Mie Instan dan Pemiskinan Perempuan

Mie Instan dan Pemiskinan PerempuanPernahkah anda di suatu sore yang dingin menyantap semangkuk mie instan panas?.

Mie tersebut disajikan dengan saus pedas dan sayuran yang menggugah selera.

Tentu pengalaman menyantap mie instan bukanlah hal yang istimewa karena hampir tiap saat orang bisa menikmatinnya. Harga sebungkus mie instan jauh lebih murah dibanding harga sepiring nasi.

Untuk menyantap mie instan juga tak perlu lauk yang lain. Beda halnya dengan sepiring nasi yang tak lengkap kalau tak ditemani lauknya.

Saat ini menyantap mie instan sudah menjadi budaya menggantikan nasi. Tidak hanya diperkotaan, budaya makan mi instan sudah memasuki perkampungan di seluruh pelosok nusantara.

Konsumsi mie instan di Indonesia adalah 43 juta bungkus perkapita pertahun dengan jumlah penduduk 200 juta, maka daya serap mie instan mencapai 860 juta bungkus pertahunnya. (Arimbi Heroeputri, Kenapa Tidak Gandum, (Jakarta: DWI, KoAGE, ALIANSI, ParaGraph, Loe Good, 2008), cet ke 7)

Budaya menyantap mie instan ini ternyata tidak sesederhana penyajiannya.  Ada banyak kisah yang menyertainya dan yang paling menyedihkan di antara nya adalah kisah Mie Instan dan Pemiskinan Perempuan

Mie Instan dan Pemiskinan Perempuan

Kisah dibalik semangkuk mie ini merupakan refleksi pertemuan pertama penulis dengan Arimbi Heroeputri seorang aktifis perempuan yang konsen mengkampanyenkan anti globalisasi.

Semangkuk mie instan ternyata memiliki hubungan erat dengan pemiskinan kaum perempuan yang berakibat pada terjadinya berbagai bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan.

Kisah ini diawali dengan bahan baku utama mie instan yaitu gandum. Dimana gandum tidak bisa tumbuh di Indonesia. Artinya untuk membuat mie instan Indonesia harus mengimpor 100% gandum.

Hampir seluruh pangan pokok di Indonesia dilakukan melalui skema impor. Di tahun 2001 tercatat impor gandum sebesar 4,3 juta ton, jagung 1,2 juta ton dan gula pasir 1,7 juta ton yang menghabiskan devisa Negara sampai Rp. 16,62 triliun.

Ini diluar impor buah-buahan yang mencapai Rp.900 miliar Pengeluaran Negara sebesarRp. 17 triliun di atas adalah setara dengan 5 persen dari pendapatan Negara di tahun 2005 (Rp. 285,481 triliun).(Kompas 16 Oktober 2001)

Angka impor pangan semakin lama semakin meningkat. Untuk produk gandum sebagai bahan baku utama mie instan meningkat 11% dalam kurun waktu 4 tahun (1997/98 – 2000/01), dan menempatkan Indonesia menjadi importir gandum ke-6 terbesar dunia setelah Brazil, Mesir, Iran, Jepang dan Algeria. Padahal Indonesia memiliki 77 sumber pangan karbohidrat.(Arimbi Heroeputri, 2008, )

Semenjak tahun 2002 tarif impor gandum adalah 0% artinya Negara tidak mendapatkan apa-apa dari usaha mengimpor gandum, malah merugi dengan mengeluarkan uang pembelian gandum tiap tahunnya.

Kenapa tarif impor gandum sampai 0%? Hal ini merupakan hasil dari kebijakan perdagangan dunia yang dikeluarkan oleh WTO (World Trade Organization, Dana moneter Internasional (IMF), Bank Pembangunan Asia (ADB), bank Pembangunan Afrika (AfDB), Bank pembangunan Eropa (EBRD), Bank Pembangunan Antar Amerika (IADB) dan bank Pembangunan Islam (IDB).

Lembaga-lembaga diatas disebut multilateral, karena anggota-anggotanya adalah para Negara di Dunia. Untuk WTO hampir semua Negara di dunia telah menjadi anggotanya. Demikian juga dengan IMF. Sedangkan untuk AfDB, IDB, IADB maupun ADB para anggotanya biasanya Negara maju ditambah Negara-negara yang berlokasi di kontinen tersebut.

Indonesia misalnya menjadi anggota WTO, Bank Dunia, IMF dan ADB. Tetapi tidak menjadi anggota Afdb maupun IDB. Sistem pengambilan keputusan dari lembaga-lembaga di atas didasarkan pada jumlah saham yang disetorkan anggota. Semakin besar saham yang diberikan semakin besar suara (vote) negara yang bersangkutan.

 Pemegang saham terbesar adalah Negara maju yang tergabung dalam G 7 (Amerika Serikat, Kanada, Itali, Jepang, Inggris, Jerman dan Prancis). Karena mereka pemegang saham maka kebijakan lembaga-lembaga multilateral di atas menjadi menjadi sangat tergantung selera Negara-negara maju tersebut.

Secara sendiri-sendiri pula para Negara maju itu membangun kekuatan ekonominya sendiri. Mereka menciptakan lembaga-lembaga keuangan untuk mendukung investasi mereka di luar negeri. Lembaga ini disebut lembaga Kredit Ekspor = ECA (Export Credit Agencies). ECA terbesar adalah JBIC – Jepang, Exim Bank – Amerika Serikat, EDC – Kanada, Hermes – Jerman.

Kemudian mereka juga menciptakan lembaga-lembaga penjamin sendiri, tujuannya member jaminan investassi asset-asset Negara maju tersebut menciptakan pula perusahaan-perusahaan multinasional (MNC = Multinational Corporation).

Dari 50 MNC terkenal, 21 berbasis di Amerika Serikat yang menguasai 54% dari total penjualan, disusul Jerman 10%, Inggris 9 %, Jepang 7%, Perancis 6% dan Belanda 5%. Sepertiga dari perdagangan dunia didominasi olah MNC, yang ternyata melakukan perdagangan diantara mereka sendiri.

PBB memperkirakan 50% dari ekspor Amerika terjadi diantara MNC mereka sendiri, sementara Inggris mencapai 30%-nya. Tetapi ketika pelaku bisnis bertindak bersamaan sebagai pembeli dan penjual, maka mekanisme pasar tidak dapat diterapkan terhadap mereka. Karena si pengusaha dapat menentukan harga menurut selera mereka sendiri. (Arimbi Heroeputri dan R. Valentina, 2004: 86-88)

Semua Keputusan yang menyangkut hajat hidup penduduk dunia saat ini tidak lagi ditentukan oleh Negara yang bersangkutan yang mendapat mandat dari rakyatnya. Melainkan harus mengikuti keputusan Negara-negara maju untuk memperkokoh hagemoni mereka.

Lewat tangan WTO mereka mengatur perdagangan dunia, lewat tangan lembaga multilateral, mereka dapat menentukan Negara-negara dan siapa saja yang dapat menikmati kucuran uang lembaga keuangan itu.

Lewat aturan IMF, mereka dapat menekan Negara-negara untuk mengikuti ‘resep’ mereka : deregulasi, privatisasi dan liberalisasi. Kunci utamanya adalah liberalisasi atau pasar bebas atau dalam bahasa awam bagaimana pasar dunia terbuka seluas mungkin bagi produk-produk Negara maju tersebut.

Sehingga dengan sendirinya, ketika ada jaminan bahwa produk-produk mereka terjual di seluruh dunia, maka jaminan keuntungan Kapital telah jelas di depan mata.

Ternyata dibalik semangkuk mie instan sebenarnya merupakan konspirasi global yang merupakan kejahatan terorganisir dari Negara maju menghisap Negara berkembang. Permasalahan ini berdampak kepada seluruh aspek suatu bangsa.

Dengan terjebaknya sebuah Negara pada konspirasi global neo-liberal (dengan deregulasi, privatisasi dan liberalisasi) maka akan semakin sulit sebuah Negara untuk keluar dari perangkap hutang luar negeri juga perangkap MNCyang membuat negara dan masyarakat tak berdaya ketika harga-hargadinaikan sedangkan Negara tak mendapat sepeserpun dari transaksi tersebut malah mendapatkan kerugian.

Lalu bagaimana dampak kisah di balik semangkuk mie instan ini pada pemiskinan kaum perempuan?.

Kisah dibalik semangkuk mie instan yang merupakan konspirasi global neoliberalisme ini ternyata telah menciptakan kemiskinan structural yang dialami jutaan perempuan di Negara miskin berkembang, semangkuk mie instan telah menciptakan sebuah cerita : Mie Instan dan Pemiskinan Perempuan

Perempuan harus menanggung utang yang sama sekali tak bermakna dan memberi manfaat baginya. Sebaliknya konspirasi global neoliberalisme tak mau menghitung berapa besar sumbangan perempuan, dalam sejarah kolonialisasi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun.

Hal ini merupakan feminisasi kemiskinan dan perluasan global kemiskinan yang mematikan kemandirian ekonomi sebagai salah satu nilai pemberdayaan perempuan.

Dalam bingkai konspirasi global neoliberalisme, kalau anda miskin itu bukan salah kami. Salah kamu kenapa kamu miskin. Mengapa kamu bodoh? Kalau perempuan tertinggal, mengapa kamu tertinggal?. Kita sudah membangun pasar bebas kok, semua orangbisa berkompetisi di pasar itu. Ini yang mereka sebut the fittest is the best, mereka yang bisa beradaptasi adalah mereka yang terbaik.

Pertanyaannya kenapa industry mie yang dibangun, bukannya industri pangan lokal?

Kalau industri pangan lokal digalakan maka akan ada gerakan kedaulatan pangan. Ada jaminan ketersediaan pangan. Konsumsi pangan yang aman dan pemenuhan kebutuhan pasar pangan dalam negeri oleh sumber dalam negeri sendiri, sehingga proteksi terhadap petani menjadi penting.

Hal inilah yang tidak dibolehkan oleh WTO. Karena WTO bekerja untuk membuat Negara-negara miskin berkembang bergantung pada Negara maju. Industri mie instan telah memperparah ketergantungan Indonesia terhadap Negara maju.

Saat ini produsen tepung terigu menaikan harga 4% tiap bulannya. Selama 2007 kenaikan mencapai 100%. Ini memukul langsung industry berbasis terigu yang menyangkut 3,3 juta tenaga kerja sector riil. (Kompas 12 Januari 2008).

Belum lagi industry mie instan ini merusak pasar pangan local yang dihasilkan petani. Belum lagi bungkus mie instan yang berjumlah 860 juta bungkus pertahun menjadi permasalahan serius bagi lingkungan.

Makan mie instan telah menjadi budaya menggantikan nasi yang sangat merugikan kesehatan bila dijadikan makanan pokok. Sehingga Taiwan salah satu negara yang bereaksi terhadap dampak kesehatan bila mie instan tetap dikonsumsi. Selain masalah mie instan di atas konspirasi global neoliberal juga berakibat naiknnya harga pangan, air, energy, transportasi dan komunikasi mengakibatkan bertambahnya beban perempuan.

Perempuan terjerembab dalam kesulitan ekonomi, krisis pola hubungan, tanpa mereka tahu mengapa hal itu terjadi. Dalam konteks “kekacauan ekonomi-politik” macam ini perempuan mengalami teror seksual yang senantiasa mengancam kekuasaan personalnya.

Diperkenalkannya kawasan perdagangan bebas, memperkenalkan perempuan pada “perbudakan terselubung” di mana perempuan dipaksa bekerja di ruang-ruang tertutup dengan jam kerja amat panjang, mengalami kekerasan seksual, larangan berorganisasi, pemaksaan keluarga berencana (pembelengguan kebebasan reproduksi).

Sementara itu perempuan tetap harus melaksanakan tugas-tugas domestiknya. Berkembangnya perusahaan multinasional (MNC) dengan orientasi akumulasi modal dan terbukanya pasar, mematikan hak-hak buruh perempuan untuk mendapatkan upah manusiawi, hak-hak berorganisasi dan reproduksi.

Bagi konspirasi global neoliberal hak-hak buruh adalah beban yang harus diminimalisasi (kalau tidak dihilangkan) lewat apa yang dinamakan “buruh kontrak” dengan perempuan sebagi target utama. Peraturan perdagangan dan aturan pertanian misalnya menjauhkan perempuan dari kekayaan pengetahuan (iklim, benih, pola bercocok tanam, pola menenun dan kedekatan dengan sumber daya alam yang merupakan warisan nenek moyangnya.

Politik ini mematikan keanekaragaman, autentisitas, kreatifitas, sintesis dan memiskinkan perempuan dari kekuatan personalnya. Masifikasi industri wisata oleh konspirasi global neoliberal dengan seks sebagai produk utamanya, meminggirkan perempuan sebagai objek seksual dan menghancurkan politik tubuh perempuan sebagai kedaulatan personal perempuan.

Terjadinya emigrasi besar-besaran perempuan (dan uang) Negara miskin berkembang yang terjerat utang untuk menempati kerja-kerja reproduksi sebagai tenaga kerja murah, mengukuhkan peran domestic berupah murah.

Mengukuhkan peran domestic perempuan dalam pembagian kerja internasional baru. Membangun kotak-kotak relasi ”pelayan dan nyonya majikan” yang menghancurkan persaudarian internasional (sisterhood). Pempuan kelas menengah Negara-negara maju “dibebaskan” dari beban domestic dengan sama sekali tidak membuka ruang-ruang perubahan social untuk konfrontasi perempuandan laki-laki membangun kesepakatan bersama tentang pembagian kerja diantara keduanya.

Emigrasi perempuan menjadi pembagian dan hirarki baru diantara perempuan yang mensolidkan mekanisme eksploitasi.

Kalau saat ini kebanyakan perempuan hanya menyentuh wilayah domestic saja, maka dia bisa mengambil kepemimpinan rumah tangga dengan menolak mie instan sebagai sebuah perwujudan perlawanan perempuan terhadap konspirasi global neoliberalisme tersebut.

Karenanya mari kita tolak budaya makan mie instan dan kembali kepada sumber daya lokal Indonesia.

tidak boleh ada lagi frasa Mie Instan dan Pemiskinan Perempuan

 

sumber : http://www.kompasiana.com/sunangunungdjati.com/mie-instant-dan-pemiskinan-perempuan_550046c58133119c19fa74d2

 

Tersimpan di Sisi Lain Dengan label: ,
%d blogger menyukai ini: