Hijab Yang Menghalangi Perjalanan

Hijab Yang Menghalangi Perjalanan

HIJAB YANG MENGHALANGI PERJALANAN  : BAGAIMANA HATI AKAN DAPAT DISINARI SEDANGKAN GAMBAR-GAMBAR ALAM MAYA MASIH MELEKAT PADA CERMINNYA.

HIJAB YANG MENGHALANGI PERJALANAN  : BAGAIMANA MUNGKIN BERJALAN KEPADA ALLAH SWT SEDANGKAN DIA MASIH DIBELENGGU OLEH SYAHWATNYA.

HIJAB YANG MENGHALANGI PERJALANAN  : BAGAIMANA AKAN MASUK KE HADIRAT ALLAH SWT SEDANGKAN DIA MASIH BELUM SUCI DARI JUNUB KELALAIANNYA.

HIJAB YANG MENGHALANGI PERJALANAN  : BAGAIMANA MENGHARAP UNTUK MENGERTI RAHASIA-RAHASIA YANG HALUS SEDANGKAN DIA BELUM TAUBAT DARI DOSANYA (KELALAIAN, KEKELIRUAN DAN KESALAHAN).

Hikmat 12,
http://patriapurwakarta.com/uzlah-adalah-pintu-tafakur/ , memberi penekanan tentang uzlah yaitu mengasingkan diri.

Sedangkan Hikmat 13 ini, memperingatkan bahwa uzlah tubuh badan saja tidak memberi pengaruh yang baik jika hati tidak ikut beruzlah.

Hijab Yang Menghalangi Perjalanan

Walaupun tubuh badan dikurung, namun hati masih bisa disambar oleh empat perkara:

  • Gambaran, kenangan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, perempuan, tahta, pangkat dan lain-lain.
  • Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang dikehendaki.
  • Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah swt.
  • Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih mengotori hati.

Diri manusia tersusun dari unsur tanah, air, api dan angin. Ia juga disusupi oleh benda-benda alam seperti barang tambang, logam, tumbuh-tumbuhan, hewan, syetan dan malaikat.

Tiap-tiap unsur dan benda-benda itu menarik hati kepada diri masing-masing.

Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima cahaya nur yang melahirkan iman dan tauhid.

Mengobati kekacauan hati adalah penting untuk membukanya sehingga dapat menerima informasi dari Alam Malakut.

Hati yang kacau itu dapat distabilkan dengan cara menundukkan semua unsur dan benda-benda tadi kepada syari’at. Syari’at menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang coba menawan hati.

Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan kejiwaan menjadikan syari’at sebagai payung yang menimbulkan keharmonian perjalanan unsur-unsur dan daya-upaya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar alam maya.

Hati Yang Bebas Dapat Menghadap Hadirat Ilahi

Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke Hadirat Ilahi.

Selain tarikan unsur dan benda-benda alam, hati juga bisa tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan hanya rangsangan hawa nafsu yang rendah, namun semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah swt adalah syahwat.

Pekerjaan syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah swt serta membangkang terhadap takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak ridha dengan keputusan Allah swt.

Seseorang yang ingin menuju kepada Allah swt, wajib melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng aslim yaitu berserah diri kepada Allah swt dan ridha dengan takdir-Nya.

Hal ketiga yang dibangkitkan oleh Hikmat ke tiga belas ini adalah kelalaian yang diistilahkan sebagai junub batiniyah.

Junub Batiniyah

Orang yang berjunub adalah tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid.

Orang yang sedang junub batiniyah terhalang untuk memasuki Hadirat Ilahi. Orang yang sedang junub batiniyah akan lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub lahiriyah, di mana amal ibadahnya tidak diterima.

Allah swt mengancam untuk mencampakkan orang yang shalat dengan lalai (dalam keadaan berjunub batiniyah) ke dalam neraka wail.

Begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۞ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥:١٠٧-٤﴾
“Maka kecelakaanlah (masuk neraka wail) bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” [Surat al-Maa’uun : ayat 4 – 5]

Ancaman Kepada Orang Yang Lalai

Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang lalai

Bayangkan bahwa hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk lahiriyah kita. Hati yang khusyuk adalah seperti orang yang menghadap Allah swt dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan adab sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung.

Sedangkan hati yang lalai adalah seperti orang yang menghadap menggunakan punggungnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkal dan perbuatannya tidak dihiasi dengan adab sopan santun.

Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.

Jika raja di dunia murka dengan perbuatan demikian, maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wail.

Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bagaimana bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya, merekalah yang layak masuk ke Hadirat-Nya.

Sedangkan hamba yang lalai dan tidak tahu bersopan santun, mereka tidak layak mendekati-Nya.

Perkara yang keempat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalangi seseorang dalam memahami rahasia-rahasia yang halus-halus.

Taubat

Pintu pada Perbendaharaan Allah swt yang tersembunyi adalah taubat!

Orang yang telah mensuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah swt selagi dia belum bertaubat, sama seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya, terpaksa menunggu di luar surga.

Jika dia mau masuk ke dalam Perbendaharaan Allah swt yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang halus-halus wajiblah bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang halus.

Orang yang tidak memahami rahasia taubat, tidak akan mengerti mengapa Rasulullah saw yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan.

Sedangkan kalau pun Baginda saw berdosa, semuanya diampuni oleh Allah swt. Adakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah swt mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan baginda saw (jika ada)?

Maksud taubat ialah kembali, yaitu kembali kepada Allah swt. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah swt.

Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa bahkan dia sudah melakukan amal ibadah dengan banyak, namun tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah swt.

Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal shalih tetapi berjauhan dan bukan berdekatan dengan Allah swt.

Taubat yang lebih halus ialah penghayatan kalimat: “Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah swt. Kami datang dari Allah swt dan kepada Allah swt kami kembali.”

Segala Sesuatu Datangnya Dari Allah

Segala sesuatu datangnya dari Allah swt, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba).

Apa saja yang datang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna.

Uluhiyah memberi bekal kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu.

Jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan taubat sebagai jalan untuk menampung kecacatan.

Segala urusan dikembalikan kepada Allah swt. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba, maka semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon ampunan dari Allah swt, mengembalikan setiap urusan kepada Allah swt, sumber datangnya segala urusan.


وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا [٢٥:٧١]
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Surah al-Furqaan : Ayat 71)

Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah swt, maka Allah swt sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Kehendak Allah swt, dan kekuatan hamba sesuai dengan Ketetapan Allah swt, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah swt dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah swt.

Dengan demikian jadilah hamba mendengar karena Sama’ (pendengaran) Allah swt, melihat karena Bashar (penglihatan) Allah swt dan berkata-kata karena Kalam Allah swt.

Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba, maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah swt).


… وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [٢:٢٨٢]
“.… Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (dengan ilmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah al Baqarah : ayat 282)

Sabda Rasulullah saw,


إنَّ اللهَ قَالَ مَنْ عَدَي لِي وَلِيّ فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إلّيَّ مِمَّا افْتَرّضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالْنَوَافِلِ حَتَّي أُحِبَّهُ فَإذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَاْ فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَاْ أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (الحديث)
“Sesungguhnya Allah berfirman; ‘Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya.

Dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan.

Dan tidak lah hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, sehingga Aku mencintai dia, maka jika Aku sudah mencintainya, Aku lah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul dan kakinya yang ia jadikan untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Ku-beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.

Dan Aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku sendiri menjadi pelakunya sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.”

(HR Imam Bukhari, no. 6021; Imam Ahmad, no. 24997)


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *