Sejarah Hidup As Syaikh Ibnu Atha’iLlah as Sakandari

Sejarah Hidup As Syaikh Ibnu Atha’iLlah as Sakandari
Sejarah Hidup As Syaikh Ibnu Atha’iLlah as Sakandari

Syeikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari (1250 – 1309 M) hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Ia lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), lalu pindah ke Kairo. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fiqh mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain di Masjid Al-Azhar.

Syeikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari (1250 – 1309 M) hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Ia lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), lalu pindah ke Kairo. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fiqh mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain di Masjid Al-Azhar.

Di waktu yang sama Syeikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari juga dikenal luas dibidang tasawwuf sebagai seorang “master” (syeikh) besar ketiga di lingkungan thariqat sufi Syadziliyah ini.


Ibnu Atha’illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Meliputi bidang tasawwuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dari beberapa karyanya itu yang paling terkenal adalah kitab al-Hikam.


Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opusnya. Kitab ini sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibnu Ibad ar Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibnu Ajiba.

Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, ‘Unwan at-Taufiq fi’dab al-Thariq, miftah al-Falah dan al-Qaul al-Mujarrad fil al-Ism al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.


Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara ibnu Atha’illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah.


Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at, Ibnu Atha’illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat.

Ia dikenal sebagai master atau syaikh ketiga dalam lingkungan thariqat Syadziliyah setelah sang pendirinya yaitu Abu al Hasan Asy Syadzili dan penerusnya, Abu Al Abbas Al Mursi. Dan Ibnu Atha’illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah thariqat syadziliyah tetap terpelihara.

Meski ia tokoh kunci di sebuah thariqat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di thariqat saja. Buku-buku ibnu Atha’illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan thariqat, terutama kitab Al Hikam yang melegenda ini.

Keluarga Ibnu Atha’iLlah

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini, adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atha’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qahtan, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah.


Kota Iskandariyah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas.


Dengan menelisik jalan hidupnya, DR. Taftazani menengarai bahwa beliau dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah– sebagaimana diceritakan Ibnu Atha’ dalam kitabnya “Lathaiful Minan” : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.


Keluarga Ibnu Atha’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya.

Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariyah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami.

Kota Iskandariyah pada masa Ibnu Atha’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariyah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, ushul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Shalihin.

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atha’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawwuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atha’ menceritakan dalam kitabnya “Latha’iful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya.”

Di sinilah guru Ibnu Atha’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariyah (Ibnu Atha’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang Quraisy tidak percaya kepada Nabi.

Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ”Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ”Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”.

Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim faqih (kakek Ibnu Atha’illah) demi orang yang alim faqih ini”.

Riwayat Hidup Ibnu Atha’iLlah

Pada akhirnya Ibnu Atha’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidup beliau, dimana dari didikan murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawwuf. Oleh karena itu buku-buku biografi beliau menyebutkan bahwa riwayat hidup Atha’illah menjadi tiga masa:

Masa Pertama

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariyah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqh, ushul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariyah.

Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqh, dalam hal ini Ibnu Atha’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa Kedua

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi pada tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo.

Dalam masa ini sirnalah keingkarannya terhadap ulama tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawwuf ini. Suatu ketika Ibnu Atha’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan.

Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “Apakah semestinya aku membenci tasawwuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi?” Setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang beliau orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawwuf.


“Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika beliau sudah mencicipi manisnya tasawwuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai beliau punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain.

Namun demikian beliau tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini, Ibnu Atha’ilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir.

Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini, tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qaus aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qaus dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya thariqah kita.

Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu thariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.

Setelah bercerita semacam itu, yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Shiddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”.

Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan Alhamdulillah Allah telah menghapus kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Masa Ketiga

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibnu Atha’ dari Iskandariyah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atha’illah dalam ilmu fiqh dan ilmu tasawwuf.


Ia membedakan antara uzlah dan khalwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari diperdaya oleh dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah.


Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, khalwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.


Menurut Ibnu Atha’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya.

Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.

Thariqah Syadziliyah.

Ibnu Atha’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi Tahun 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Thariqah Syadziliyah.


Tugas ini beliau emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariyah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atha’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkataan-perkataan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus shaleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”.


Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atha’illah adalah orang yang shaleh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali.


Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli thariqah”.
Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah.


Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi orang ahli fiqh dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tabaqah al-Syafi’iyyah al-Kubra”.

Ibnu Taimiyah berkata tentang Ibnu Atha’illah dalam sebuah dialog beliau berdua : “Aku tahu anda adalah seorang yang shaleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di [hadapan] Allah atau lebih patuh atas perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”

Karya Tulisan dan Buku Sebagai seoarang sufi yang alim Ibnu Atha’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawwuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitabah.

Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam adalah Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Kitab ini dikenal juga dengan nama al-Hikam al-Atha’iyyah untuk membedakannya dengan kitab-kitab lain yang juga berjudul al-Hikam.

Karamah Ibnu Atha’illah

al-Munawi dalam kitabnya “al-Kawakib al-Durriyyah” mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibnu Atha’illah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”.


Demi menyaksikan karamah agung seperti ini, Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atha’illah ketika meninggal kelak.


Di antara karamah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah seorang murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibnu Atha’illah sedang thawaf.

Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru.

Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana“. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Maqam

Pandangan tentang Maqam Sufi Dalam pandangan tasawwuf secara umum, konsep maqām dan hāl adalah dua konsep yang sangat berhubungan dengan salik (pejalan sufi).


Maqām adalah tahapan-tahapan thariqah yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Semisal maqām taubat; seorang salik dikatakan telah mencapai maqām ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwati.


Dengan demikian, maqām adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha riyadhah (melatih hawa nafsu).

Hal

Sedangkan yang dimaksud dengan hāl − sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi − adalah suatu keadaan yang dianugerahkan kepada seorang sālik tanpa melalui proses usaha riyadhah.

Namun, dalam konsep maqām ini, Ibnu Atha’illah memiliki pemikiran yang berbeda, dia memandang bahwa suatu maqām dicapai bukan karena adanya usaha dari seorang salik, melainkan semata anugerah Allah swt.

Karena jika maqām dicapai karena usaha salik sendiri, sama halnya dengan menisbatkan bahwa salik memiliki kemampuan untuk mencapai suatu maqām atas kehendak dan kemampuan dirinya sendiri.

Pun jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan konsep fana’ iradah, yaitu bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak, dan juga bertentangan dengan keimanan kita bahwa Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia.

Dengan demikian, bagi seorang salik untuk mencapai suatu maqām hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan angan-angannya (isqath al-iradah wa al-tadbir).

Wafat nya Ibnu Atha’iLlah


Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa.

Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiringi kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qarrafah al-Kubra.

penulis : Prof. Dr. Agus Priyono di salin dari chanel telegram bliau oleh patriapurwakarta.com 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *