Pelajaran kepemimpinan dari Jenderal Lori Robinson

Jenderal Lori Robinson Pengendali F-15 Angkatan Udara Amerika
Gambar oleh Military_Material dari Pixabay

Kemampuan Jenderal Lori Robinson untuk memimpin bukanlah tumbuh karena dia yang paling pintar atau paling manis. Dia adalah pemimpin hebat karena dia mengerti bahwa kepercayaan dari suatu organisasi tidak didapatkan dengan cara mengesankan semua orang. Tetapi dari upaya melayani orang-orang yang melayaninya.

Lori Robinson

“Rambo 2”. Kata suara di radio Brigadir Jenderal Jumper, memanggil dirinya dengan nama panggilan radionya. “Kelompok mu 180, 25 mil, mendekat dengan cepat.”

“Kontak radar Barnyard, “Jawab Rambo 2, melaporakan bahwa dia telah menangkap kelompok musuh di radarnya sendiri.

John Jumper, seorang Jenderal bintang satu, adalah seorang pilot F-15 yang berpengalaman dengan ribuan jam terbang dan lebih dari seribu jam tempur. Dilihat dari standar manapun, dia adalah salah satu yang terbaik. Dilahirkan di Paris, dia telah menikmati karier yang gemilang. Dia telah menerbangkan segala sesuatu yang dimiliki oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, mulai dari pesawat angkut barang sampai jet tempur.

Cemerlang dan dipuja, komandan dari sayap tempurnya sendiri. Dia adalah wujud dari apa artinya menjadi pilot pesawat tempur. Pintar dan percaya diri tetapi pada hari itu, reaksi Jumper tidak selaras dengan situasi yang dia hadapi, Pada jarak 25 mil, seharusnya dia menembakkan senjatanya atau melakukan gerakan menyerang. Khawatir bahwa Jumper mengamati kontak yang salah di radarnya, Kapten Lori Robinson dengan tenang mengulang apa yang bisa dia lihat dari jarak jauh.

“Rambo 2 konfirmasi kontak radar kelompok anda sekarang 190 dua puluh mil.”

Sebagai pengendali senjata udara yang memperhatikan aksi itu layar radarnya di pusat perintah dan kendali terdekat, Lori Robinson bertanggung jawab mengarahkan pilot kearah pesawat musuh agar pilot bisa menggunakan senjatanya untuk menyerang dan menghancurkan mereka. Bukan seperti pengendali lalu lintas udara, yang pekerjaannya mengurai lalu lintas udara, pengendali senjata justru harus mendekatkan pesawat. Dari sudut pandang layar radar, hanya pengendali senjata yang memiliki gambaran besar, karena sistem navigasi di pesawat pilot hanya menunjukkan apa yang ada persis di depan pesawat.

Tetapi Kapten Robinson memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekedar memandangi layar radar, sesuatu yang lebih bermakna daripada hanya menjadi mata dan telinga bagi para pilot yang meluncur ke dalam bahaya dengan kecepatan 1500 mil per jam.

Dia memandang dirinya bertanggung jawab untuk melapangkan jalan bagi para pilot yang diasuhnya agar mereka bisa melakukan apa yang perlu mereka lakukan. Agar mereka bisa percaya diri dalam mendorong diri dan pesawat mereka lebih jauh lagi. Dan untuk alasan inilah, dia luar biasa bagus dalam pekerjaannya.

Robinson tidak bisa melakukan kesalahan. Jika melakukan kesalahan, dia akan kehilangan kepercayaan dari pilot-pilotnya dan lebih parah lagi, mereka akan kehilangan kepercayaan pada diri mereka sendiri.

Kita tentu tahu bahwa kepercayaan dirilah yang membuat pilot pesawat tempur sangat bagus dalam tugasnya.

NIlai Kepercayaan

Lalu itu terjadi. Kapten Robinson bisa mengetahui dari suara tenang Jumper di radio bahwa Jumper tidak menyadari ancaman yang mendekatinya. Di hari yang cerah, 20.000 kaki di atas gurun, alarm berteriak di jet tempur ultra-modern senilah 25 juta dolar yang di piloti Jumper. Dia mengangkat kepalanya dari layar radar dan melihat musuh mendekatinya. “BREAK RIGHT! BREAK RIGHT!” teriaknya di radionya. Pada 9 Oktober 1988, Brigadir Jenderal John P. Jumper terbunuh.

Kapten Robinson menunggu. Ada ketenangan yang aneh. Tak lama kemudian Jumper bergegas memasuki ruang rapat di Markas Angkatan Udara Nellis. “Kau membuatku mati!” teriaknya kepada Kapten Robinson.

Berlokasi di gurun Nevada, Nellis adalah markas bagi Sekolah Senajta Tempur Angkatan Udara, dan pada hari itu Jenderal John Jumper mendapat serangan langsung dari jet tempur Angkatan Udara Amerika Serikat lain yang berperan sebagai musuh.

“Pak, itu bukan kesalahanku,” jawab kapten Robinson dengan tenang. “Coba periksa rekaman videonya. Anda akan lihat sendiri.” Jenderal Jumper, yang saat itu adalah Komandan Sayap ke-57, lulusan USAF Fighter Weapon School dan mantan instruktur di Nellis, rutin mengevaluasi setiap perincian dari setiap misi latihan yang dia terbangkan.Para pilot sering mengandalkan video rekaman untuk belajar dari latihan mereka. Video tidak bisa berbohong.

Begitu pula pada hari itu, video mengungkapkan bahwa kesalahan terletak pada dirinya, bukan pada Kapten Robinson. Ini adalah kesalahan klasik. Dia lupa bahwa dia adalah bagian dari tim. Dia lupa bahwa yang telah membuatnya hebat di pekerjaannya bukanlah hanya kemampuannya. Jumper menjadi salah satu yang terbaik karena ada orang-orang lain yang menjaganya. Sebuah infrastruktur sangat besar yang terdiri atas orang-orang yang tidak bisa dilihatnya.

Sudah jelas Jenderal Jumper telah diberi peralatan terbaik, teknologi terbaik dan pelatihan terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Tetapi para mekanik, guru, rekan-rekan pilot, budaya Angkatan Udara dan Kapten Robinson itulah yang memastikan bahwa dia dapat mempercayai dirinya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Pelajaran Berharga

Jenderal Jumper lupa MENGAPA dia bisa sangat bagus dan membuat keputusan sesaat yang bisa menghabisi hidupnya. Tetapi justru inilah gunanya pelatihan untuk menyerap pelajaran-pelajaran ini. Sekita enam belas tahun setelah pelajarannya di gurun Nevada itu, Jenderal Jumper memasuki hal-hal besar. Sekarang dia adalah pensiunan Jenderal bintang empat, dia bertugas sebagai kepala staf Angkatan Udara Amerika Serikat dari tahun 2001 sampai 2005, jabata tertinggi di Angkatan Udara, bertanggung jawab untuk penyelenggaraan, pelatihan dan peralatan dari hampir 700.000 pasukan dinas-aktif, perlindungan, cadangan dan sipil yang bertugas di Amerika Serikat dan luar negeri. Sebagai anggota Gabungan Kepala Staf, bersama denagn kepala staf lain dia memberi nasehat kepada menteri pertahanan, Dewan Keamanan Nasional dan Presiden.

Kisah ini Tentang Lori Robinson

Tetapi ini bukan kisah tentang Jenderal Jumper. Ini adalah kisah tentang Lori Robinson. Sekarang dia sendiri adalah Brigadir Jenderal di Angkatan Udara, dia tidak harus mengamati radar lagi. Tidak ada lagi bogey dan bandit, julukan Angkatan Udara untuk orang baik dan orang jahat, di dalam hidupnya.

Meski tugasnya telah berubah, Jenderal Robinson masih mengawali setiap hari dengan mengingatkan dirinya MENGAPA dia berangkat ke kantor.

Sebanyak dia merindukan “anak-anaknya”, sebutannya bagi orang-orang yang bertugas di bawah komandonya, Jenderal Robinson masih mencari cara-cara untuk melapangkan jalan bagi orang lain agar mereka dapat mendorong diri sendiri dan organisasi mereka lebih jauh lagi.
“Waktu untuk berfikir bagi diri sendiri sudah berakhir, ini bukan soal kalian lagi, ini soal letnan-letnan yang ada di belakang kalian,” katanya mengingatkan murid-muridnya ketika dia menjadi instrukur di Fighter Weapon Scholl.

“Jika cukup banyak dari kita yang melakukan ini.” katanya lebih lanjut, mengacu pada MENGAPA dia melakukan apa yang dia lakukan. “Maka kita akan meninggalkan militer ini dan negara ini dalam keadaan yang lebih baik dibandingkan ketika kita menemukannya. Dan bukankah ini tujuannya?”. Perasaan tentang tujuan, gagasan yang jelas tentang MENGAPA dia berangkat kerja, telah menajdi batu landasan dari kesuksesan Jenderal Robinson. Dan itu menakjubkan.

Melapangkan jalan bagi orang lain agar mereka dapat percaya diri melakukan hal-hal yang lebih besar dan lebih baik, pada gilirannnya niat ini telah menginspirasi orang lain, menghidupi perasaan akan tujuan yang menginspirasi orang-orang di sekitarnya.

Lori Robinson adalah perempuan pertama di dalam sejarah Angkatan Udara yang memegang komando Sayap Kendali Udara 552 di MArkas Angkatan Udara Tinker, salah satu sayap terbesar di Komando Tempur Udara (Pasukan yang menerbangkan pesawat kendali udara AWACS-suatu armada Boing 707 dengan radar besar yang berpusat di bagian atasnya).

Dia adalah komadan pertama sayap tempur yang tidak muncul melalui peringkat pilot. Dia adalah instruktur Weapon School perempuan pertama yang mengajar di Air Force Fighter Weapon School, dimana Angkatan Udara melatih semua perwira terunggulnya. Di sana ia menjadi guru yang paling dipuja, memenangkan gelar guru terbaik pada tujuh angkatan berturut-turut

Dia adalah direktur perempuan pertama Sekretaris Angkatan Udara dan Kepala Staf Air Force Executive Action Group. Pada tahun 2000, kepala Gabungan Kepala Staf berkata kepada Jenderal Robinson, pada saat dia masih seorang Kapten, bahwa dialah yang memengaruhi gagasan-gagasannya tentang kekuatan udara. Dan Daftar pencapaiannya masih berlanjut.

Kemampuan Jenderal Robinson untuk memimpin bukanlah tumbuh karena dia yang paling pintar atau paling manis. Dia adalah pemimpin hebat karena dia mengerti bahwa kepercayaan dari suatu organisasi tidak didapatkan dengan cara mengesankan semua orang, tetapi dari upaya melayani orang-orang yang melayaninya. Kepercayaan yang tidak kasat matalah yang memberi pengikut kepada seorang pemimpin yang dia perlukan untuk menyelesaikan segalanya. Dan pada Kasus Lori Robinson, segalanya terselesaikan.

Kepercayaan itu sangat penting, kepercayaan muncul ketika kita menajdi bagian dari suatu budaya atau organisasi yang memiliki kesamaan nilai dan kepercayaan dengan kita.

sumber tulisan di kutip dari tulisan simon sinek [ patriapurwakarta.com ]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *