla . 
  • Setiap orang harus adil dalam seluruh ucapan dan perbuatannya.

[ patriapurwakarta.com ]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *