Pengertian Doa dalam Syarah Kitab Al Hikam

Pengertian Doa dalam syarah Kitab Al Hikam
Pengertian Doa , sumber gambar
https://unsplash.com

PENGERTIAN DOA : JANGANLAH KARENA KELAMBATAN WAKTU PEMBERIAN TUHAN KEPADA KAMU, PADAHAL KAMU TELAH BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERDOA, MEMBUAT KAMU BERPUTUS ASA, SEBAB ALLAH MENJAMIN UNTUK MENERIMA SEMUA DOA, MENURUT APA YANG DIPILIH-NYA UNTUK KAMU, TIDAK MENURUT KEHENDAK KAMU, DAN PADA WAKTU YANG DITENTUKAN-NYA, TIDAK PADA WAKTU YANG KAMU TENTUKAN.

Apabila kita ingin mendapatkan sesuatu apakah yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, maka kita akan berusaha bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Jika usaha kita tidak mampu memperolehnya, maka kita akan meminta pertolongan pada orang yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan.

Jika mereka juga tidak mampu membantu kita untuk mencapai hajat kita maka kita akan memohon pertolongan kepada Allah swt, menadah tangan ke langit sambil mencucurkan air mata dan suara yang merayu-rayu menyatakan hajat kepada-Nya.

Apabila hajat kita belum tercapai maka selagi itulah kita memohon dengan sepenuh hati.

Tidak ada kesukaran bagi Allah swt untuk memenuhi hajat kita. Seandainya Dia memberi karunia kepada kita dengan semua khazanah yang ada di bumi dan langit, maka pemberian-Nya itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya.

Seandainya Allah swt menahan untuk memberi maka tindakan tersebut tidak sedikit pun menambahkan kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Jadi, dalam soal memberi atau menahan tidak sedikit pun memberikan pengaruh kepada ketuhanan Allah swt. Ketuhanan-Nya adalah mutlak tidak sedikit pun terikat dengan kehendak, doa dan perbuatan hamba-hamba-Nya.


… وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ [١٤:٢٧]

“… Dan Allah berkuasa melakukan apa yang di kehendaki-Nya.” (Surah Ibrahim : Ayat 27)

… كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ [٢:١١٦]

“… Semuanya itu tunduk di bawah kekuasaan-Nya.” (Surah al-Baqarah : Ayat 116)


لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [٢١:٢٣]

“Dia tidak boleh ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak.” (Surah al-Anbiyaa : Ayat 23)

Hadits Qudsi,


… يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَلَّكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإنْسَاكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَي أَتْقَي قَلْبِي رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَلَّكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإنْسَاكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَي أَفْجَرِ قَلْبِي رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوْا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسْأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ …

“… Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semuanya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan…” (HR Imam Muslim, no. 4674; Imam Ahmad, no. 20451)

Salah Faham tentang Pengertian Doa

Sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa kita telah mensekutukan Allah swt dengan doa dan amal perbuatan kita.

Kita jadikan doa dan amal perbuatan sebagai kekuatan yang menentukan, atau setidak-tidaknya kita menganggap bahwa doa dan amal perbuatan kita mempunyai kekuatan tawar menawar dengan Tuhan, seolah-olah kita berkata, “Wahai Tuhan! Aku sudah membuat permintaan maka Engkau wajib memenuhinya. Aku sudah beramal maka Engkau wajib membayar upahnya!”

Siapakah yang berkedudukan sebagai Tuhan, kita atau Allah swt? Seandainya kita tahu bahwa diri kita ini adalah hamba, maka bertindaklah sebagai hamba dan jagalah sopan santun terhadap Tuan kepada seluruh hamba.

Hak hamba adalah rela dengan apa saja keputusan dan pemberian Tuannya.


… وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [٢:٢١٦]

“… Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Surah al-Baqarah : ayat 216)

Sabda Rasulullah saw, Allah swt berfirman,


… يَاعِبَادِي إنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إلَّا نَفْسَهُ

“… Wahai hamba-Ku sesungguhnya semua perbuatan kalian akan dipehitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikan maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu, janganlah mencela kecuali dirinya.” [HR Imam Muslim, no. 4674; Imam Ahmad, no. 20451, dari Abu Dzar al Ghifari]

Pengertian Doa : Doa adalah penyerahan bukan tuntutan

Kita telah berusaha tetapi gagal. Kita telah meminta pertolongan makhluk namun hal itu juga gagal. Apa lagi pilihan yang masih ada pada kita, kalau bukan menyerahkan segala urusan kepada Tuhan yang di Tangan-Nya terletak segala perkara?

Serahkan kepada Allah swt dan tanyalah kepada diri sendiri mengapa Tuhan menahan sehingga kita belum memperoleh apa yang kita inginkan?

Bisa jadi apa yang kita inginkan itu dapat mendatangkan mudarat kepada diri kita sendiri, sehingga karena itu Allah swt Yang Maha Penyayang menahannya agar tidak sampai kepada kita?

Bukankah Dia Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui?

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ [٦٧:١٤]

“Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhluk itu mengetahui (segala-galanya)? Sedang Dia Maha Halus urusan Kehendakan-Nya, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya.” (Surah al-Mulk : Ayat 14)


عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [٦٤:١٨]

“Dialah yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, (dan Dialah jua) yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (Surah at-Taghabun : Ayat 18)


مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٢:١٠٦]

“Apa jua ayat keterangan yang Kami mansuhkan (batalkan), atau yang Kami tinggalkan (atau tangguhkan), Kami datangkan ganti yang lebih baik darinya, atau yang sebanding dengannya. Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu?” (Surah al-Baqarah : Ayat 106)

Allah swt Maha Halus (Maha Terperinci), Maha Mengerti dan Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Allah swt yang bersifat demikian menentukan buat diri-Nya apa saja yang Dia mansuhkan dan digantikannya dengan yang lebih baik atau yang sama baiknya.

Dia dapat berbuat demikian karena Dia tidak bersekutu dengan siapa pun dan Dia Maha Berkuasa.

Seorang hamba senantiasa berhajat untuk mendapatkan pertolongan Allah.

Pengertian doa : Seorang hamba senantiasa berhajat untuk mendapatkan pertolongan Allah, Apa yang diinginkannya disampaikannya kepada Tuhan. Semakin banyak keinginannya semakin banyak doa yang disampaikannya kepada Tuhan. Kadang-kadang terjadi satu permintaan berlawanan dengan permintaan yang lain atau satu permintaan itu menghalangi permintaan yang lain.

Manusia hanya melihat pada satu doa tetapi Allah swt menerima kedatangan semua doa dari satu orang manusia. Manusia yang dikuasai oleh kalbu jiwanya berbolak-balik dan keinginan serta hajatnya juga tidak tetap.

Tuhan yang menguasai segala perkara tidak berubah-ubah. Manusia yang telah meminta satu kebaikan dapat juga meminta sesuatu yang tidak baik atau kurang baik. Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya tidak berubah kehendak-Nya. Dia telah menetapkan buat Diri-Nya:

قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ … [٦:١٢]

“Bertanyalah (wahai Muhammad): ‘Hak milik siapakah segala yang ada di langit dan di bumi?’ Katakanlah: ‘(Semuanya itu) adalah milik Allah! Dia telah menetapkan atas diri-Nya (untuk) memberi rahmat’…” (Surah al-An’am : Ayat 12).

Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk berdoa karena Allah mengetahui hajat manusia terhadap diri-Nya. Manusia memerlukan karunia dan kasih sayang-Nya untuk dapat hidup dengan baik, damai dan sejahtera.

Manusia juga memerlukan bantuan dan limpahan anugerah-Nya untuk dapat menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidupnya. Allah swt berfirman,


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [٤٠:٦٠]

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (Surah al-Ghaafir : ayat 60)

Oleh karena itu orang beriman selalu berdoa:

… رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [٢:٢٠١]

“…Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka”. (Surah al-Baqarah : Ayat 201)

Hamba yang mendapat rahmat dari Allah swt, diterima doa tersebut di atas dan doa tersebut menjadi induk dari segala doa-doanya. Doa yang telah diterima oleh Allah swt menyaring doa-doa yang lain.

Jika kemudian hamba meminta sesuatu yang mendatangkan kebaikan hanya kepada penghidupan dunia saja, tidak untuk akhirat dan tidak menyelamatkannya dari api neraka, maka doa induk itu menahan doa yang datang setelahnya.

Hamba dipelihara oleh Allah swt agar didatangi oleh sesuatu yang menggerakkannya ke arah yang ditunjukkan oleh doa induk itu. Jika permintaannya sesuai dengan doa induk tersebut, dia dimudahkan untuk mendapatkan apa yang dimintanya.

Oleh sebab itu doa adalah penyerahan kepada Yang Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.

Menghadaplah kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya serta ucapkan, “Wahai Tuhanku Yang Maha Lemah-lembut, Maha Mengasihani, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana! Saya adalah hamba yang bersifat terburu-buru, lemah dan jahil. Saya mempunyai permintaan tetapi saya tidak mengetahui akibatnya bagiku, sedangkan Engkau Maha Mengetahui.

Seandainya permohonanku ini baik akibatnya bagi dunia dan akhiratku dan melindungiku dari api neraka maka karuniakan lah ia kepada saya pada saat yang baik bagiku menerimanya.

Jika kesudahannya buruk bagi dunia dan akhiratku dan mendorongku ke neraka, maka jauhkan ia dari saya dan cabutlah keinginanku terhadapnya. Sesungguhnya Engkaulah Tuhanku Yang Maha Mengerti dan Maha Berdiri Sendiri”.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ [٢٨:٦٨]

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang direncanakan terjadinya, dan Dialah juga yang memilih (satu-satu dari makhluk-Nya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan); tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi siapapun memilih (selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaan-Nya dari apa yang mereka sekutukan dengan-Nya.“ (Surah al-Qashshash : Ayat 68)

Pengertian Doa , Syarah Kitab Al Hikam Oleh Prof, Ir Agus Priyono, phD di tulis ulang oleh patriapurwakarta.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *