Cinta Kita Bukan Cinta Biasa

Bukan cinta biasa, kisah yang pernah kita dengar dari sebuah fragmen kehidupan anak manusia di masa lalu, sebuah kisah luar biasa yang saya yakin akan bisa terulang kembali meski dengan pelaku dan latar yang berbeda.

Suatu ketika, di ujung sebuah pertempuran yang baru saja berakhir, seorang prajurit terkulai lemas, payah dengan luka-luka disekujur tubuhnya, terbata-bata ia merintih meminta air barang seteguk, dahaga amat sangat ia rasa.

Seseorang mendengar rintih lemah nya, lalu datang membawa secawan air, sesaat sebelum ia meneguk air yang sangat diinginkan nya itu, lamat-lamat telinganya mendengar rentihan lemah sahabatnya sesama pejuang, meminta air.

Ia tahu betul rasanya, betapa dahaga ini amat sangat, tetapi cintanya pada sahabat nya, bukan cinta biasa, ia meminta agar air itu diberikan kepada sahabatnya yang merintih itu.

Air itu diantar kepadanya, dengan tangan bergetar tak sabar ia ingin segera meminum air itu, tetapi sesaat sebelum air itu sampai ke mulutnya, terdengar lemah di telinga nya, seorang sahabat nya sesama prajurit merintih memohon seteguk air.

Ia tahu betul rasanya, betapa dahaga ini amat sangat, tetapi cintanya pada sahabat nya, bukan cinta biasa, ia meminta agar air itu diberikan kepada sahabatnya yang merintih itu.

Air itu diantar kepadanya, tetapi nasib berkata lain, belum belum sempat air itu diminum, maut telah menjemputnya, sang sahabat itu telah wafat.

Buru buru air itu dibawa kembali untuk diberikan kepada prajurit sebelum nya, tetapi iapun telah wafat, sang pembawa airpun berlari secepat kemampuan menuju prajurit pertama tetapi iapun telah wafat.

Tiga sahabat itupun menghadap Rabb nya dengan jiwa yang tenang, jiwa yang penuh cinta, cinta yang membuatnya mendahulukan sahabatnya daripada diri nya sendiri.

Dalam hati kita bertanya dalam perenungan yang panjang, apa yang membuat mereka memiliki cinta sekuat itu?

Sekali lagi, Sebuah Kisah Cinta

Dalam fragmen waktu yang lain, disudut belahan bumi yang lain, sebuah kisah cinta lain ditulis oleh sang waktu.

Sebuah keluarga mendapatkan rezeki, sebuah kepala kambing, bahan makanan yang akan menjadi masakan lezat untuk keluarga mereka malam itu, terbayang sudah mereka akan makan enak, sesuatu yang amat sangat jarang dapat mereka lakukan.

Ketika akan dimasak, merekapun teringat ada kelaurga lain yang kehidupannya tidak lebih baik dari mereka, dan malam ini mungkin mereka tidak memiliki apapun untuk di masak, maka keputusan di ambil. Kepala kambing itu diberikan kepada tetangga nya tersebut.

Sukacita, bahagia keluarga itu mendapat hadiah kepala kambing, terbayang sudah mereka sekeluarga dapat makan malam itu.

Sesaat sebelum dimasak merekapun teringat tetangganya yang kondisi kehidupannya mirip mirip dengan mereka, dan mereka ingin kepala kambing itu menjadi menu makan malam tetangga nya itu, maka diberikanlah kepala kembing itu kepada tetangga nya.

Ajaib memang kehidupan mereka, kondisi seperti itu terulang terus sampai akhirnya kepala kambing itu kembali lagi kepada keluarga pertama yang memberikan.

Nikmat yang mereka dapat tidak lebih besar dari cinta mereka kepada tetangga nya, cinta mereka bukan cinta biasa, cinta mereka adalah cinta yang membuat mereka mendahulukan tetangganya daripada diri mereka sendiri, cinta yang menginginkan kebahagiaan bagi orang lain melebihi bagi dirinya sendiri.

Kembali kita bertanya dalam perenungan yang panjang, apa yang membuat mereka memiliki cinta sekuat itu?

Sebuah Jawaban

Mungkin itulah yang mereka sebut sebagai ukhuwah, sebuah ikatan cinta yang terjalin oleh bersatu nya hati dan jiwa dalam ikatan akidah, bertemu nya hati dalam penghambaan kepada Rabb semesta alam, hati hati yang bertemu dalam naungan cinta kepada Allah Rabbal aalamiin.

Lalu, jika cinta kita pada saudara-saudara kita hari ini tidak tidak mewujud nyata dalam perilaku seperti mereka apakah itu berarti, hati hati kita tidak bertemu dalam cinta kepada-Nya, tidak bersatu dalam jihad di jalan-Nya, wallahuallam.

Mungkin kita perlu bertanya pada hati kita, seberapa kuat kualitas ruhiyah kita, kualitas maknawiyah kita yang terbentuk oleh kualitas ubudiyah kita pada Allah SWT.

Mungkin ada rahasia kenapa Junjungan kita Rasulullas SAW mendidik generasi awal dakwah Islam, mendidik sahabat sahabat nya dengan tempaan ruhiyah yang kuat, mendidik mereka dengan tilawah Qur’an, Dzikir dan shalat malam yang sangat ketat.

Di Kemudian hari, kita membaca dalam lembar-lembar sejarah perjalan umat manusia, generasi awal yang di tempa dengan tilawah, dzikir dan shalat malam itu mampu mengubah arah perjalanan umat manusia, menghadirkan peradaban Islam yang gilang gemilang, memimpin ummat manusia untuk hanya menghamba pada Rabb yang satu, Allah Rabb semesta alam.

Mungkin begitu ceritanya, hati hati yang hidup oleh Al Qur’an, Dzikir dan shalat malam itu memercikkan cinta yang bukan cinta biasa. Ujung perenungan kita mungkin sampai pada pertanyaan, bagaimana kualitas tilawah, dzikir dan shalat malam kita?

Munajat Cinta

Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini berkumpul atas dasar cinta kepada-Mu. Bertemu atas dasar taat pada-Mu. Bersatu atas dasar dakwah kepada-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu. Maka kuatkanlah yaa Allah, ikatan pertaliannya, lestarikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tiada redup. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepada-Mu dan indahnya tawakal pada-Mu, hidupkanlah ia dengan makrifat kepada-Mu, dan matikanlah ia sebagai syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Aamiin Ya Allah.”

[ patriapurwakarta.com ]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *