Mata Hati Yang Buta, Hijab Nafsu dan Hijab Akal

Mata Hati Yang Buta, Hijab Nafsu dan Hijab Akal
foto alquran Traveller

MATA HATI YANG BUTA  : KERAJINAN KAMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH TERJAMIN UNTUK KAMU DI SAMPING KELALAIAN KAMU TERHADAP KEWAJIBAN YANG DIAMANAHKAN KEPADA KAMU, MENUNJUKKAN BUTA MATA HATI.

Hikmat ke 5 ini, Mata Hati Yang Buta, merupakan lanjutan dari Hikmat yang lalu.
http://patriapurwakarta.com/allah-swt-mengatur-segala-urusan/

Imam Ibnu Atha’illah menceritakan pengaruh dari hijab nafsu dan hijab akal yang menutup hati dibandingkan dengan melihat pada takdir yang menjadi ketentuan Allah swt.

Ada tiga urusan yang dikemukakan untuk direnungkan:

1. Jaminan Allah swt
2. Kewajiban hamba
3. Mata hati yang mengenal jaminan Allah swt dan kewajiban hamba.

Penyingkapan rahasia mata hati adalah penting untuk memahami Kalam Hikmat di atas. Mata hati ialah mata bagi hati atau dapat juga dikatakan kemampuan mengenal yang dimiliki oleh hati.

Kadang-kadang mata hati ini dipanggil sebagai mata batin. Istilah “mata batin” digunakan untuk membedakan istilah mata hati dengan mata yang lahiriyah, yaitu mata yang dimiliki oleh diri lahiriyah. Diri manusia secara lahiriyah terbentuk dari daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit dan lain-lain.

Diri secara lahiriyah ini mempunyai kemampuan untuk melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh.

Mata Hati Yang Buta, Diri Lahiriyah dan Diri Batiniyah

Diri lahiriyah memperoleh kehidupan dari perjalanan darah ke seluruh tubuhnya dan aliran nafas dalam bentuk uap atau gas yang keluar masuk melalui hidung dan mulut. Jika darahnya dikeringkan atau dibekukan ataupun jika aliran uap yang keluar masuk itu dihalangi maka diri lahiriyah akan mengalami suatu keadaan di mana seluruh bagian tubuhnya terhenti berfungsi dan dinamakan mati!

Diri lahiriyah ini jika disusun dapat dikatakan bahwa ia terdiri dari tubuh dan nyawa serta pancaindera yang dapat mengenal sesuatu yang lahiriyah. Pusat kendalinya ialah otak yang mengendalikan fungsi semua indera dan juga melahirkan daya pertimbangan atau akal fikiran.

Sedangkan diri batiniyah mempunyai susunan yang sama seperti diri lahiriyah tetapi dalam keadaan ghaib.

Ia juga mempunyai tubuh yang dipanggil kalbu atau hati. Hati yang dimaksud bukanlah segumpal daging yang berada di dalam tubuh. Namun ia merupakan hati ruhani atau hati nurani.

Ia bukan kejadian alam kasar, sebab itu ia tidak dapat dipengaruhi oleh pancaindera lahiriyah. Ia termasuk di dalam persoalan ghaib yang diistilahkan sebagai Latifah Rabbaniyah atau sesuatu yang menjadi rahasia ketuhanan.

Apabila di dalam keadaan suci bersih, ia dapat mendekati Tuhan. Ia juga yang menjadi tilikan Tuhan. Hati nurani ini juga memiliki nyawa yang dibahasakan sebagai roh. Roh juga termasuk di dalam golongan Latifah Rabbaniyah.

Ia adalah urusan Tuhan dan manusia hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenainya. Firman Allah swt,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [١٧:٨٥]

Katakan: ‘Roh itu dari perkara urusan Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit saja’.” (Surah al-Isra’ : Ayat 85)

Latifah Rabbaniyah

Jiwa atau hati nurani juga mempunyai sifat yang mampu melahirkan pemahaman dan pengetahuan. Ia dipanggil akal yang juga termasuk di dalam golongan Latifah Rabbaniyah yang tidak mampu diuraikan. Akal jenis ini berguna untuk mengkaji tentang ketuhanan.

Tubuh lahiriyah mempunyai indera untuk mengenal persoalan lahiriyah. Indera tersebut dipanggil penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan penyentuhan dan alat-alat yang berkaitan dengannya adalah mata, telinga, hidung, lidah, tangan dan lain-lain.

Jiwa atau diri batiniyah juga mempunyai indera yang digunakan untuk mengenal persoalan ghaib dan indera ini dinamakan bashirah atau mata hati. Mata hati berbeda dari sifat melihat yang dimiliki oleh mata lahiriyah. Mata lahiriyah melihat sesuatu yang bersifat lahiriyah dan mata hati syuhud atau menyaksikan pada yang ghaib.

Semua hal yang ada di sekeliling kita dapat dilihat melalui dua aspek, yaitu yang nyata dilihat dengan mata lahiriyah dan yang ghaib dilihat dengan mata hati.

Jika kita ambil satu bagian kecil gula, mata kasar melihat pada sejenis kristal berwarna keputihan. Bila diletakkan pada lidah terasa manisnya. Ketika menikmati rasa manis itu kita membayangkan seolah-olah memandang jauh kepada sesuatu yang tidak ada di depan mata.

Perbuatan merenung jauh itu sebenarnya adalah terjemahan dari perbuatan mata hati memandang pada hakikat gula yaitu manis.

Bagaimana rupa manis tidak dapat diceritakan tetapi mata hati yang melihat padanya mengenal bahwa gula adalah manis. Jika mata lahiriyah melihat sebilah pedang, maka mata hati akan melihat pada tajamnya.

Jika mata lahiriyah melihat kepada lada, mata hati melihat kepada pedasnya. Jadi, mata lahiriyah mengenal dan membedakan rupa yang lahiriyah sementara mata hati mengenal dan membedakan hakikat yang ada pada yang lahiriyah. Mata hati yang hanya berfungsi sekedar mengenal manis, tajam, pedas dan yang semisalnya, masih dianggap sebagai mata hati yang buta.

Mata Hati Melihat Yang Hakiki

Mata hati hanya dianggap “melihat,” jika mampu melihat urusan ketuhanan di balik yang nyata dan yang tidak nyata.

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw bersabda,

قَدْ كَانَ يَكُونُ فِي الأُمَمِ قَبْلَكُمْ مَحَدِّثُونَفَإنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنهُمْ أَحَدٌ فَإنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ مِنهُمْ (الحديث)

”Sesungguhya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang ummatku mendapatkannya maka Umar-lah salah seorangnya.” [HR Imam Muslim, no. 4411; Imam Bukhari, no. 3413; at-Tirmidzi, no. 3626; Imam Ahmad, no.23150]

Umar bin Khathab ra. berkata,

اِقْتَرِبُوْا مِنْ أَفْوَاهِ الْمُطِيْعِيْنَ، وَاسْمَعُوْا مِنْهُمْ مَا يَقُوْلُوْنَ فَإِنَّهُ تَتَجَلَّى لَهُمْ أُمُوْرٌ صَادِقَةٌ. وَهَذِهَ اْلأُمُوْرُ الصَّادِقُةُ… هِيَ اْلأُمُوْرُ الَّتِيْ يَكْشِفُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ ِلأَوْلِيَاءِ اللهِ مُخَاطَبَاتٍ وَمُكَاشَفَاتٍ

Mendekatlah ke lisan orang-orang yang taat dan dengarkanlah apa-apa yang mereka katakan. Sebab mereka dapat melihat hal-hal yang benar. Hal-hal yang benar tersebut adalah hal-hal yang diperlihatkan oleh Allah azza wa jalla kepada mereka. Sesungguhnya, tidak dapat diragukan bahwa para wali Allah memperoleh ilham dan kasyaf…” [Jami’u al-Fatawa, 11/203, 205]

Kekuatan pancaran mata hati tergantung pada kekuatan hati itu sendiri. Semakin bersih dan suci hati, maka bertambah teranglah mata hati. Jika cukup terang, ia bukan saja mampu melihat pada yang tersembunyi di balik rupa bentuk lahiriyah yang ada di sekeliling kita, bahkan mampu melihat atau syuhud pada sesuatu yang di luar dari dunia.

Utsman bin Affan ra. berkata bahwa seseorang menemuinya, lantas ia berkata kepada orang tersebut,


يَدْخُلُ عَلَيَّ أَحَدُكُمْ وَالزِّنَا فِيْ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أُوْحِيَ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهِ ؟ فَقَالَ: لاَ، وَلَكِنْ فِرَاسَةٌ صَادِقَةٌ

“Seorang dari kalian menemui saya dalam keadaan kedua matanya telah melakukan zina.” Orang tersebut bertanya: “Apakah ada wahyu sepeninggal Rasulullah saw?” Utsman ra menjawab: “Tidak ada, tetapi yang ada adalah firasat yang benar.” [ath-Thuruq al-Hakimah fi as-Siyasat asy-Syar’iyah : 41]

Dunia adalah segala sesuatu yang berada di dalam bulatan langit yang pertama atau langit dunia atau langit rendah. Langit rendah ini merupakan perbatasan dunia.

langit dunia dinamakan Alam Barzakh. Meninggal dunia mengandung arti bahwa roh dimana rumahnya yaitu jasad telah tidak sesuai lagi didiaminya atau dipanggil sebagai mengalami kematian, dibawa keluar dari langit dunia dan ditempatkan di dalam Alam Barzakh.

Fungsi mata hati ialah melihat yang hakiki. Mata hati yang mampu melihat dunia secara keseluruhan sebagai satu wujud akan mengenal sesuatu yang hakiki tentang dunia itu.

Oleh karena persaksian mata hati bersifat tidak dapat dinyatakan secara jelas maka untuk itu diperlukan ibarat untuk memudahkan pemahaman.

Ibarat yang biasa digunakan untuk menceritakan tentang hakikat dunia ialah: “Dunia adalah seorang perempuan yang sangat tua dan sangat bodoh. Tubuhnya kotor dan berpenyakit, bernanah di sana sini dan ada sebagiannya yang sudah dimakan ulat”.

Begitulah lebih kurang perasaan orang yang melihat kepada hakikat dunia dengan mata hatinya. Bagaimana rupa hakikat yang menyebabkan timbul perasaan dan ibarat yang demikian, tidak dapat diuraikan.

Mata Hati Yang Lebih Kuat Mampu Melihat Keabadian

Mata hati yang lebih kuat mampu menyaksikan Alam Barzakh dan mengenal satu lagi hakikat yang dinamakan keabadian, yaitu sifat hari akhirat. Kematian membinasakan jasad dan kiamat membinasakan alam seluruhnya tetapi tidak membinasakan Roh dimana tergantung kitab amal perbuatan masing-masing.

Ahli maksiat tidak dapat diselamatkan oleh kematian dan kiamat. Ahli taat yang tidak mendapat ganjaran yang setimpal di dunia tidak binasa ketaatannya oleh kematian dan kiamat.

Tanggungjawab seorang hamba akan terus dipikulnya melewati kematian, Alam Barzakh, Kiamat, Padang Mahsyar dan selanjutnya menghadapi hari pembalasan.

Tanggungjawab itu hanya gugur setelah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil lagi Maha Mengetahui serta Maha Perkasa menjatuhkan hukuman. Inilah hakikat yang ditemukan oleh mata hati yang menyelami Alam Barzakh, bukan melihat roh orang mati di dalam kubur.

Mata Hati Yang Buta Tidak Mengenal Yang Ghaib

Mata hati berfungsi mengenal persoalan yang ghaib. Makrifat atau pengenalan pada keabadian atau hari akhirat akan melahirkan kesungguhan dalam menjalankan amanat Allah swt yaitu mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Amanat itu akan terus dibawa oleh para hamba untuk diserahkan kembali kepada Allah swt yang meletakkan amanat tersebut kepada mereka. Makrifat mata hati yang demikian melahirkan sifat takwa dan melaksanakan amal shalih. Ketika takwa dan amal shalih sudah menjadi sifat seorang hamba maka masuklah hamba itu ke dalam jaminan Allah swt.


هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ رِزْقًا ۚ وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ [٤٠:١٣]

“Dialah Tuhan yang memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya (untuk menghidupkan ruhani kamu), dan yang menurunkan (untuk jasmani kamu) sebab-sebab rezeki dari langit. Dan tiadalah yang ingat serta mengambil pelajaran (dari yang demikian) melainkan orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (Surah al-Ghafir : Ayat 13)

Dari Abu Qatadah bin Rib’i ra, Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah SWT berfirman,


إنِّي فَرَضْتُ عَلَي أَمَتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَعَهِدْتُ عِنْدِي عَهْدًا أَنَّهُ مَنْ جَاءَ يَحَافِظُ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيهِنَّ فَلَا عَهْدَ لَهُ عِنْدِي (الحديث)

“Sesungguhya Aku telah mewajibkan shalat lima waktu kepada umatmu. Dan Aku telah berjanji pada diri-Ku, bahwa barangsiapa yang menjaga shalat pada waktunya, niscaya akan Aku masukkan ke dalam surga dengan jaminan-Ku. Dan barangsiapa yang tidak menjaga shalatnya, maka Aku tidak memberi jaminan baginya.” [HR Abu Daud, no. 366; Ibnu Majah, no. 1393]

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda,


مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ (الحديث)

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR Imam Muslim, no. 1051; Ibnu Majah, no. 3935; at-Tirmidzi, no. 2090)

Allah swt sebagai Tuhan, Tuan atau Majikan, sekali-kali tidak mengabaikan tanggungjawab-Nya untuk memberi rezeki dan limpahan karunia-Nya kepada hamba-Nya sedangkan hamba berkewajiban mentaati Tuan mereka.

Seorang Hamba Harus berbuat sesuai Maqam nya

Rezeki telah dijamin oleh Allah swt dan jalan untuk mendapatkan rezeki tersebut, seorang hamba hanya perlu berbuat sesuai dengan maqamnya. Jika dia seorang ahli asbab maka bekerjalah ke arah rezekinya dan jangan iri hati terhadap rezeki yang dikaruniakan-Nya kepada orang lain.

Jika dia ahli tajrid maka bertawakallah kepada Allah swt dan jangan gusar jika terjadi kelewatan atau kekurangan dalam urusan rezeki. Walau dalam maqam manapun seseorang hamba berada, dia mesti melakukan kewajiban yaitu bersungguh-sungguh mentaati Allah swt dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Hamba yang terbuka mata hatinya akan percaya dengan seyakin-yakinnya terhadap jaminan Allah swt dan tidak mengabaikan kewajibannya. Hamba ini akan melipat-gandakan kesungguhan dan kerajinannya untuk bertakwa dan beramal shalih tanpa mencurigai jaminan Allah swt tentang rezeki untuknya.


… لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ [٢٠:١٣٢]

“… Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Surah Thaha : ayat 132)

Sabda Rasulullah saw,


إنَّ اللهَ قَالَ مَنْ عَدَي لِي وَلِيّ فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إلّيَّ مِمَّا افْتَرّضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بِالْنَوَافِلِ حَتَّي أُحِبَّهُ فَإذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَاْ فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَاْ أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (الحديث)

“Sesungguhnya Allah berfirman; ‘Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan.

Dan tidak lah hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, sehingga Aku mencintai dia, maka jika Aku sudah mencintainya, Aku lah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul dan kakinya yang ia jadikan untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Ku-beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.

Dan Aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku sendiri menjadi pelakunya sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” [HR Imam Bukhari, no. 6021; Imam Ahmad, no. 24997]

Hamba yang buta mata hatinya akan berbuat yang berlawanan, yaitu dia tekun dan rajin di dalam mencari rezeki yang dijamin oleh Allah swt, tetapi dia mengabaikan tanggungjawab yang diamanatkan oleh Allah swt.

Orang ini akan menggunakan daya usaha yang banyak untuk memperoleh rezeki yang bisa didapatkan dengan daya usaha yang sederhana, sebaliknya akan menggunakan daya usaha yang sedikit dengan harapan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkan kecuali dengan daya usaha yang gigih dan perjuangan yang hebat yaitu pahala-pahala bagi amal shalih.

Mata hati melihat pada yang hak dalam keghaiban

Mata hati melihat pada yang hak dalam keghaiban. Nafsu hanya berminat dengan kebendaan yang nyata, menutupi yang hak itu dan akal mencarikan hujah untuk menguatkan keraguan yang tumbuh pada nafsu. Persoalan ghaib disaksikan dengan keyakinan.

Jika nafsu dan akal bersepakat mengadakan keraguan, maka kebenaran yang ghaib akan terhijab. Orang yang mencari kebenaran tetapi gagal menundukkan nafsu dan akalnya akan berputar-pusing di tempat yang sama. Keyakinan dan keraguan senantiasa berperang dalam jiwanya.

Ibrahim al-Khawwash berkata, “Janganlah memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (untuk dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang telah diamanahkan (diwajibkan) kepadamu untuk memenuhinya.”

Mata Hati Yang Buta, Syarah kitab Al Hikam penulis Prof. Ir Agus Priyono, phD di tulis ulang oleh patriapurwakarta.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *