Ahli Asbab dan Ahli Tajrid Syarah kitab Al Hikam

Ahli Asbab dan Ahli Tajrid Syarah kitab Al Hikam
Ahli Asbab dan Ahli Tajrid Syarah kitab Al Hikam

Ahli Asbab dan Ahli Tajrid ; KEINGINAN KAMU UNTUK BERTAJRID PADAHAL ALLAH MASIH MELETAKKAN KAMU DALAM SUASANA ASBAB ADALAH SYAHWAT YANG SAMAR, SEBALIKNYA KEINGINAN KAMU UNTUK BERASBAB PADAHAL ALLAH TELAH MELETAKKAN KAMU DALAM SUASANA TAJRID BERARTI TURUN DARI SEMANGAT DAN TINGKAT YANG TINGGI.

Pada tulisan sebelumnya, Perbuatan Lahiriyah dan Suasana Hati
menerangkan tanda orang yang bersandar pada amal perbuatan. Bergantung pada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup di dunia ini. Dunia ini dinamakan alam asbab.

Apabila perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal, maka akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem sebab akibat yang mempengaruhi segala kejadian.

Tiap sesuatu terjadi menurut sebab yang menyebabkannya bisa terjadi. Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas adanya pengaruh sebab dalam menentukan akibat. Keteraturan sistem sebab akibat ini memberikan kesempatan pada manusia untuk mengambil manfaat dari unsur-unsur dan kejadian alam.

Manusia dapat menentukan unsur yang dapat memberikan mudarat terhadap kesehatan kemudian menjauhkannya dan manusia juga dapat menentukan unsur yang bisa menjadi obat lalu menggunakannya.

Manusia dapat membuat ramalan cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, letusan gunung berapi dan lain-lain karena sistem yang mengendalikan perjalanan unsur alam berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna, membentuk hubungan sebab dan akibat yang terpadu.

Allah swt mengadakan sistem sebab akibat yang rapi adalah untuk memudahkan manusia dalam menyusun kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan pancaindera manusia mampu mengurus kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab akibat.

Hasil dari penelitian dan kajian akal tersebut melahirkan berbagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi, teknologi informasi dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat.

Hukum Sebab Akibat

Keserasian sistem sebab akibat, menyebabkan manusia terikat kuat dengan hukum sebab-akibat tersebut. Manusia bergantung pada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat).

Manusia yang melihat pada kebaikan sistem sebab dalam menentukan akibat serta bersandar kepadanya dinamakan ahli asbab.

Sistem sebab akibat atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah swt. Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahwa akibat hanya lahir dari sebab, seolah-olah Allah swt tidak ikut campur dalam urusan mereka.

Padahal Allah swt tidak suka hamba-Nya “mempertuhankan” sesuatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya.

Allah swt tidak suka jika hamba-Nya dalam menjalani kehidupannya sampai pada tahap mempersekutukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya dengan unsur alam dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dia yang telah meletakkan kekuatan pada unsur alam, maka Dia juga mempunyai kekuasaan untuk membuat unsur alam itu lemah kembali.

Dia yang meletakkan kerapian pada hukum sebab-akibat, juga mempunyai kekuasaan untuk merombak hukum tersebut. Dia mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul membawa mukjizat yang merombak hukum sebab-akibat untuk mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar memahami bahwa sebab akibat tidak menghijab ketuhanan-Nya.

Hukum Sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah swt

Kelahiran Nabi Isa as. yang tidak melalui proses sebagaimana kelahiran manusia lainnya, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa as, hilangnya kemampuan membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim as. masuk ke dalamnya, peristiwa terbelahnya bulan dan keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad saw dan banyak lagi yang didatangkan oleh Allah swt, merombak hukum sebab-akibat untuk menyadarkan manusia tentang hakikat bahwa kekuasaan Allah swt-lah, yang meliputi perjalanan alam maya dan hukum sebab-akibat.

Alam dan hukum yang ada padanya seharusnya membuat manusia mengenal Tuhan, bukan menutup pandangan dari Tuhan.

Firman Allah swt

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ [٥٤:١]

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” (Surah al-Qamar : ayat 1)

Jabir bin Abdullah ra. berkata,


فَقَالَ رَسُوِلُ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكُمْ ٌقَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ لَيْسَ عِنْدَنَا مَاءٌ نَتَوَضَأُبِهِ وَلَا نَشْرَبُ إلَّا مَا فِي رَكْوَتِكَ قَالَ فَوَضَعَ النَّبِيَّ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرَّكْوَةِ فَجَعَلَ الْمَاءُ يَفُوْرُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ كَأَمْثَالِ الْعُيُوْنِ قَالَ فَشَرِبْنَا وَتَوَضَأْنَا

“Rasulullah saw mendatangi para sahabat dan bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah kami tidak mempunyai air untuk berwudhu’ dan juga tidak ada untuk minum kecuali air yang ada pada kantung air baginda.’

Jabir berkata, ‘Maka Nabi saw meletakkan tangan beliau pada kantung air tersebut lalu air mengalir melalui sela-sela jari beliau bagikan mata air yang mengalir.’ Jabir melanjutkan, ‘Lalu kami minum dan berwudhu’.” (Riwayat Imam Bukhari, no. 3837; Imam Muslim, no. 4224; Imam Ahmad, no. 14278)


فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [٢:٧٣]

“Maka Kami (Allah) berfirman: ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (Surah al-Baqarah : Ayat 73)

Manusia hidup di dunia fana, bergerak dalam arus sebab akibat

Sebagian besar dari manusia telah diselamatkan oleh Allah swt agar tidak terjerumus ke dalam pemahaman sebab akibat.

 Di sisi lain sebagai manusia yang hidup di dunia fana, mereka bergerak dalam arus sebab akibat, tetapi seharusnya mereka tidak meletakkan hukum pada peristiwa sebab akibat.

Mereka senantiasa melihat kekuasaan Allah swt yang menetapkan atau mencabut kekuatan pada hukum sebab-akibat. Jika sesuatu sebab berhasil mengeluarkan akibat menurut yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah swt yang menetapkan kekuatan pada sebab tersebut dan Allah swt juga yang mengeluarkan akibatnya.

Allah swt berfirman:


سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ، لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٢-٥٧:١]

“Segala yang ada di langit dan di bumi tetap mengucap tasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. Dialah saja yang menguasai dan memiliki langit dan bumi; Dia menghidupkan dan mematikan; dan Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Surah al-Hadiid : Ayat 1 – 2)

Ahli Asbab dan Ahli Tajrid

Orang yang melihat pada kekuasaan Allah swt meliputi hukum sebab-akibat, tidak meletakkan keberkahan kepada hukum tersebut. Ketergantungannya hanya kepada Allah swt, bukan kepada amal yang menjadi sebab. Orang yang seperti ini dipanggil ahli tajrid.

Rasulullah saw mengajarkan doa kepada Mu’adz bin Jabal,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَي ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ (الحديث)

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta untuk mengabdikan diri kepada-Mu dengan baik.” (HR Abu Daud, no. 1301; an-Nasa’i, no. 1286; Imam Ahmad, no. 21109)

Ahli tajrid, seperti juga ahli asbab, melakukan sesuatu menurut peraturan sebab-akibat. Ahli tajrid juga makan dan minum. Ahli tajrid memanaskan badan dan memasak dengan menggunakan api. Ahli tajrid juga melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan rezekinya.

Tidak ada perbedaan di antara amal perbuatan ahli tajrid dengan amal perbuatan ahli asbab.

Perbedaannya terletak di dalam jiwa yaitu di hati. Ahli asbab melihat pada kekuatan hukum alam. Ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Allah swt pada hukum alam itu. Walaupun ahli asbab mengakui kekuasaan Allah swt tetapi penghayatan dan kekuatannya di dalam jiwanya tidak sekuat ahli tajrid.

Dalam melakukan kebaikan, ahli asbab perlu melakukan mujahadah. Mereka perlu memaksa diri, mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak.

Ahli asbab perlu memperingatkan dirinya supaya berbuat ikhlas dan perlu melindungi keikhlasannya agar tidak dirusak oleh riya’ (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar diri, merasakan diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik daripada orang lain) dan sum’ah (menarik perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita mengenainya, agar orang mengakui bahwa dia adalah orang baik).

Jadi, ahli asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga setelah melakukannya. Suasana hati ahli tajrid berbeda dari suasana hati yang dialami oleh ahli asbab. Jika ahli asbab memperingatkan dirinya supaya ikhlas, ahli tajrid tidak melihat pada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan.

Apa saja kebaikan yang mereka lakukan diserahkan kepada Allah swt yang memberi karunia kebaikan tersebut. Ahli tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Bagi mereka melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas.

Apabila seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, padanya masih tersembunyi keegoan diri yang membawa kepada riya’, ujub (merasakan diri sendiri sudah baik) dan sum’ah. Apabila tangan kanan berbuat ikhlas dalam keadaan tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu, barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas.

Orang yang ikhlas, berbuat kebaikan adalah dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu malu menepuk dada di depan jutawan, dengan mengatakan bahwa dia sudah kaya.

Orang tajrid yang diberi ke-ikhlas-an oleh Allah swt, mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah swt.

Jika harta orang miskin itu adalah hak jutawan tadi, maka ikhlas bagi orang tajrid adalah hak Allah swt.

Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan ikhlas, sedangkan orang tajrid melihat bahwa Allah swt yang menghendaki seluruh urusan yang dia lakukan hanya untuk dikembalikan kepada-Nya semata.

Ahli asbab dituntun pada rasa syukur, sedangkan ahli tajrid berada dalam penyerahan diri.


بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ [٣٩:٦٦]

“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Surah az-Zumar : ayat 66)


وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ [٣٩:١٢]

“Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (Surah az-Zumar : ayat 12)

Kebaikan yang dilakukan oleh ahli asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah swt yang membimbing mereka kepada kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan oleh ahli tajrid merupakan karunia Allah swt kepada kumpulan manusia yang tidak memandang pada diri mereka dan kepentingannya.

Ahli asbab melihat pada keberkesanan hukum sebab-akibat. Sedangkan Ahli tajrid melihat pada keberkahan kekuasaan dan ketentuan Allah swt. Dari kalangan ahli tajrid, Allah swt memilih sebagian darinya dan meletakkan kekuatan hukum pada mereka.

Kumpulan ini bukan sekadar tidak melihat pada keberkahan hukum sebab-akibat, bahkan mereka mempunyai kemampuan untuk menguasai hukum sebab-akibat itu.

Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi dianugerahi mukjizat dan wali-wali dianugerahi karamah. Mukjizat dan karamah merombak keberkahan hukum sebab- akibat.

Di dalam kumpulan wali-wali pilihan yang dikaruniai kekuatan mengendalikan hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Abu Bakar as-Shiddik ra, Umar ibn al-Khaththab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Sa’ad bin Abi Waqash ra, Sa’id bin Zaid ra, Syeikh Abdul Kadir al-Jailani, Abu Hasan as-Syadzili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim bin Adham dan lain-lain.

Cerita tentang kekeramatan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung pada thariqat tasawwuf gemar menjadikan kehidupan para wali Allah swt tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekeramatan.

Kekeramatan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud dan tawakal sepenuhnya kepada Allah swt. Timbul anggapan bahwa jika ingin mendapatkan kekeramatan seperti mereka, mestilah hidup sebagaimana mereka.

Orang yang berada pada tahapan permulaan dalam thariqat, cenderung untuk memilih jalan menjadi ahli tajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt.

Sikap membabi buta dalam tajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, isteri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Saidina Abu Bakar as-Shiddik telah berbuat demikian.

Ibrahim bin Adham telah meninggalkan takhta kerajaan, isteri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua.

Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Kesudahannya dia mungkin meninggalkan kumpulan thariqatnya dan kembali kepada kehidupan duniawi.

Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk dibandingkan keadaannya sebelum mengikuti jalan dalam belajar thariqat, karena dia mau menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk berthariqat.

Keadaan yang demikian terjadi akibat mengikuti tajrid secara membabi buta. Orang baru masuk ke dalam ruang latihan kejiwaan, namun sudah mau beramal seperti para wali Allah swt yang sudah berpuluh-puluh tahun melatih diri.

Tindakan mencampakkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan cobaan dan ujian yang dapat menggoncangkan imannya dan mungkin juga bisa membuatnya berputus-asa.

Sepatutnya, yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan para wali Allah swt yang telah mencapai maqam yang tinggi dengan cara membabi buta.

Seseorang haruslah melihat pada dirinya dan mengenal kedudukan nya sebagai Ahli Asbab atau Ahli Tajrid

Seseorang haruslah melihat pada dirinya dan mengenal pasti kedudukannya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam maqam asbab seseorang haruslah bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kemusnahan.

Ahli asbab perlu melakukan sesuatu yang demikian karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat bahwa tindakan makhluk memberi pengaruh kepada dirinya. Oleh sebab itu wajar jika seandainya dia melakukan pekerjaan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan kepada dirinya dan orang lain.

Tanda Allah swt meletakkan seseorang pada kedudukan sebagai ahli asbab ialah apabila urusan dan tindakannya menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkannya mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama.

Dia tetap merasa ringan untuk berbakti kepada Allah swt, tidak lalai dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri hati terhadap orang lain.

Ketika ahli asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa menghadapi goncangan yang besar yang dapat menyebabkan dia putus asa dari rahmat Allah swt.

Ruhaninya sedikit demi sedikit akan menjadi kuat dan mendorongnya ke dalam maqam tajrid dengan selamat. Sehingga pada akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.

Ahli Asbab dan Ahli Tajrid memiliki kedudukan tersendiri

Ada juga orang yang dipaksa oleh takdir supaya bertajrid. Orang ini pada awalnya adalah ahli asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana umumnya orang kebanyakan.

Kemungkinan kehidupan yang seperti itu tidak menambah kematangan ruhaninya. Perubahan dalam meniti jalan perlu baginya supaya dia bisa maju dalam ruang kejiwaan. Oleh karena itu, takdir bertindak memaksanya untuk terjun ke dalam lautan tajrid.

Dia akan mengalami keadaan di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya untuk menyelesaikan masalahnya.

Seandainya dia seorang raja, takdir mencabut kerajaannya. Seandainya dia seorang hartawan, takdir menghapuskan hartanya. Seandainya dia seorang yang cantik, takdir menghilangkan kecantikannya itu.

Takdir memisahkannya dari apa yang dimiliki dan dikasihinya. Pada tahapan permulaan menerima kedatangan takdir yang demikian, sebagai ahli asbab, dia berikhtiar menurut hukum sebab-akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya.

Jika dia tidak berdaya untuk menolong dirinya, maka dia akan meminta pertolongan kepada orang lain. Setelah puas dia berikhtiar termasuk meminta bantuan orang lain, namun tangan takdir tetap terus merombak sistem sebab-akibat yang terjadi terhadap dirinya.

Apabila dia sendiri walaupun dibantu oleh orang lain, tidak mampu mengatasi arus takdir, maka dia tidak ada pilihan lain kecuali berserah kepada takdir.

Dalam keadaan seperti itu, dia akan lari kepada Allah swt dan merayu agar Allah swt menolongnya. Pada tahapan ini orang tersebut akan rajin beribadah dan mencurahkan sepenuh hatinya kepada Tuhan. Dia benar-benar berharap Tuhan akan menolongnya mengembalikan sesuatu yang pernah dimilikinya dan dikasihinya.

Tetapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sehingga dia benar-benar terpisah dari yang dimiliki dan dikasihinya itu. Lepaslah harapannya untuk memperolehnya kembali. Maka jadilah dia rela dengan perpisahan itu. Dia tidak lagi merayu memohon bantuan kepada Tuhan, sebaliknya dia menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Dia menyerah bulat-bulat kepada Allah swt, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadilah dia seorang hamba Allah swt yang bertajrid.

Apabila seseorang hamba benar-benar bertajrid, maka Allah swt sendiri yang akan mengurus kehidupannya. Allah swt menggambarkan suasana tajrid dengan firman-Nya:



وَكَأَيِّن مِّن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ [٢٩:٦٠]

Dan (ingatlah) berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya bersama, Allah jugalah yang memberi rezeki kepadanya dan (juga) kepada kamu; dan Dialah juga Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-‘Ankabut : Ayat 60)

Doa Rasulullah saw,


اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إلَي نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إلّهَ إلَّا أَنْتَ (لاحديث)

“Ya Allah, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri (janganlah berpaling dariku) barang sekejap matapun. Perbaikilah semua urusanku, tiada tuhan yang patut disembah selain Engkau.” (HR Abu Daud, no. 4426)

Makhluk Allah swt seperti burung, ikan, kuman dan sebagainya tidak memiliki tempat simpanan makanan. Mereka adalah ahli tajrid yang dijamin rezeki mereka oleh Allah swt. Jaminan Allah swt itu meliputi juga bangsa manusia.

Tanda Allah swt meletakkan seseorang hamba-Nya di dalam maqam tajrid ialah Allah swt memudahkan baginya rezeki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap tenteram sekalipun terjadi kekurangan dalam rezeki atau ketika menerima bala ujian.

Seandainya ahli tajrid sengaja memindahkan dirinya kepada maqam asbab, maka hal tersebut berarti dia telah melepaskan jaminan Allah swt lalu bersandar kepada makhluk.

Hal ini menunjukkan kejahilannya terhadap rahmat dan kekuasaan Allah swt. Tindakan yang jahil itu dapat menyebabkan berkurang atau hilangnya keberkahan yang dikaruniakan oleh Allah swt kepadanya.

Misalnya, seorang ahli tajrid yang tidak mempunyai pekerjaan kecuali mengajar dan membimbing banyak orang di jalan Allah swt, walaupun tidak mempunyai pekerjaan, namun rezeki datang kepadanya dari berbagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap.

Pengajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya sangat berpengaruh sekali. Keberkahannya amat ketara seperti makbul doa dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan.

Seandainya dia meninggalkan suasana bertajrid lalu berasbab karena tidak puas hati dengan rezeki yang diterimanya maka keberkahannya akan terlepas. Pengajarannya, doanya dan ucapannya tidak berpengaruh seperti dahulu lagi. Ilham yang datang kepadanya tersekat-sekat dan kefasihan lidahnya tidak selancar sebelumnya.

Seseorang hamba haruslah menerima dan ridha dengan kedudukan yang telah Allah swt karuniakan kepadanya

Seseorang hamba haruslah menerima dan ridha dengan kedudukan yang telah Allah swt karuniakan kepadanya. Berserahlah kepada Allah swt dengan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah swt tahu apa yang patut dan sesuai bagi setiap makhluk-Nya. Allah swt sangat bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.

Keinginan untuk meningkatnya dari satu maqam ke maqam selanjutnya, merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi rangsangan nafsu yang sulit disadari karena sangat halus. Nafsu di sini merangkumi kehendak, cita-cita dan angan-angan.

Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana tajrid.

Orang yang telah lama berada dalam suasana tajrid, apabila kesadaran dirinya kembali sepenuhnya, ikut kembali kepadanya keinginan, cita-cita dan angan-angan. Nafsu mencoba untuk bangkit kembali menguasai dirinya.

Orang asbab perlu menyadari bahwa keinginannya untuk berpindah ke maqam tajrid tersebut mungkin secara halus digerakkan oleh ego diri yang tertanam jauh dalam jiwanya.

Orang tajrid juga perlu sadar bahwa keinginannya untuk kembali kepada asbab itu, mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya.

Ulama tasawwuf mengatakan seseorang mungkin dapat mencapai semua maqam nafsu, tetapi nafsu tahapan pertama tidak kunjung padam. Oleh karena itu, diperlukan perjuangan atau mujahadah untuk mengendalikan nafsu agar senantiasa dapat dikendalikan.


الكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالأَجِزُ مَنِ اتَّبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّي عَلَي اللهِ (الحديث)

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menguasai hawa nafsunya dan beramal untuk setelah kematian (masa depan(nya. Dan orangyang bodoh adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah.” [HR Imam Tirmidzi, no. 2383; Ibnu Majah, no. 4250; Imam Ahmad, no. 16501]

Ahli Asbab dan Ahli Tajrid, Syarah Kitab Al Hikam Penulis Prof. Ir Agus Priyono, phD di posting ulang oleh patriapurwarta.com

gambar :
https://unsplash.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *