Janji Allah SWT dan Doa Yang Belum Terkabul

Janji Allah SWT dan Doa Yang Belum Terkabul
Janji Allah SWT dan Doa Yang Belum Terkabul, foto from
https://www.pexels.com

JANGAN SAMPAI MERAGUKAN KAMU TERHADAP JANJI ALLAH KARENA TIDAK TERLAKSANA APA YANG TELAH DIJANJIKAN, MESKIPUN TELAH TERTENTU (TIBA) MASANYA, SUPAYA KERAGUAN ITU TIDAK MERUSAK MATA HATI KAMU DAN TIDAK MEMADAMKAN CAHAYA SIR (RAHASIA ATAU BATINIYAH) KAMU.

Doa dan janji Allah swt berkaitan erat satu sama lainnya. Allah swt menjanjikan untuk menerima semua doa.

Janji Allah SWT untuk Menerima semua Doa

Seorang hamba sudah sangat rajin beribadah dan sering berdoa. Seorang hamba berdoa agar diselamatkan dari suatu musibah. Ketika musibah itu tiba tetapi keselamatan darinya belum sampai. Timbul keraguan dalam hati hamba itu terhadap janji-janji Allah swt.

Sebagian orang beriman diuji dengan penerimaan atau penolakan doa dan sebagian yang lain diuji dengan tertunai atau tertahan janji Allah swt. Janji Allah swt ada dalam bentuk umum dan ada dalam bentuk khusus.

Janji umum banyak terdapat di dalam al-Quran seperti janji surga terhadap orang yang berbuat kebajikan, janji neraka terhadap orang yang durhaka, janji ketinggian derajat bagi orang yang berjihad pada jalan Allah swt, janji kekuasaan di atas muka bumi terhadap orang yang beriman dan beramal shalih dan lain-lain.

Di dalam surah an-Nisaa’ ayat 95, Allah swt menjanjikan pahala ganjaran yang besar kepada orang yang berjihad pada jalan-Nya.

Dalam surah an-Nur ayat 55, Allah swt menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal shalih bahwa mereka akan dijadikan khalifah di bumi, Dia akan teguhkan agama mereka dan Dia akan hilangkan rasa ketakutan mereka.

Dalam surah ar Rum ayat 21, Alah menetapkan kehidupan yang sakinah mawadah wa rahmah bagi yang menikah secara islami sesuai tuntunan Allah swt dan Rasul-Nya saw.

Janji Umum dan Janji Khusus

Banyak lagi janji Allah swt yang dapat ditemui di dalam al-Quran. Janji-janji Allah swt secara umum berkaitan dengan amal, sesuai dengan sunnatullah yang menguasai perjalanan kehidupan.

Ada juga janji secara khusus kepada orang-orang tertentu, misalnya melalui mimpi atau suara ghaib. Orang yang beriman kepada Allah swt percaya kepada janji-janji-Nya.

Janji Allah swt menjadi pendorong bagi mereka untuk bekerja lebih keras, beramal shalih dan berjihad pada jalan-Nya. Allah swt tidak sekali-kali akan memungkiri janji-janji-Nya.

Di dalam golongan yang percaya pada janji-janji Allah swt itu, ada juga sebagian yang berpenyakit sebagaimana yang terjadi pada sebagian orang yang berdoa kepada Allah swt. Orang yang berdoa membuat tuntutan dengan doanya dan orang yang percaya kepada janji Allah swt membuat tuntutan dengan amalnya, karena Allah swt berjanji memberinya sesuatu menurut amal perbuatannya.

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ [٥: ٥١]
“Sesungguhnya apa yang dijanjikan (oleh Allah) kepadamu pasti benar.” (Surah adz-Dzaariyat : ayat 5)

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [٦: ٣٠]
“(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Surah ar-Ruum : ayat 6)

Janji Allah SWT, Mata Hati dan Nur Sir

Hikmat ketujuh, Pengertian Janji Allah SWT, menghubungkan janji Allah swt dengan mata hati dan Nur Sir (rahasia atau batiniyah).

Persoalan mata hati telah disentuh pada Hikmat ke lima ( Mata Hati Yang Buta, Hijab Nafsu dan Hijab Akal ) Penyingkapan rahasia mata hati memberi pemahaman kepada kita tentang persoalan diri lahiriyah, diri batiniyah dan selanjutnya pada persoalan roh.

Pancaran cahaya mata hati membawa pada pengenalan terhadap Alam Barzakh dan keabadian. Mata hati yang kuat tidak berhenti hanya pada Alam Barzakh saja, namun meningkat pada tahapan alam yang lebih tinggi yang dinamakan Alam Malakut Atas.

Pandangan mata hati selanjutnya sampai pada kulit alam yang dinamakan Arasy Yang Meliputi. Semua makhluk Allah swt menghuni ruang yang di dalam atau dibatasi oleh kulit atau kerangka alam, yaitu Arasy.

Tidak ada mahluk yang wujud di luar dari kulit alam. Walaupun kulit alam merupakan kejadian Tuhan yang paling luar namun, mata hati tidak berhenti hanya disitu.

Mata hati terus mengeksplorasi “di luar” kulit alam, yang dipanggil Wujud ketuhanan.

Di sini timbul persoalan berat dan rumit untuk diuraikan. Semua kejadian berada di dalam kulit alam. Kulit alam adalah yang terakhir. Apabila sampai pada kulit alam tidak bisa lagi dikatakan wujud alam ketuhanan di luar, selepas, di sebalik atau istilah-istilah lain, karena tidak ada apa-apa lagi.

Kewujudan ketuhanan bukanlah satu jenis alam lain. Tidak dapat dikatakan wujud alam ketuhanan selepas alam kita ini. Allah swt Berdiri Dengan Sendiri, tidak menempati ruang.

Jika demikian persoalannya, bagaimanakah yang dikatakan ketuhanan sedangkan kita sudah menjelajah ke seluruh alam maya, namun Allah swt tidak juga ditemui?

Antara alam yang sementara dengan alam abadi terdapat Alam Barzakh.

Barzakh adalah batas. Barzakh itulah yang menghubungkan dua keadaan yang berbeda. Misalnya, barzakh bagi laut dan sungai ialah kuala. Air laut adalah asin dan air sungai adalah tawar. Air pada barzakh keduanya yaitu kuala adalah bertemu asin dengan tawar yang dinamakan payau.

Payau bukan asin dan bukan tidak asin. Air payau juga bukan air tawar dan bukan air tidak tawar (asin). Kuala bukan laut dan bukan sungai juga bukan juga lain dari laut atau sungai.

Jika mau melihat laut dan sungai dengan sekali pandang atau sebagai satu kewujudan maka lihatlah ke kuala. Jika mau merasakan asin dan tawar sekaligus maka rasakanlah air payau.

Jika terdapat barzakh di antara makhluk dengan makhluk, terdapat juga barzakh di antara Tuhan dengan makhluk. Barzakh inilah yang menjadi penghubung antara Tuhan dengan hamba. Tanpa barzakh ini tidak mungkin terjadi keberadaan makhluk yang diciptakan Tuhan karena tidak ada talian atau jembatan yang menghubungkannya.

Barzakh antara Allah swt dengan hamba itu dinamakan Sir atau Rahasia, yaitu Rahasia Allah swt, yang hanya Allah swt yang mengetahui hakikat yang sebenarnya.

Rahasia inilah yang memungkinkan adanya hubungan antara Pencipta dengan yang dicipta. Sir atau Rahasia memancarkan nurnya kepada mata hati. Mata hati yang diterangi oleh Nur Sir (rahasia ketuhanan) akan mendapat pengenalan tentang Sir dan mengalami suasana tauhid tahap yang tertinggi.

Apabila hakikat Sir ditemukan, maka nyatalah firman Allah swt:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ [٥٠:١٦]
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” (Surah Qaaf : Ayat 16)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [٥٧:٤]
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surah al- Hadiid : Ayat 4)

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ [٣٧:٩٦]
“Padahal Allah yang menciptakan kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!” (Surah as-Shaaffaat : Ayat 96)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [٨١:٢٩]
“Dan kamu tidak dapat menentukan kemauan kamu (mengenai sesuatu pun), kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mengatur seluruh alam.” (Surah at-Takwiir : Ayat 29)

لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوّةَ إلاَ بِالله
“Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.”

Apa saja yang ada pada kita semuanya adalah karunia dari Allah swt.

Keinginan kita untuk melakukan amal shalih datangnya dari Kehendak Allah swt, tanpa Kehendak Allah swt, kita akan menjadi dungu, tidak mempunyai keinginan.

Apabila kita melakukan amal kebaikan, kita tidak mungkin terbebas dari menggunakan daya dan upaya yang datangnya dari Allah swt. Tanpa Ketetapan Allah swt, kita tidak mampu bergerak. Kemampuan kita untuk berdoa dan beramal juga merupakan karunia dari Allah swt.

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ [٤٩:١٧]
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar’.” (Surah al-Hujuraat : Ayat 17)

Kehendak dan perbuatan kita adalah anugerah dari Allah swt.

Jadi, apakah hak kita untuk menuntut Allah swt dengan doa dan amal kita. Memang benar Allah swt berjanji untuk mengabulkan semua doa dan memberi karunia sesuatu sesuai dengan amal perbuatan kita. Tetapi, tidak ada makhluk-Nya yang layak menagih janji tersebut.

Janji Allah swt kembali kepada diri-Nya Sendiri. Jangan coba-coba menuntut janji Allah swt karena andainya Dia menuntut kita dengan amanah yang dipercayakan kepada kita, niscaya semua amal perbuatan kita akan hancur berterbangan seperti debu, tidak ada walau sebesar zarah pun yang layak dipersembahkan kepada-Nya, ketika kita dihadapkan pada pengadilan-Nya.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ [٤٠:٥٥]
“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (Surah al Ghafir : ayat 55)

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [٢١:٢٣]
“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.“ (Surah al Anbiya’ : ayat 23)

Oleh karena itu berteduhlah di bawah payung rahmat dan ampunan-Nya, jangan diungkit-ungkit tentang amal kita dan janji-Nya.

Contohlah akhlak Rasulullah saw yang telah menerima janji Allah swt, yaitu baginda saw telah bermimpi memasuki kota Makkah. Kaum muslimin percaya bahwa mimpi Rasulullah saw adalah mimpi yang benar dan mereka yakin bahwa itu adalah janji Allah swt kepada Rasul-Nya, dimana Dia mengizinkan mereka bersama-sama memasuki kota Makkah sekalipun musyrikin Quraisy masih menguasai kota tersebut.

Kaum muslimin berangkat dari Madinah ke Makkah. Rombongan mereka dihadang sebelum sampai di Makkah. Kaum musyrikin tidak mengijinkan kaum muslimin memasuki Makkah. Akibat dari peristiwa tersebut terjadilah Perjanjian Hudaibiyah.

Rasulullah saw setuju agar kaum muslimin tidak memasuki Makkah pada tahun itu. Sayidina Umar al-Khaththab ra. yakin akan mimpi Rasulullah saw. Beliau Umar ra. juga percaya bahwa mimpi Rasulullah saw itu adalah janji Allah swt, yang mengizinkan mereka memasuki kota Makkah.

Beliau ra. juga yakin bahwa karena janji Allah swt adalah benar, maka memaksa memasuki Makkah walaupun dengan cara berperang, dianggap sebagai tindakan yang benar.

Beliau ra. menganjurkan agar berperang supaya kebenaran mimpi Rasulullah saw dan kebenaran janji Allah swt menjadi kenyataan. Keimanan Umar ra. yang sangat mendalam, membuatnya ingin maju terus menurut petunjuk yang sampai kepada beliau ra. tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.

Sayidina Abu Bakar as-Shiddik ra. yang memiliki Nur Sir lebih sempurna dibandingkan Nur Sir Umar ra. memiliki sikap menyetujui tindakan Rasulullah saw untuk mengadakan Perjanjian Hudaibiyah.

Melalui pancaran Nur Sirnya, Abu Bakar ra. dapat menyaksikan apa yang terlindung dari pandangan mata hati Umar ra.

Kemudian ternyata perjanjian tersebut banyak memberi manfaat bagi kaum muslimin. Ternyata kebijaksanaan Rasulullah saw menyetujui Perjanjian Hudaibiyah dan kebenaran pandangan mata hati Abu Bakar ra. melalui pancaran Nur Sirnya, merupakan rencana Allah dalam merealisasikan janji-Nya.

Sesuai dengan Perjanjian Hudaibiyah, pada tahun berikutnya kaum muslimin dapat memasuki kota suci Makkah secara aman.

Benarlah apa yang dimimpikan oleh Rasulullah saw dan benarlah janji Allah swt. Rasulullah saw menerima janji Allah swt sebagai satu karunia yang wajib diyakini dengan cara bertawakal kepada Allah swt dalam pelaksanaannya.

Bila terjadi sesuatu yang pada lahiriyahnya menuju pada pelaksanaan janji Allah swt itu, Rasulullah saw tidak menagih kepada Allah swt mengenai janji tersebut, sebaliknya baginda saw mengembalikannya kepada Allah swt. Sebagai balasan terhadap kerelaan menerima takdir Allah swt, maka Allah swt memberi karunia kepada beliau dan ummat Islam,

Perjanjian Hudaibiyah yang banyak membantu perkembangan dakwah Islam. Allah swt juga sama sekali tidak melupakan janji-Nya, mengizinkan kaum muslimin menziarahi tanah suci Makkah, sehingga dengan rahmat-Nya kaum muslimin memasuki kota Makkah pada tahun berikutnya dalam suasana aman.

Oleh karena itu, apabila janji Allah swt dikembalikan kepada-Nya, maka Allah swt melaksanakannya.

Rahasia Sir dan Janji Allah

Peristiwa di atas memberi pengajaran kepada kita tentang rahasia Sir. Sayidina Abu Bakar as-Shiddik ra. memiliki Sir yang melebihi sahabat-sahabat yang lain, dikarenakan Sirnya, yaitu Rahasia pada hati nuraninya yang menghubungkannya dengan Allah swt, yang menguasainya itulah yang menjadikan belia ra. diberi gelar as-Shiddik.

Beliau ra. membenarkan kerasulan Nabi Muhammad saw tanpa reserve. Beliau ra. membenarkan peristiwa Israk dan Mi’raj ketika kebanyakan kaum Quraisy mempermasalahkan dan menolak hujahnya.

Abu Bakar ra. bukanlah seorang dungu yang bertaklid secara membabi buta. Tetapi, sesuatu yang sampai kepadanya diakui oleh Sirnya yang mendapatkan pengesahan dari Allah swt.

Cahaya kebenaran yang keluar dari Rasulullah saw dan cahaya kebenaran yang keluar dari Sir Abu Bakar ra. adalah sama, sebab itulah Abu Bakar ra. membenarkannya tanpa memerlukan berbagai alasan dan tanpa meminta bukti.

Bukti apa lagi yang diperlukan apabila Sir telah mendapat jawaban dari Allah swt. Sir atau Rahasia Allah swt itulah yang tidak bercerai lepas dari Allah swt, senantiasa menghadap kepada Allah swt dan mendengar Kalam Allah swt, Sir itulah yang mengenal Allah swt.

Kemurnian Sir Abu Bakar as-Shiddik ra. terlihat kembali pada saat wafatnya Rasulullah saw. Umar ra. yang dikuasai oleh iman yang sangat kuat dan melahirkan cinta yang mendalam terhadap Rasulullah saw, Kekasih Allah swt.

Karena dikuasai kecintaan itu, beliau Umar ra. akan memenggal kepala siapa saja yang mengatakan Rasulullah saw sudah wafat. Tetapi, Abu Bakar ra, yang kecintaannya terhadap Rasulullah saw melebihi kecintaan Umar ra. mampu mengatakan, “Siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah swt, maka Allah swt tidak akan wafat selama-lamanya!”

Begitu murninya cahaya atau nur yang diterima oleh Abu Bakar ra. di dalam hatinya yang dipancarkan oleh Sir. Tidak salah jika dikatakan seandainya mau memahami hakikat Sir, maka fahamilah diri Sayidina Abu Bakar as-Shiddik ra. Mengenali beliau ra. membuat seseorang mengenali tanda-tanda Sir.

Rasulullah saw bersabda,

إنَّهث لَيْسَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ أَمَنَّ عَلَيَّ فِي نَفْسِهِ وَمَالِهِ مِنْ أَبِي بَكْرٍ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنَ النَّاسِ خَلِيْلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلًا وَلَكِنْ خُلَّةُ الإسْلَامِ أَفْضَلُ سُدُّوْا عَنِّي كُلَّ خَوْخَةٍ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ غَيْرَ خَوْخَةِ أَبِي بَكْرٍ (الحديث)

“Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang paling amanah dihadapanku, baik pada dirinya maupun hartanya melebihi Abu Bakar bin Abu Qahafah. Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari ummatku, tentulah aku ambil Abu Bakar sebagai kekasihku, akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama. Tutuplah semua pintu dariku kecuali pintu Abu Bakar.” (HR Imam Bukhari, no. 447; Imam Ahmad, no. 2306; at-Tirmidzi, no. 3593)

Syeikh Abul Hasan al-Asya’ari berkata, “Perintah Rasulullah saw memajukan Abu Bakar (sebagai imam shalat) adalah suatu perkara yang jelas dalam agama Islam.” Ia melanjutkan katanya, “Sikap Rasulullah saw ketika mengedepankan Abu Bakar sebagai Imam shalat adalah pertanda bahwa beliaulah orang yang paling alim dari seluruh sahabat dan yang paling baik bacaannya, sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits yang disepakati oleh ulama tentang keshahihannya bahwa Rasulullah saw bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهَمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإنْ كَانُوْا فِي الْقِرَأَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإنْ كَانُوْا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا (الحديث)
“Orang yang berhak menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap kitab Alah, jika ternyata bacaannya sama baiknya, maka yang lebih berhak adalah orang yang lebih alim terhadap sunnah, dan jika ternyata mereka sama alimnya maka yang didahulukan adalah yang paling dahulu berhijrah, dan jika ternyata dalam hijrah mereka sama, maka yang didahulukan yang lebih dahulu keislamannya.” [HR Imam Muslim, no. 1078; at-Tirmidzi, no. 218; Abu Daud, no. 494]

Kalam Hikmat ketujuh ini memberi panduan untuk memahami hakikat Sir. Tanda seseorang tidak mendapat pancaran cahaya Nur Sir ialah dia meragukan janji-janji Allah swt lantaran dia menterjemahkan maksud dari janji Allah swt menurut seleranya sendiri.

Bagaimana kedudukan kita terhadap janji Allah swt, begitulah keadaan hati kita berhubungan dengan Rahasia Allah swt atau Sir.

Doa dan Janji Allah, panduan memahami sir. Syarah Kitab Al Hikam oleh Prof. Ir Agus Priyono, phD di tulis ulang oleh patriapurwakarta.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *