Menjaga Sunnah dengan Berlatih Memanah

berlatih memanahRasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berlatih memanah dan anjuran beliau atasnya, memanah di atas kuda dan jarak maksimal lemparan anak panah di jaman beliau.

Ketiga hadits shahih berikut menggambarkan kedinamisan aktivitas memanah di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlatih memanah dan anjuran beliau atasnya

 Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu berkata;

‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati beberapa orang dari suku Aslam yang sedang menunjukkan keahlian bermain panahan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Memanahlah wahai Bani Isma’il, karena nenek moyang kalian adalah ahli memanah.

Memanahlah dan aku berlatih bersama Bani Fulan”.

Salamah berkata: “Lalu salah satu dari dua kelompok ada yang menahan tangan-tangan mereka (berhenti berlatih), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Mengapa kalian tidak terus berlatih memanah?”.

Mereka menjawab: “Bagaimana kami harus berlatih sedangkan baginda berlatih bersama mereka?”.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berlatihlah, karena aku bersama kalian semuanya”.

(Hadits Riwayat Bukhari)

 

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanah dari atas kuda

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,

bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengalokasikan tanah untuk Az-Zubair Hudhru Farasih.

Kemudian beliau menjalankan kudanya hingga berdiri kemudian memanah menggunakan busurnya dan berkata; berikan kepadanya sejauh jarak yang dicapai busur ini.

(Hadits Riwayat Abu Daud)

  1. Jarak maksimal lontaran anak panah yang umum di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengabarkan dalam suatu hadits yang panjang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah singgah di pohon-pohon besar di sebelah kiri jalan di tempat saluran air dekat desa Harsya.

Saluran air itu letaknya berhubungan dengan ujung jalan desa Harsya yang jaraknya sejauh lemparan anak panah (kira-kira dua pertiga mil).

(Hadits Riwayat Bukhari)

 

Keterangan: Ahli hadits menyatakan bahwa jauh lemparan anak panah yang dimaksud adalah sejauh 2/3 mil, jika 1 mil sama dengan 1,61 kilometer maka 2/3 mil adalah 1,07 kilometer.

Sehingga jarak lemparan anak panah terjauh yang umum di jaman Rasulullah adalah sejauh 1,07 kilometer.

Pernyataan ini didukung oleh asumsi  dilakukan oleh seorang pemanah yang ahli dan menggunakan busur dan anak panah yang kuat yang biasa digunakan untuk berperang atau berburu.

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *