Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan

Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan
foto unplash

KECENDERUNGAN HATI DALAM MENGAJUKAN PERMINTAAN

PERMINTAANMU DARI-NYA MENUNJUKKAN KURANG PERCAYAMU KEPADA-NYA. PERMINTAANMU KEPADA-NYA (AGAR DIA MENDEKATKAN DIRIMU) MENUNJUKKAN KAMU TIDAK MELIHAT-NYA. PERMINTAANMU KEPADA LAINNYA MENUNJUKKAN TIDAK KURANGNYA RASA MALU TERHADAP-NYA. PERMINTAANMU DARI LAINNYA MENUNJUKKAN JAUHNYA KAMU DARI-NYA.

Hikmat 29  (dari serial Haqiqah Sufiyyah, syarah kitab al hikam) ini adalah seperti alat untuk menilai diri sendiri. Perhatikan kecenderungan kita dalam mengajukan permintaan.

Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan dari lain-NYa

Jika kita cenderung meminta dari lain-Nya, kita ajukan permintaan kepada sesama makhluk, itu tanda hati kita berpaling jauh dari Allah swt. Di dalam hati kita, seolah-olah makhluk memiliki kemampuan penentu sehingga hati kita tidak dapat melihat pada kekuasaan Tuhan.

Cermin hati kita dibalut oleh awan gelap yang mengandung gambar-gambar benda alam, tuntutan syahwat, permainan hawa nafsu yang melalaikan dan tumpukan dosa yang tidak dibersihkan dengan taubat.

Hati yang mengalami keadaan begini dinamakan nafsu amarah.

Amarah bukan saja menyerang orang jahil, orang alim dan ahli ibadah juga bisa menerima serangannya dan mungkin kalah kepadanya. Agar orang alim tidak terpedaya oleh ilmunya dan ahli ibadah tidak terpedaya oleh amalnya, perhatikan tempat jatuhnya permintaan.

Jika warna-warni keduniaan seperti harta, pangkat dan kemuliaan yang menjadi tuntutannya dan kesungguhan usaha dan ikhtiarnya ditujukan semata-mata kepada manusia dan alat dalam mendapatkan keperluannya, itu menjadi tanda bahwa hatinya berpaling jauh dari Allah swt.

Perbaiki wajah hati agar ia tetap menghadap kepada Allah swt. Bila wajah hati menghadap kepada Wajah Allah swt, dapatlah mata hati melihat bahwa Allah swt saja yang berkuasa sementara makhluk hanyalah wadah tempat lahiriyah dari pengaruh kekuasaan-Nya.

Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan kepada lain-Nya

Sedangkan golongan kedua meminta kepada lain-Nya, yaitu walaupun dia memohon kepada Allah swt, tetapi yang dipinta adalah sesuatu selain Allah swt.

Dia mungkin meminta agar Allah swt memberi karunia kepadanya harta, pangkat dan kemuliaan di sisi makhluk. Permintaannya sama seperti golongan yang pertama cuma dia meminta kepada Allah swt tidak kepada makhluk.

Orang dari golongan ini yang lebih baik sedikit ialah yang memohon kepada Allah swt agar diberi karunia faedah-faedah akhirat seperti pahala, surga dan juga keberkahan. Permintaan yang berupa faedah duniawi dan ukhrawi menunjukkan sikap kurang malunya seseorang hamba itu terhadap Allah swt.

Orang yang seperti ini hanya melihat kepada nikmat tetapi tidak mau mengenal Pemberi nikmat.

Perhatikan kepada diri kita, apakah kita asyik merengek meminta itu dan ini dari Allah swt. Jika sifat demikian ada pada kita, itu tandanya hati kita masih keras dan perlu dilembutkan dengan dzikrullah dan amal ibadah agar lahirlah sifat malu terhadap Allah swt Yang Maha Lemah-lembut dan Maha Sopan Santun.

Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan kepad-Nya

Ada juga orang yang membuat permintaan kepada-Nya, yaitu meminta agar dia didekatkan kepada-Nya. Dia merasakan dirinya jauh dari Allah swt. Inilah orang yang mata hatinya tertutup, tidak dapat melihat bahwa Allah swt lebih dekat kepadanya dari urat lehernya sendiri, Allah swt senantiasa bersamanya walau di mana dia berada.

Bagaimana melihat Allah swt lebih dekat dari urat leher dan Allah swt senantiasa bersama walau di mana kita berada, tidak dapat diuraikan. Ia bukanlah penglihatan mata tetapi penglihatan rasa atau penglihatan mata hati. Perhatikanlah, seandainya kita cenderung meminta agar didekatkan kepada Allah swt itu tandanya mata hati kita masih kelabu, maka sucikanlah hati dengan shalat, berdzikir dan ibadah-ibadah lain.

Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan dari-Nya

Golongan keempat adalah yang mengajukan permintaan dari-Nya. Orang ini mengakui bahwa Allah swt saja yang memiliki segala-galanya. Hanya Allah swt yang berhak memberi apa saja milik-Nya.

Permintaan seperti ini menunjukkan kurang percayanya kepada Allah ar-Rahman, Yang Maha Pemurah dan al-Karim, Yang Memberi tanpa diminta. Bukankah ketika kita di dalam kandungan ibu kita belum pandai meminta tetapi Allah swt telah memberi kepada kita sebaik-baik pemberian?

Allah swt yang telah memberi ketika kita belum mengerti bagaimana meminta, Dia jugalah Tuhan kita sekarang ini dan sifat Pemurah-Nya yang sekarang ini seperti yang dahulu itu juga. Ketika kita belum pandai meminta kita mempercayai-Nya sepenuh hati mengapa bila kita sudah pandai meminta kita menjadi ragu-ragu terhadap kemurahan-Nya.

Perhatikanlah, jika kita masih meminta-minta itu tandanya belum bulat penyerahan kita kepada-Nya. Penting bagi orang yang melatihkan dirinya untuk dipersiapkan menemui Tuhan membulatkan penyerahan kepada-Nya tanpa keraguan sedikit pun.

Membulatkan Penyerahan kepada-Nya

Ketika menjelaskan Hikmat 28 (Pembimbing Jalan Hakiki) telah diuraikan keadaan orang yang telah memperoleh hal yang berhubungan dengan hakikat.

Kesempatan mengalami hakikat bukanlah akhir pencapaian. Seseorang haruslah mencapai maqam keteguhan hati (istiqamah) sebelum mencapai maqam kewalian. Pada maqam kewalian seorang hamba dikaruniakan penjagaan dan perlindungan-Nya.

Orang yang belum sampai pada keteguhan hati tidak lepas dari mengajukan permintaan kepada Allah swt. Permintaannya bukan lagi berbentuk duniawi atau ukhrawi, tetapi yang dimintanya ialah keteguhan hati, penjagaan dan pelindungan-Nya.

Permintaan orang yang berada pada tahapan ini menunjukkan dia belum bebas sepenuhnya dari sifat-sifat kemanusiaan yaitu dia belum mencapai fana hakiki. Orang yang berada pada tahapan ini haruslah berhati- hati dengan pencapaiannya. Janganlah terpedaya dengan perolehan makrifat karena makrifat itu juga merupakan ujian.

Aisyah ra. berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau memperbanyak membaca;

‘Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu’

(HR Imam Ahmad 24938; Imam at Tirmidzi, no. 3444; Imam Ibnu Majah, no. 3824)

Ketahuilah jika seseorang mendatangi Allah swt berbekalkan amal, maka Allah swt menyambutnya dengan perhitungan. Jika amalnya dihisab dengan teliti niscaya tidak ada satu pun yang layak dipersembahkan kepada Allah swt.

Jika dia mendatangi-Nya dengan ilmu pengetahuan maka Allah swt menyambutnya dengan tuntunan. Ilmunya tidak mampu menyatakan kebenaran yang hakiki.

Jika dia mendatangi-Nya dengan makrifat maka Allah swt menyambutnya dengan hujah. Dia tidak akan dapat memperkenalkan Allah swt.

Oleh itu singkirkan tuntutan dan pilihan agar Allah swt tidak membuat tuntutan kepada kita. Lepaskan ilmu kita, amal kita, makrifat kita, sifat kita, nama kita dan segala-galanya agar kita menemui Allah swt seorang diri tanpa sebarang bekal.

Pertemuan Ubudiyah dengan Rububiyah

Jika mau mencapai keadaan ini ikhlaskan hati untuk semua amal perbuatan kita. Perbaiki niat dan bersabar tanpa mengeluh atau membuat tuntutan. Kemudian naik kepada ridha dengan hukum-Nya. Insya Allah kita akan menemui-Nya, yaitu pertemuan ubudiyah dengan Rububiyah.

Suasana yang disebutkan di atas telah digambarkan oleh Rasulullah saw dengan sabda baginda saw yang bermaksud:

“Tidak ada amal perbuatan anak Adam yang melepaskan dirinya dari azab Allah swt melebihi amalan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla’. (HR Imam at Tirmidzi, no. 3299; Imam Ahmad, no. 20713, no. 21064, no. 26149; Imam Malik, no. 441, Imam Ibnu Majah, no. 3780)

Baginda saw juga bersabda yang bermaksud:

“Berfirman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Barangsiapa menghabiskan waktunya berdzikir kepada-Ku, tanpa meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan kepadanya yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada mereka yang meminta”.

Dzikir yang sesungguhnya adalah penyerahan secara menyeluruh kepada Allah swt dalam segala hal agama, baik mengenai dunia maupun mengenai akhirat.

Shalatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya hanya karena Allah swt semata-mata. Dia melaksanakan shalat, beribadah dan melakukan sesuatu pekerjaan atau perbuatan karena mengabdikan diri kepada Allah swt.

Seandainya Allah swt tidak menjadikan surga dan neraka, juga tidak mengadakan dosa dan pahala, maka shalatnya, ibadahnya, pekerjaannya dan perbuatannya tetap juga serupa. Mutu kerja dimana dia menerima upah dan kerja dimana dia tidak menerima upah adalah sama. Hatinya tidak cenderung untuk memperhatikan upah karena apa saja yang dia lakukan adalah karena Allah swt.

Hatinya bukan saja tidak memperhatikan upah dari manusia, bahkan ia juga tidak mengharapkan apa-apa balasan dari Allah swt. Kekuatan untuk mengingat Allah swt dan berserah diri kepada-Nya merupakan “upah” yang sangat agung, tidak perlu lagi menuntut upah yang lain.

Hamba yang dzikirnya sudah larut ke dalam penyerahan, segala urusan hidupnya diurus oleh Tuhannya. Dia adalah umpama bayi yang baru lahir, senantiasa dipelihara, dijaga dan dilindungi oleh ibunya.

Pemeliharaan, penjagaan dan perlindungan Allah swt melebihi apa saja yang mampu dikeluarkan oleh makhluk. Hamba diamana Allah swt masukkan ke dalam daerah pemeliharaan, penjagaan dan perlindungan-Nya itu dipanggil wali Allah, yaitu hamba yang dipelihara, dijaga dan dilindungi oleh Allah swt dari lupa kepada-Nya, durhaka kepada-Nya, hilang ketergantungan kepada-Nya dan juga dari gangguan makhluk-Nya.

Permintaan dan Kedudukan, syarah kitab al hikam, di tulis ulang oleh patriapurwakarta.com

Summary
Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan
Article Name
Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan
Description
Kecenderungan Hati Dalam Mengajukan Permintaan menggambarkan bagaimana kedudukan mu terhadap-Nya, simak penjelasan lengkap nya
Author
Publisher Name
patriapurwakarta.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *