Kekuatan Doa Dalam Keberhasilan Perjuangan

Kekuatan Doa :Tidak sedikit orang yang tidak memposisikan doa sebagai kekuatan dalam kehidupannya bahkan didalam perjuangannya, padahal kekuatan doa dalam perjuangan menduduki posisi yang sangat menentukan karena segala sesuatu ada dalam genggaman Allah SWT.

Didalam Hadits qudsi Allah berfirman :

ﺃﻧﺎ ﻋﻨﺪ ﻇﻦ ﻋﺒﺪﻱ ﺑﻲ, ﻭﺃﻧﺎ ﻣﻌﻪ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎﻧﻲ

Saya (Allah) ada pada sangkaan hambaku padaKU dan Saya selalu bersamanya ketika dia berdoa kepadaKU. HR Bukhari, Muslim dan Attirmidzi dari Abi Hurairah.

Jika kita perhatikan kata kata ; ﻭﺃﻧﺎ ﻣﻌﻪ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎﻧﻲ menunjukkan betapa dekatnya Allah kepada seseorang yg berdo’a kepadaNYA.

Sesungguhnya para sahabat telah mempraktekkan doa untuk kemenangan Islam ini; bersamaan dengan itu mereka maju ke medan perang. Mereka serius berdoa dengan segala ketundukan dalam menjalankan proyek perjuangan untuk kemenangan agama Allah.

Karenanya sebelum berangkat perang, mereka diingatkan bahwa sebab utama kemenangan adalah doa. Penyempurnanya adalah perjuangan, amal, dan personel para pejuang. Kemenangan bukan hanya dengan doa saja sebagaimana pula tidak dengan kekuatan fisik semata.

Tidak pula ditentukan oleh banyaknya jumlah personelnya. Sesungguhnya kemenangan bisa diraih dengan menggabungkan semua itu dan tidak memisahkan sebagiannya dari yang lain.

Kekuatan Doa Dalam Perjuangan

Allah telah mengisahkan tentang Thaluth dan pasukannya saat pasukan Iman berjumlah lebih sedikit ini akan menghadapi pasukan Jalut yang berjumlah lebih besar, mereka berdoa:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Maka mereka berhasil mengalahkan dan menghancurkan tentara Jalut dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebab-sebab yang mereka usahakan,

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut.” (QS. Al-Baqarah: 251)

Atau kisah pada perang Badar tepatnya pada malam peperangan, di mana para sahabat tertidur kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau tidak tidur di malam itu. Beliau shalat di bawah batang pohon dan banyak berdoa di sujudnya “Ya Hayyu Ya Qayyum,” beliau mengulang-ulangnya  dengan meminta pertolongan kepada Allah. Kemudian saat pagi tiba dan terlihatlah pasukan Quraisy, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa,

Ya Allah, Inilah Quraisy, mereka datang dengan segala kesombongan dan kebanggan mereka. Mereka menantang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kurniakan kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku . Ya Allah, binasakanlah mereka pada pagi ini.” (Sirah Ibnu Hisyam: 3/164)

Beliau terus menerus meminta pertolongan dan berdoa kepada Allah sehingga jatuhlah kain surban dari kedua pundaknya. Abu Bakar menghampiri dan meletakkan kembali kain surban itu di pundaknya. Abu Bakar terus berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu berkata:

Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikan-Nya kepadamu.

Ringkasnya, doa dan memohon pertolongan kepada Allah dalam perjuangan harus menyatu dalam diri para pejuang. Doa menjadi senjata utama yang tak boleh mereka tinggalkan. Begitupun dalam menghadapi sebuah bencana atau persoalan sulit yang kita hadapi maka doa selalu menyertai langkah usaha kita.

Doa pulalah yang selalu menentramkan hati dan membangun ketenangan jiwa bagi para penerus risalah kenabian.

[ patriapurwakarta.com ]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *