Menguak Tabir Raja Raja Sunda

Raja Raja sundaMenguak Tabir Raja Raja Sunda telah menjadi pencarian sepanjang waktu oleh para peneliti sejarah. mereka terus mencari jauh ke masa lalu untuk mengungkap kisah siapa sebenar nya raja raja sunda.

Pencarian mereka itu kemudian di tuangkan dalam catatan catatan penuh makna sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya, generasi yang tidak lupa akan leluluhurnya raja raja sunda. berikut ini adalah beberapa catatan hasil penelusuran para ahli sejarah tersebut.

 

Raja Raja Sunda

Kisah nya panjang tapi tulisan memulai sejak era Tarusbawa (669 – 723 M). Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13.

Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa.

Karena Putera Mahkota Galuh (Sena, Sanna atau Bratasena) berjodoh dengan Sanaha puteri Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.

berikut rincian urutan Raja Raja Sunda (tahun berdasarkan Masehi)

  1. Tarusbawa (669 – 723)

Tarusbawa adalah raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Sunda. Ia merupakan menantu Linggawarman, raja terakhir kerajaan Tarumanagara yang hanya berkuasa selama tiga tahun (666-669 M).

Sepeninggal Linggawarman, Tarusbawa mewarisi tahta kerajaan Tarumanagara, Hal ini memicu pemberontakan dari Galuh (salah satu daerah kekuasaan Tarumanagara). Galuh yang saat itu dipimpin Wretikandayun, kemudian memisahkan diri menjadi kerajaan Galuh.

Tarusbawa kemudian memindahkan pusat kerajaan Tarumanagara ke daerah Sunda, dan mendirikan kerajaan Sunda. Kemudian menjadikan Tarumanagara justru sebagai bagian dari kerajaan Sunda.

Tarusbawa dinobatkan sebagai raja Sunda pada pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (sekitar tanggal 18 Mei 669 M). Masa pemerintahan Tarusbawa berakhir pada tahun 723 M saat ia meninggal. Tahta kerajaan Sunda kemudian diwariskan pada menantunya (suami dari cucu Tarusbawa), yaitu Sanjaya.

  1. Harisdarma atau Sanjaya (723 – 732)

Sanjaya adalah cicit dari Wretikandayun (raja pertama kerajaan Galuh, yang memisahkan diri dari kerajaan Tarumanagara). Ia menikahi cucu Tarusbawa, yang bernama  Nay Sekarkancana. Karena anak laki-laki Tarusbawa meninggal di usia muda, maka tahta kerajaan Sunda jatuh pada Sanjaya.

Dengan silsilah seperti diatas, Sanjaya juga merupakan pewaris sah dari kerajaan Galuh. Namun pada tahun 716 M, ayah Sanjaya, Bratasenawa atau Sena (raja ketiga Galuh) dikudeta dari tahtanya oleh Purbasora (saudara seibu Sena sendiri).

Saat kudeta terjadi, Sanjaya dan keluarganya melarikan diri ke daerah Pakuan Pajajaran (pusat pemerintahan kerajaan Sunda). Kemudian meminta pertolongan pada Tarusbawa untuk menyerang Galuh, dengan tujuan melengserkan Purbasora.

Saat Tarusbawa meninggal tahun 723 M, tahta kerajaan Sunda diwariskan pada Sanjaya. Dengan begitu, kekuasaan Sunda dan Galuh sama–sama berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh kembali bersatu. Sanjaya berkuasa hingga tahun 732 M, dan mewariskan tahta kerajaan pada puteranya, Tamperan Barmawijaya.

  1. Tamperan Barmawijaya (732 – 739)

Tamperan Barmawijaya atau Rakeyan Panaraban adalah anak dari sanjaya. Ia juga dikenal dengan nama Rakeyan Panaraban. Tamperan Barmawijaya memerintah kerajaan Sunda-Galuh selama tujuh tahun, yaitu sejak 732 M hingga 739 M.

Namun Temperan Barmawijaya mewariskan kerajaan dengan cara membagi kekuasaan Sunda dan Galuh pada kedua puteranya. Kerajaan Galuh Ia wariskan pada Sang Manarah, yang dalam cerita rakyat sering disebut Ciung Wanara.

Sementara kerajaan Sunda Ia wariskan pada Rakeyan Banga. Itu berarti, sejak tahun 739 M, Sunda dan Galuh kembali dipimpin oleh raja yang berbeda. Meski begitu, hubungan kedua kerajaan tersebut tetap harmoni.

  1. Rakeyan Banga (739 – 766)

Prabu Kertabuana Yasawiguna Hajimulya atau Rakeyan Banga merupakan anak dari Tamperan Brawijaya. Ia diwarisi kerajaan Sunda dan memimpinnya selama 27 tahun dari 739 M hingga 766 M. Rakeyan Banga kemudian mewariskan kerajaan Sunda pada puteranya, yaitu Rakeyan Medang.

  1. Prabu Hulukujang (766 – 783)

Rakeyan Medang bergelar Prabu Hulukujang. Ia memerintah kerajaan Sunda selama 17 tahun, yaitu sejak 766 M hingga 783 M. Namun karena anaknya perempuan, Rakeyan Medang mewariskan tahta kerajaan Sunda kepada menantunya, yaitu Rakeyan Hujungkulon.

  1. Prabu Gilingwesi (783 – 795)

Rakeyan Hujungkulon disebut juga Prabu Gilingwesi. Ia berasal dari kerajaan Galuh. Pernikahan antara Rakeyan Hujungkulon dengan anak dari Rakeyan Medang merupakan salah satu bukti harmoninya hubungan antara kerajaan Sunda dan Galuh.

Rakeyan Hujungkulon atau Prabu Gilingwesi memimpin kerajaan Sunda selama 12 tahun, dari 783 M hingga 795 M. Karena anak dari Rakeyan Hujungkulon pun perempuan, maka tahta kerajaan Sunda diwariskan pada menantunya, yaitu Pucukbumi Darmeswara.

  1. Prabu Pucukbumi Darmeswara (795 – 819)

Prabu Pucukbumi Darmeswara, atau disebut juga Rakeyan Diwus, memimpin kerajaan Sunda selama 24 tahun, yaitu sejak 795 M sampai 819 M. Dari Rakeyan Diwus, tahta kerajaan Sunda kemudian diwariskan pada puteranya, yaitu Prabu Gajah Kulon.

  1. Prabu Gajah Kulon (819 – 891)

Prabu Gajah Kulon atau Rakeyan Wuwus, menduduki tahta Kerajaan Sunda selama 73 tahun. Saat Rakeyan Wuwus menjabat sebagai Raja Sunda, tepatnya pada tahun 842,  kerajaan Galuh juga jatuh ke tangannya. Hal ini disebabkan meninggalnya Raja Galuh saat itu yang juga saudara ipar Rakeyan Wuwus, yang bernama Prabu Linggabhumi.

Sehingga pada tahun tersebut kerajaan Sunda-Galuh kembali ada dalam satu kepemimpinan. Semeninggal Rakeyan Wuwus pada tahun 891, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan pada adik ipar Rakeyan Wuwus, yaitu Prabu Darmaraksa.

  1. Prabu Darmaraksa (891 – 895)

Prabu Darmaraksa memerintah Kerajaan Sunda hingga tahun 895. Namun ia mengakhiri masa kekuasaannya dengan tragis. Pada tahun 895 Prabu Darmaraksa dibunuh karena para petinggi kerajaan Sunda tidak menyukainya. Akhirnya tahta kerajaan diturunkan pada putera Prabu Darmaraksa, yang bernama Rakeyan Windusakti.

  1. Windusakti Prabu Déwageng (895 – 913)

Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewageng menjabat sebagai Raja Sunda selama delapan tahun. Hingga akhirnya tahta kerajaan diwariskan pada anak sulungnya, yaitu Rakeyan Kamuning Gading.

  1. Prabu Pucukwesi (913 – 916)

Rakeyan Kamuning Gading atau Prabu Pucukwesi hanya berkuasa selama tiga tahun, karena ditahun ketiga pemerintahannya, tahta kerajaan Sunda direbut adiknya, yang bernama Rakeyan Jayagiri.

  1. Prabu Wanayasa (916 – 942)

Rakeyan Jayagiri disebut juga Prabu Wanayasa. Memerintah kerajaan Sunda selama 28 tahun. Tahta Sunda kemudian diwariskan pada anak Rakeyan Jayagiri, yang bernama Atmayadarma Hariwangsa.

  1. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)

Rakeyan Watuagung atau disebut juga Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa memerintah Sunda selama delapan tahun. Kekuasaanya berakhir karena tahta kerajaan Sunda direbut kembali sebagai pembalasan dendam oleh Limbur Kencana (anak Rakeyan Kamuning Gading, Raja Sunda ke-11).

  1. Limbur Kancana (954 – 964)

Limbur Kancana menjabat sebagai Raja Sunda selama sepuluh tahun, hingga akhirnya ia mewariskan tahta pada anak sulungnya yang bernama Rakeyan Sundasambawa.

  1. Prabu Munding Ganawirya (964 – 973)

Prabu Munding Ganawirya atau Rakeyan Sundasambawa memerintah Sunda selama Sembilan tahun. Karena Sundasambawa tidak memiliki putera, tahta Kerajaan Sunda diwariskan pada adik iparnya, yaitu Rakeyan Wulung Gadung.

  1. Prabu Jayagiri (973 – 989)

Prabu Jayagiri atau Rakeyan Wulung Gadung memerintah selama 16 tahun. Kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Prabu Brajawisesa.

  1. Prabu Brajawisésa (989 – 1012)

Prabu Brajawisesa atau Rakeyan Gendang memerintah selama 13 tahun. Setelah masa pemerintahannya, tahta Sunda diwariskan pada cucu Prabu Brajawisesa, yaitu Prabu Dewa Sanghyang.

  1. Prabu Déwa Sanghyang (1012 – 1019)

Prabu Dewa Sanghyang memerintah kerajaan Sunda selama tujuh tahun, kemudian dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Prabu Sanghyang Ageng.

  1. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030)

Prabu Sanghyang Ageng memerintah selama sebelas tahun. Tahta kerajaan Sunda kemudian diwariskan pada anaknya, Sri Jayabupati.

  1. Sri Jayabupati (1030 – 1042)

Sri Jayabupati atau Detya Maharaja memerintah selama 12 tahun. Di masa pemerintahannya ia membuat prasasti Cibadak, di prasasti tersebut Sri Jayabupati tercantum dengan gelarnya, yaitu Dharmawangsa. Setelah masa kepemimpinan Sri Jayabupati selesai, tahta kerajaan Sunda diwariskan pada puteranya, Darmaraja.

  1. Darmaraja (1042 – 1065)

Darmaraja atau Sang Mokteng Winduraja memerintah selama 23 tahun. Tahta Sunda kemudian diwariskan pada menantunya, Prabu Langlangbumi.

  1. Prabu Langlangbumi (1065 – 1155)

Prabu Langlangbumi atau Sang Mokteng Kerta memerintah selama 90 tahun. Tahta Sunda kemudian diwariskan pada Puteranya, yaitu Prabu Menakluhur.

  1. Prabu Ménakluhur (1155 – 1157)

Prabu Menakluhur atau Rakeyan Jayagiri hanya memerintah selama dua tahun. Kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Prabu Darmakusuma.

  1. Prabu Darmakusuma (1157 – 1175)

Prabu Darmakusuma atau Sang Mokteng Winduraja memerintah kerajaan Sunda selama 18 tahun. Tahta kerajaan Sunda kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Prabu Darmasiksa.

  1. Prabu Guru Darmasiksa (1175 – 1297)

Prabu Guru Darmasiksa memerintah selama 122 tahun. Pemerintahan kerajaan Sunda kemudian dilanjutkan oleh putera terbesarnya, Prabu Ragasuci.

  1. Prabu Ragasuci (1297 – 1303)

Prabu Ragasuci atau Sang Mokteng Taman memerintah Kerajaan Sunda selama enam tahun. Kemudian digantikan puteranya, Prabu Citraganda.

  1. Prabu Citraganda (1303 – 1311)

Prabu Citraganda atau Sang Mokteng Tanjung memerintah selama delapan tahun. Kepemimpinan Kerajaan Sunda diwariskan pada anaknya, Prabu Linggadewata.

  1. Prabu Linggadéwata (1311-1333)

Prabu Linggadewata memerintah selama 22 tahun. Namun karena tidak memiliki anak laki-laki, tahta Kerajaan Sunda diwariskan pada menantunya, yaitu Prabu Ajiguna Linggawisesa.

  1. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)

Prabu Ajiguna Linggawisesa memerintah selama tujuh tahun. Kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Prabu Ragamulya Luhurprabawa.

  1. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)

Prabu Ragamulya Luhurprabawa memerintah selama sepuluh tahun. Tahta Kerajaan Sunda kemudian dilanjutkan puteranya, yaitu Prabu Linggabuanawisesa.

  1. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357)

Prabu Maharaja Linggabuanawisesa memerintah kerajaan Sunda selama tujuh tahun. Maharaja Linggabuana mengakhiri kekuasaannya karena gugur di medan pertempuran perang Bubat. Namun karena saat itu putera Maharaja Linggabuana (yang bernama Niskalawastukancana) masih kecil, tahta kerajaan Sunda untuk sementara diserahkan pada adik Maharaja Linggabuana, yaitu Prabu Bunisora.

  1. Prabu Bunisora (1357-1371)

Prabu Bunisora memerintah selama 14 tahun. Setelah Prabu Bunisora meninggal, tahta kerajaan kembali ke anak Maharaja Linggabuana, Prabu Niskalawastukancana.

  1. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)

Prabu Niskalawastukancana memerintah selama 104 tahun. Tahta kerajaan Sunda dilanjutkan puteranya, Prabu Susuktunggal.

  1. Prabu Susuktunggal (1475-1482)

Prabu Susuktunggal atau Sang Haliwungan memerintah kerajaan Sunda selama tujuh tahun. Tahta kerajaan Sunda kemudian diwariskan pada anaknya, Jayadewata.

  1. Prabu Siliwangi (1482-1521)

Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang oleh masyarakat Sunda lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi, memerintah selama 39 tahun. Setelah itu tahta kerajaan diwariskan pada anaknya, Prabu Surawisesa.

  1. Prabu Surawisésa (1521-1535)

Prabu Surawisesa memerintah selama 14 tahun.  Tahta Kerajaan Sunda kemudian diwariskan pada puteranya, Prabu Dewatabuanawisesa.

  1. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)

Prabu Dewatabuanawisesa memerintah selama delapan tahun. Kemudian tahta Sunda diwariskan pada puteranya, Prabu Sakti.

  1. Prabu Sakti (1543-1551)

Prabu Sakti juga memerintah selama delapan tahun. Setelah itu pemerintahan Kerajaan Sunda dilanjutkan puteranya, Prabu Nilakendra.

  1. Prabu Nilakéndra (1551-1567)

Prabu Nilakendra memimpin Kerajaan Sunda selama 16 tahun. Setelah itu tahta kerajaan Sunda diwariskan pada puteranya, Prabu Suryakancana.

  1. Prabu Suryakancana (1567-1579)

Prabu Suryakancana atau Prabu Ragamulya merupakan Raja terakhir Kerajaan Sunda, karena pada masa pemerintahan Prabu Suryakancana, Kerajaan Sunda beberapa kali diserang oleh pasukan Islam dari Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf.  Hingga akhirnya Kerajaan Sunda (Pajajaran) runtuh

 

demikianlah sepenggal catatan sejarah tentang raja raja sunda.

 

sumber :

https://abahambu145.wordpress.com

https://id.wikipedia.org

Tersimpan di Sisi Lain Dengan label:
%d blogger menyukai ini: