Keteguhan Benteng Takdir, Syarah Kitab Al Hikam

Keteguhan Benteng Takdir, Syarah Kitab Al Hikam
Keteguhan Benteng Takdir, Syarah Kitab Al Hikam

BENTENG TAKDIR : KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK MAMPU MENEMBUS DINDING TAKDIR.

Kalam Hikmat yang pertama, Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati, menyentuh tentang hakikat amal yang mengentarakan pada pengertian tentang amal lahiriyah dan amal batiniyah.

Hikmat tersebut juga mengajak kita memperhatikan amal batiniyah (suasana hati) yang mempunyai hubungan dengan amal lahiriyah yang kita lakukan.

Sebagai manusia biasa, hati kita cenderung untuk menaruh harapan dan meletakkan ketergantungan pada keberkesanan amal lahiriyah.

Sedangkan Hikmat kedua, Ahli Asbab dan Ahli Tajrid, memperjelaskan mengenainya dengan membuka pandangan kita kepada suasana asbab dan tajrid.

Bersandar kepada amal terjadi karena seseorang itu melihat pada keberkesanan sebab dalam melahirkan akibat. Ketika terbebas dari pemahaman sebab akibat, barulah seseorang itu masuk pada suasana tajrid.

Dua Hikmat yang lalu telah memberi pendidikan yang halus kepada jiwa.
Dari Hikmat tersebut, seseorang mendapat pemahaman bahwa bersandar kepada amal bukanlah jalan yang sebenarnya.

Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk menyerah dengan sepenuh hati kepada Allah swt. Sikap menyerah tanpa persiapan kejiwaan dapat menggoncangkan iman.

Agar orang yang sedang meningkat semangatnya, mereka tidak terjerumus di dalam memilih jalan, dia diberi pengertian mengenai kedudukan asbab dan tajrid.

Pemahaman tentang maqam asbab dan tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah swt dengan cara yang betul dan selamat, bukan dengan menyerah diri dengan cara membabi buta.

hikmat ketiga ini akan mengupas tentang Keteguhan Benteng Takdir

Benteng Takdir

Sedangkan Hikmat ketiga ini, Keteguhan Benteng Takdir, mengajak kita merenung pada kekuatan dinding takdir yang memagari segala sesuatu.

Ketika menjelaskan tentang ahli tajrid, kita dapati ahli tajrid melihat pada kekuasaan Tuhan yang meletakkan keberkahan kepada sesuatu sebab dan menetapkannya dalam melahirkan akibat.

Hal ini berarti bahwa semua kejadian dan segala hukum mengenai sesuatu berada dalam kehendak Allah swt. Dia yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya.

Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus atau suasana yang sesuai dengan kehendak Allah swt itu dinamakan takdir.

Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah swt. Oleh itu tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam lingkaran dinding takdir ( Benteng Takdir)

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ [٥٤:٥٣]

“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Surah al-Qamar : ayat 53)


يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ [٣٢:٥]

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (Surah as-Sajdah : ayat 5)


وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿١١: ١٢٣﴾

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Surah Huud : ayat 123)

Manusia terhijab dari memandang pada takdir karena memahami sebab akibat.

Keinginan seseorang menjadi alat sebab akibat yang paling berpengaruh adalah menghijab pandangan hati dibandingkan dengan melihat pada takdir.

Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal fikiran dan usaha telah menutupi hati dari melihat pada kekuasaan, aturan dan urusan Tuhan.

Hijab keinginan tersebut jika disimpulkan adalah bahwa ia dapat dianggap sebagai hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat.

Akal menjadi tentara nafsu, menimbang, merencanakan dan mengadakan usaha dalam mensukseskan apa yang dicetuskan oleh nafsu.

Jika nafsu menginginkan sesuatu yang baik, akal bergerak menuju pada kebaikan itu. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang buruk, akal juga akan bergerak menuju pada keburukan.

Dalam banyak hal, akal tunduk pada perintah nafsu, bukan menjadi penasehat nafsu. Oleh sebab itulah di dalam menundukkan nafsu tidak boleh meminta pertolongan kepada akal.

Dalam proses memperoleh penyerahan secara menyeluruh pada Allah swt, terlebih dahulu akal dan nafsu harus ditundukkan pada kekuatan takdir.

Akal mesti mengakui kelemahannya dalam membuka simpul takdir. Nafsu mesti menerima hakikat kelemahan akal dalam perkara tersebut dan bersama-sama ikut tunduk.

Bila nafsu dan akal sudah tunduk, barulah hati akan tunduk beriman dengan sebenar-benarnya kepada takdir.

Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara total kepada Allah swt, berdasarkan ilmu dan bukan menyerah kepada kejahilan. Orang yang jahil tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan benar dan baik kepada Allah swt karena dibalik kejahilannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk memunculkan keraguan terhadap Allah swt.

Ruhani orang yang jahil terhadap hakikat takdir, masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahwa makhluk dapat mendatangkan pengaruh dalam kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacaukan jiwanya.

Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Seandainya dia memahami hukum dan peraturan Tuhan dalam perkara takdir, tentu dia dapat bertahan dengan tuntunan iman.

Akal, Nafsu dan Takdir

Hadis menceritakan tentang takdir:

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw,


يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِي مَا الإيْمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ (الحديث)

“Wahai Rasulullah, apakah iman?” Rasulullah saw bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Dan engkau beriman dengan Qadar (takdir) baiknya dan buruknya”. (HR Imam Muslim, no. 9; Abu Daud, no. 4075)

Mata kita sering keliru dalam memandang kepada takdir yang terjadi. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar.

Kita cenderung merasakan bahwa seolah-olah Allah swt hanya menentukan yang dasar-dasar saja sementara yang halus-halus ditentukan-Nya kemudian, yaitu seolah-olah Dia Melihat dan Mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi, barulah Dia membuat keputusan.

Kita seolah-olah menganggap bahwa jika kita berjuang dengan semangat yang gigih, hal tersebut dapat mengubah hal dasar yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati dengan kita, maka Dia pun membuat ketentuan baru supaya terlaksana takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita.

Kita merasakan bahwa keinginan dan kehendak kita berada di depan, sementara Keinginan dan Kehendak Allah swt mengikuti di belakang.

Anggapan dan perasaan yang demikian dapat membawa pada kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita meletakkan bahwa diri kita pada kedudukan Tuhan sedangkan Allah swt kita letakkan pada kedudukan hamba yang menurut telunjuk keinginan kita, seolah-olah kita lebih pandai dan lebih mampu daripada Allah swt.

Untuk menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan yang besar tersebut, kita sangat perlu memahami makna sunnatullah atau ketentuan Allah swt.

Sunatullah dan Benteng Takdir

Segala kejadian terjadi menurut ketentuan dan kehendak Allah swt. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Ilmu Allah swt meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang diperlihatkan secara lahiriyah dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.


مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [٥٧:٢٢]

“Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.“ (Surah al-Hadiid : Ayat 22)


تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٦٧:١]

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surah al-Mulk : Ayat 1)


وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ [٨٧:٣]

“Dan Yang telah mengatur (keadaan makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayah petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya).” (Surah al-A’laa : Ayat 3)


وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ [٥٤:١٢]

“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (Surah al-Qamar : Ayat 12)

Segala perkara dan peristiwa, tidak perduli apa istilah yang digunakan, adalah termasuk dalam ketentuan Allah swt.

Istilah yang kita gunakan seperti perjuangan, ikhtiar, doa, kekeramatan, mukjizat dan lain-lain semuanya adalah ketentuan Allah swt. Pagar takdir telah mengelilingi segala-galanya dan tidak ada sebesar zarah pun yang mampu menembus benteng takdir yang Maha teguh.

Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan perjuangan dan ikhtiar tersebut telah ada dalam benteng takdir. Tidak berdoa seseorang yang berdoa melainkan ketika berdoa itu adalah takdir untuknya yang sesuai dengan ketentuan Allah swt untuknya.

Hal yang didoakan juga tidak lari dari ketentuan Allah swt. Tidak terjadi kekeramatan dan mukjizat melainkan kekeramatan dan mukjizat itu adalah takdir yang tidak menyimpang dari kehendak Allah swt.


لِّكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُّسْتَقِيمٍ [٢٢:٦٧]

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (Surah al-Hajj : ayat 67)


… يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ … [٣:١٥٤]

“… Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”…” (Surah Ali-Imran : ayat 154)

Tidak menghirup satu nafas atau berdenyut satu nadi pun melainkan ia adalah takdir yang menunjukkan urusan Allah swt pada azali.


بِاللهِ، مَعَ اللهِ، إلَي اللهِ

“Kami datang dari Allah, hidup bersama ketentuan Allah dan kepada Allah kami kembali.”

Segala sesuatu datangnya dari Allah swt atau dengan kata lain, Dia yang mengadakan ketentuan tanpa campurtangan siapa pun. Segala sesuatu kembali kepada-Nya karena Dialah yang memastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa siapa pun mampu menghalangi urusan-Nya.


لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ [٣:١٢٨]

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Surah Ali-Imran : ayat 128)

Apabila sudah difahami bahwa usaha, ikhtiar, menyerah diri dan segala-galanya adalah takdir menurut ketentuan Allah swt, maka seseorang tidak lagi merasa bingung apakah akan berikhtiar atau menyerah diri.

Ikhtiar dan Berserah diri

Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam benteng takdir. Jika seseorang menyadari maqamnya apakah dalam asbab atau tajrid maka dia hanya perlu berbuat sesuai dengan maqamnya.

Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apa saja hasil yang lahir dari usahanya diterimanya dengan senang hati karena dia tahu hasil itu juga takdir yang dikehendaki oleh Allah swt.

Jika hasilnya baik dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah swt. Jika hasilnya tidak baik atau ada ketentuan tidak baik untuknya, maka niscaya tidak mungkin dia mendapat kebaikan.

Jika hasil yang buruk sampai kepadanya dia akan bersabar karena dia tahu bahwa yang datang kepadanya itu adalah menurut ketentuan Allah, bukan tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya.

Walaupun hasil yang datang kepadanya tidak sesuai dengan seleranya, tetapi usaha baik yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkahan oleh Allah swt, seandainya dia bersabar dan rela dengan apa saja takdir yang telah menimpanya tersebut.

Sedangkan ahli tajrid, mereka akan ridha dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah swt. Dia tidak harus kecewa jika terjadi kekurangan pada rezekinya atau kesusahan menimpanya.

Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan yang telah ditentukan oleh Allah swt baginya.

Rezeki yang sampai kepadanya adalah juga merupakan ketentuan Allah swt. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan, maka hal tersebut juga masih berada di dalam pagar takdir yang ditentukan oleh Allah swt.

Begitu juga jika terjadi keutamaan dan kekeramatan pada dirinya, dia harus melihat itu sebagai takdir yang telah ditetapkan oleh Allah swt baginya.


وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ [٣:١٦٦]

“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (Surah Ali-Imran : ayat 166)


قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [٣٣:١٧]

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (Surah al-Ahzaab : ayat 17)

… يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ [٣:١٥٤]

“… mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Surah Ali-Imran : ayat 154)

Rasulullah saw bersabda,


إذَا قَضَي اللهُ لِعَبْدٍ أَنْ يَمُوتَ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ إلَيهَا حَاجَةً، أَوْ قَالَ بِهَا حَاجَةً (الحديث)

“Apabila Allah telah menetapkan kematian seorang hamba di suatu negeri, maka Allah jadikan dia mempunyai keperluan kepadanya, atau ada keperluan di dalamnya,” [HR at-Tirmidzi, no. 2073; Imam Ahmad, no. 20980]

Persoalan takdir berkaitan rapat dengan persoalan hakikat.

Hakikat membawa pandangan manusia dari yang banyak kepada yang satu. Perhatikan pada sebiji benih kacang. Setelah ditanam benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, mengeluarkan beberapa buah kacang.

Selanjutnya buah kacang tersebut dijadikan benih untuk menumbuhkan pohon-pohon kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang berawal dari satu biji benih menjadi jutaan kacang.

Kacang yang sejuta tidak ada bedanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu bukan saja mempunyai kemampuan untuk menjadi sebatang pohoh kacang, bahkan mampu mengeluarkan semua generasi kacang hingga hari kiamat.

Ia hanya bisa mengeluarkan kacang, bukan benda lain. Kajian akal dapat mengakui bahwa semua kacang mempunyai dzat yang sama, yaitu dzat kacang.

Dzat kacang pada benih pertama, sama dengan dzat kacang yang ke satu juta bahkan dzat tersebut adalah dzat yang sama atau dzat yang satu.

Dzat kacang yang satu tersebut “bergerak” pada semua kacang, memastikan dimana kacang akan menjadi kacang, tidak menjadi tanaman lain. Walaupun diakui bahwa kewujudan dzat kacang yang mengendalikan pertumbuhan kacang, namun dzat kacang tersebut tidak mungkin ditemui di kacang yang manapun.

Dzat tersebut tidak berbentuk dan tidak mendiami kacang yang mana saja, tetapi tidak terpisah dengan kacang yang mana pun juga. Tanpa dzat tersebut, tidak mungkin ada kewujudan kacang. Dzat kacang itu dinamakan “Hakikat Kacang”.

Ia adalah suasana ketuhanan yang menghendaki dan mengendalikan seluruh pertumbuhan kacang dari permulaan sampai penghabisan, sampai ke hari kiamat. Hakikat Kacang inilah suasana kehendak Allah swt yang telah Dia tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa saja yang dikuasai oleh Hakikat Kacang tidak ada pilihan lain kecuali menjadi kacang.

Hakikat Manusia

Sedangkan suasana kehendak Allah swt yang mengatur dan mengendalikan kewujudan keturunan manusia dinamakan “Hakikat Manusia” atau “Hakikat Insan”.

Allah swt telah menciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam as. menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam as. itu telah disimpan bakat dan kemampuan untuk melahirkan semua keturunan manusia sampai hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.

Pada Hakikat Manusia itu ada hakikat yang menguasai satu individu manusia dan hubungkaitnya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali.

Suasana kehendak Allah swt atau hakikat itu menguasai roh yang berkaitan dengannya. Roh bekerja memperlihatkan segala informasi yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan urusan Allah swt yaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah swt.


وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [١٧:٨٥]

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Surah Al-Isra’ : Ayat 85)

Kehendak Allah swt dalam menguasai roh dan menarik roh untuk memperlihatkan ketentuan-Nya yang berada di zaman azali, yaitu sebelum langit dan bumi diciptakan. Allah swt telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah swt.

Benteng Takdir : Segala sesuatu dikendalikan oleh hakikat yang ada pada sisi Allah swt

Segala sesuatu dikendalikan oleh hakikat yang ada pada sisi Allah swt. Unta tidak bisa meminta menjadi kambing. Beruk tidak bisa meminta menjadi manusia. Manusia tidak bisa meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah swt.


سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا [١٧:٧٧]

“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.“ (Surah al-Isra’ : Ayat 77)

Rasulullah saw bersabda,


كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَي الْمَاءِ (الحديث)

“Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” Rasul saw menambahkan, “Dan Arsy Allah itu berada di atas air”. (HR Imam Muslim, no. 4797; Imam at Tirmidzi, no. 2082; Imam Ahmad, no. 6291)

Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah saw menjelaskan,


احْتَجَ آدَمُ وَمُوسَي عَلَيْهِمَا السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمَا فَحَجَّ آدَمُ مُوسَي قَالَ مُوْسَي أَنْتَ آدَمُ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَأَسْكَنَكَ فِي جَنَّتِهِ ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيْئَتِكَ إلَي الأَرْضِ فَقَالَ آدَمُ أَنْتَ مُوْسَي الَّذِي اصْطَفَاكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلَامِهِ وَأَعْطَاكَ الاَلْوَاحَ فِيْهَا تِبْيَانُ كُلِّ شَيْئٍ وَقَرَّبَكَ نَجِيًا فَبِكُمْ وَجَدْتَ اللهَ كَتَبَ التَّوْرَاتَ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ قَالَ مُوْسَي بِأَرْبَعِيْنَ عَامًا قَالَ آدَمُ فَهَلْ وَجَدْتَ فِيْهَا{وَعَصَي آدَمَ رَبَّهُ فَغَوَي} قَالَ نَعَمْ قَالَ أَفَتَلُوْمُنِي عَلَي أَنْ عَمِلْتُ عَمَلًا كَتَبَهُ اللهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَجَّ آدَمُ مُوْسَي (الحديث)

“Adam dan Musa as. pernah berdebat di sisi Allah swt. Namun akhirnya Adam as. dapat mengalahkan Musa as. Musa berkata, ‘Kamulah Adam yang telah diciptakan oleh Allah dengan kekuasaan-Nya. Kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam dirimu, setelah itu, Allah memerintahkan semua Malaikat untuk bersujud kepadamu dan Dia menempatkanmu di surga-Nya, tetapi kemudian kamu membuat manusia turun ke bumi karena kesalahanmu.’

Adam menjawab, ‘Kamulah Musa yang telah dipilih Allah dengan risalah dan firman-Nya. Allah juga telah memberimu beberapa lembaran yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu dan mendekatkanmu untuk menerima firman-Nya.

Berapa tahunkah Allah telah menulis kitab Taurat sebelum aku diciptakan?’ Musa menjawab, ‘Empat puluh tahun.’ Adam bertanya lagi, ‘Apakah kamu dapatkan, di dalam kitab Taurat, ayat yang berbunyi: ‘..dan durhakalah Adam kepada Tuhannya serta sesatlah ia. (Thaha : ayat 121)’

Musa menjawab, ‘Ya.’ Adam bertanya lagi, ‘Mengapa kamu mencelaku karena suatu perbuatan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla empat puluh tahun sebelum Allah menciptakanku?’

Rasulullah saw bersabda, ‘Akhirnya Adam dapat memberikan jawaban kepada Musa.” (HR Imam Muslim, no. 4795; Imam Bukhari, no. 3157).


Keteguhan Benteng Takdir Syarah Kitab Al Hikam, Penulis Prof. Ir Agus Priyono, phD di posting ulang oleh patriapurwarta.com 

foto from :
https://unsplash.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *