Allah SWT Mengatur Segala Urusan

Allah SWT Mengatur Segala Urusan
Allah SWT Mengatur Segala Urusan

ALLAH SWT MENGATUR SEGALA URUSAN : ISTIRAHATKAN DIRIMU DARI MELAKUKAN URUSAN DUNIAWI KARENA APA YANG TELAH DIATUR OLEH SELAIN-MU TENTANG URUSAN DIRIMU, TIDAK PERLU ENGKAU IKUT CAMPUR MENGURUSNYA.

Dalam bertauhid ada dua cara yang dapat ditempuh, yaitu pertama bertauhid dengan nalar dan kedua bertauhid dengan hati.

Ruang nalar adalah ilmu pengetahuan dan ruang lingkup pengetahuan sangat luas, berawal dari pohon ke dahan-dahan dan selanjutnya ke ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penyelesaiannya.

Ilmu sepakat pada hal pohon, berangsur-angsur pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya. Jawaban pada sesuatu masalah selalu berubah-ubah menurut pendapat baru yang ditemukan. Apa saja yang dianggap benar pada awalnya bisa menjadi salah pada akhirnya.

Oleh karena sifat pengetahuan yang demikian, orang awam banyak bertumpu membahas tentang sesuatu yang bisa mengalami kekeliruan dan kekacauan fikiran.

Salah satu persoalan yang mudah mengganggu fikiran adalah soal takdir atau Qadha dan Qadar.

Jika persoalan ini dibahas sampai pada yang halus-halus, maka seseorang akan menemui kebuntuan karena ilmu tidak mampu memberikan jawaban yang konkrit. Qadha dan Qadar di-imani dengan hati.

Tugas ilmu adalah membuktikan kebenaran terhadap sesuatu yang di-imani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan keimanan, maka ilmu itu harus dicegah dan berhenti, sedangkan hati dibawa agar tunduk kepada iman.

Allah SWT Mengatur Segala Urusan

Kalam Hikmat keempat ini, Allah SWT Mengatur Segala Urusan, membimbing kita ke arah itu, yaitu agar iman tidak bercampur dengan keraguan.

Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman pada hal yang ghaib dan menyerah diri secara menyeluruh kepada Allah swt, tidak akan tercapai.

Qadha dan Qadar termasuk dalam hal yang ghaib. Sesuatu yang ghaib hanya dapat disaksikan oleh mata hati atau bashirah. Mata hati tidak dapat menembus pandangan jika hati terbungkus oleh hijab nafsu.

Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan yang bersifat lahiriyah tetapi kegelapan dalam keghaiban. Kegelapan nafsu itu menghijab, sedangkan mata hati memerlukan cahaya ghaib untuk melihat perkara ghaib.

Cahaya ghaib yang menerangi alam ghaib adalah cahaya roh karena roh adalah urusan Allah swt. Cahaya atau nur hanya bersinar apabila sesuatu itu ada hubungan pertalian dengan Allah swt.


اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ [٢٤:٣٥]

“Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi.” (Surah an-Nur : Ayat 35)


رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ [٤٠:١٥]

“(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Surah al-Ghafir : Ayat 15)

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ، صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ [٥٣-٤٢:٥٢]

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), al-Quran sebagai, roh (yang menghidupkan hati) dengan perintah Kami; engkau tidak pernah mengetahui (sebelum diwahyukan kepadamu); apakah Kitab (al-Quran) itu dan tidak juga mengetahui apakah iman itu; akan tetapi Kami jadikan al-Quran: cahaya yang menerangi, Kami beri petunjuk dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) adalah memberi petunjuk dengan al-Quran itu ke jalan yang lurus, -Yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai yang ada di langit dan yang ada di bumi. Kepada Allah jualah kembali segala urusan.” (Surah asy-Syura : Ayat 52 – 53)

Apabila cahaya roh berhasil menuju kegelapan nafsu, mata hati akan mempunyai kemampuan menyaksikan yang ghaib. Persaksian mata hati akan membawa hati agar beriman kepada perkara ghaib dengan sebenar-benarnya.

Allah swt telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia berfirman:


… الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ … [٥:٣]


… Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagi kamu …” (Surah al-Ma’idah : Ayat 3)

Umat Islam adalah umat yang paling beruntung karena Allah swt telah menyempurnakan nikmat-Nya ke atas mereka dengan memberi karunia agama Islam. Allah swt menjamin juga bahwa Dia ridha menerima Islam sebagai agama mereka.

Jaminan Allah swt itu sudah cukup bagi mereka yang menuntut keridhaan Allah swt, untuk tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, dan sebaliknya terus berjalan mengikuti landasan yang telah dibangun oleh Islam.

Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap mencakup seluruh aspek kehidupan

Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap mencakup seluruh aspek kehidupan baik yang lahiriyah maupun yang batiniyah. Islam telah menjelaskan yang seharusnya dilakukan, dan yang semestinya tidak dilakukan, bagaimana cara bertindak menghadapi sesuatu dan bagaimana jika tidak mau melakukan apa-apa.

Segala peraturan dan kode etik sudah dijelaskan dari hal yang paling kecil sampai pada yang paling besar.

Sudah dijelaskan tatacara beribadah, cara berhubungan sesama manusia, cara membagi harta pusaka, cara mencari harta, cara berniaga dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki toilet, cara hukum qishash, cara melakukan hubungan kelamin, cara menyempurnakan mayat dan segala pernak-pernik aspek kehidupan, telah diterangkan dengan begitu jelas.

Umat Islam tidak perlu bertengkar tentang penyelesaian terhadap sesuatu masalah. Segala penyelesaian telah dijelaskan, singkatnya hanya tegakkan iman dan rujuk kepada Islam, niscaya segala pertanyaan akan terjawab.

Begitu besarnya nikmat yang dikaruniakan oleh Allah swt kepada umat Islam. Kita perlu menjiwai Islam untuk merasakan nikmat yang dikaruniakan itu. Kewajiban kita ialah menjalankan apa yang telah ditetapkan oleh Allah swt, sementara hak mengatur atau mengurusnya adalah hak Allah swt yang mutlak.

Allah SWT Mengatur Segala Urusan : Akal VS Nafsu

Jika terdapat peraturan Allah swt yang tidak disetujui oleh nafsu kita, peraturan tersebut jangan menjadi lunak atau membuat peraturan baru, sebaliknya nafsu yang semestinya dikendalikan supaya tunduk pada peraturan Allah swt.

Jika pendapat akal sesuai dengan Islam, maka yakinilah akan kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal bertentangan dengan Islam, maka akuilah bahwa akal telah salah di dalam perhitungannya.

Jangan memaksa Islam supaya tunduk kepada akal kontemporer yang akan berubah pada waktu yang lain, tetapi tundukkan akal pada sesuatu yang Tuhan firmankan, yang kebenarannya tidak akan berubah sampai kapanpun.


وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ [٣٠:٢٦]

Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk patuh.” (Surah ar-Ruum : ayat 26)


فَإنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الأنِفِ حَيْثُمَا انْقِيْدَ اِنْقَادَ (الحديث)

“Sesungguhnya orang mukmin itu seperti unta yang patuh, dimana pun ia diikat dan dituntun, maka ia tunduk (penurut)”. [HR Imam Ahmad, 16519; Ibnu Majah, no. 43]

Qadha dan Qadar

Orang yang mengamalkan tuntunan Islam disertai dengan beriman kepada Qadha dan Qadar, jiwanya akan senantiasa tenang dan damai.

Putaran roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya karena dia melihat bahwa sesuatu yang terjadi adalah menurut yang semestinya terjadi. Sedangkan dia akan menjalankan kodrat yang terbaik dan dijamin oleh Allah swt.

Hatinya tunduk pada hakikat bahwa Allah swt yang mempunyai kehendak, sementara seluruh hamba berkewajiban taat kepada-Nya, tidak perlu ikut campur tangan dalam urusan-Nya.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [٢٢:٥٤]

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Surah al-Hajj : ayat 54)

Mungkin timbul pertanyaan apakah orang Islam tidak boleh menggunakan akal fikiran, tidak boleh mempunyai kehendak atau cita-cita dalam kehidupannya dan tidak boleh berusaha memperbaiki kehidupannya? Apakah orang Islam harus menyerah bulat-bulat kepada takdir tanpa kehendak?

Allah swt menceritakan tentang kehendak orang beriman:

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِن وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ [١٢:٧٦]

Maka Yusuf pun mulailah memeriksa tempat-tempat barang mereka, sebelum memeriksa tempat barang saudara kandungnya (Bunyamin), kemudian ia mengeluarkan benda yang hilang itu dari tempat simpanan barang saudara kandungnya. Demikianlah Kami jayakan rancangan untuk (menyampaikan hajat) Yusuf. Tidaklah ia akan dapat mengambil saudara kandungnya menurut undang-undang raja, kecuali jika dikehendaki oleh Allah. (Dengan ilmu pengetahuan), Kami tinggikan pangkat kedudukan siapa yang Kami kehendaki; dan tiap-tiap yang berilmu pengetahuan, ada lagi di atasnya yang lebih mengetahui.” (Surah Yusuf : Ayat 76)

إِذْ أَنتُم بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُم بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَىٰ وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدتُّمْ لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ ۙ وَلَٰكِن لِّيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَن بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَن بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ [٨:٤٢]

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Seandainya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-Anfal : Ayat 42)


وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ [٥٥:٢٤]

“Dan kepunyaan-Nya jualah kapal-kapal yang berlayar di lautan laksana gunung- gunung.“ (Surah ar-Rahman : Ayat 24 )

Nabi Yusuf as, dengan kepandaiannya, membuat muslihat untuk membawa saudaranya, yaitu Bunyamin, agar bisa tinggal dengannya. Kepandaian dan muslihat dimana secara lahiriyahnya diatur oleh Nabi Yusuf as. tetapi dengan tegas Allah swt katakan bahwa Dia lah yang mengatur muslihat tersebut dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.

Kapal yang secara lahiriyahnya dibuat oleh manusia tetapi dengan tegas Allah swt katakan bahwa kapal itu adalah kepunyaan-Nya. Ayat-ayat di atas memberi pengajaran mengenai kehendak yang dilakukan oleh manusia.

Kehendak Orang Beriman

Rasulullah saw sendiri menganjurkan agar pengikut-pengikut baginda saw mempunyai cita-cita dalam melaksanakan kehidupan mereka. Kehendak yang disarankan oleh Rasulullah saw ialah kehendak yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah swt, tidak bergerak dari tawakal dan penyerahan kepada Tuhan yang mengatur urusan dan perlaksanaan.

Janganlah seseorang menyangka bahwa ketika dia menggunakan akal fikirannya untuk berfikir maka otak itu berfungsi dengan sendiri tanpa kehendak Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperoleh oleh otak itu jika bukan dari Tuhan?

Allah swt yang membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah fikiran kepada otak itu.

Kehendak yang dianjurkan oleh Rasulullah saw ialah kehendak yang sesuai dengan al Qur’an dan as-Sunnah. Islam hendaklah dijadikan sebagai penyaring untuk memisahkan pendapat dan perbuatan yang benar dengan yang salah.

Islam menegaskan bahwa seandainya tidak karena daya dan upaya dari Allah swt, pasti tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan oleh siapa pun. Oleh karena itu, seseorang harus menggunakan daya dan upaya yang dikaruniakan oleh Allah swt kepadanya menurut keridhaan Allah swt.

Seseorang hamba Allah swt tidak sepatutnya melepaskan diri dari penyerahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Ketika yang diaturnya berhasil menjadi kenyataan, maka dia harus mengakui bahwa keberhasilan itu adalah karena bersesuaian antara aturannya dengan aturan Allah swt.


وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا ﴿٧٦: ٣٠﴾

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Insan : Ayat 30)

Jika yang diaturnya tidak berhasil, harus diakuinya bahwa aturannya wajib tunduk pada aturan Allah swt dan yang tidak berhasil itu juga termasuk di dalam kehendak Allah swt. Hanya Allah swt yang berhak untuk menentukan.

Allah swt Berdiri Sendiri, tidak ada siapa yang mampu campur tangan dalam urusan-Nya.

ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِّنكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ﴿٣: ١٥٤﴾

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Surah Ali-Imran : Ayat 154)

Rasulullah saw bersabda,

اتَّقُوا الحَدِيْثَ عَنِّي إلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَمَنْ قَالَ فِي القُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (الحديث)

“Jagalah dirimu untuk menceritakan hadits dariku kecuali yang telah kalian ketahui, barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka dan barang siapa berkata sesuatu tentang al-Quran dengan pendapat akal fikirannya sendiri, maka bersiaplah untuk menempati api Neraka.” [HR at-Tirmidzi, no. 2875]

Allah SWT Mengatur Segala Urusan, Syarah Kitab Al Hikam, Penulis Prof. Ir Agus Priyono, phD di tulis ulang oleh patriapurwakarta.com 

foto from
https://tookapic.com


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *