Manusia Manusia Yang di Binasakan

binasaSombong bukanlah pakaian yang pas untuk manusia. Bila manusia memaksa memakainya, maka akan longgar dan kebesaran

Sifat sombong adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala  . Ini diingatkan-Nya dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim, “Keagungan adalah sarung-Ku, dan kesombongan adalah selendang-Ku, maka siapa yang merebutnya dari-Ku niscaya Aku akan mengazabnya.”

Dalam catatan sejarah pernah hidup manusia-manusia sombong. Mereka tidak hanya sombong terhadap manusia tetapi juga menantang Allah dan ayat-ayat-Nya. Meski Allah telah mengutus wakil untuk mengingatkan tetapi mereka justru semakin merajalela dengan kesombongannya. Allah pun mengazab mereka. Siapa saja manusia-manusia sombong itu? Berikut di antaranya:

  1. Raja Namrudz

Nama lengkapnya adalah Namrudz bin Kan’an bin Kusy bin Sam bin Nuh. Ia raja sombong yang mengenggam kekuasaan dunia dimasa kehidupan IbrahimAlaihissalam. Namrudz mengaku sebagai tuhan yang tidak akan pernah mati dan yang menentukan nasib bagi masyarakat banyak. Menurut salah satu sumber, Namrudz berkuasa selama 400 tahun.

Ibrahim pernah mengajak Namrudz untuk berdialog tentang eksistensi Tuhan. Dialog ini diharapkan dapat meruntuhkan kesombongan Namrudz. Ibrahim berkata kepada Namrudz bahwa salah satu sifat Tuhan adalah penentuan kehidupan dan kematian. Ini adalah bukti paling nyata yang dapat menyentuh akal. Bukti ini semestinya mampu mengoyak kesombongan Namrudz akan hakikat Tuhan.

Namun, bukan apresiasi positif Namrudz yang diterima Ibrahim, Namrudz malah mempertontonkan kesombongan di hadapan Ibrahim. “Aku bisa menghidupkan dan mematikan,” kata Namrudz.

“Bagaimana engkau bisa melakukan itu?” tanya Ibrahim.

Namrudz lalu menghadirkan dua orang lelaki yang sudah divonis mati. Dengan sombongnya Namrudz berkata,” Aku ampuni lelaki yang ini dan aku perintahkan untuk membunuh lelaki itu. Dengan begitu, aku telah mematikan satu lelaki dan menghidupkan satu lelaki.”

Episode kesombongan Namrudz terus berlanjut. Allah kemudian mengutus pasukan nyamuk untuk membinasakan Namrudz. Satu ekor nyamuk dari ribuan nyamuk itu menyelinap masuk ke lubang hidung Namrudz. Ia menggeliat kesakitan.

Ia kemudian memukul mukanya dengan tongkat agar nyamuk itu mati. Nyamuk itu malah semakin gesit berkeliaran dalam rongga hidung Namrudz, menyengatnya hingga akhirnya raja sombong itu menemui ajalnya.

  1. Qarun bin Yashar

Sebagian ulama berpendapat bahwa Qarun bin Yashar bin Qahits adalah paman Nabi Musa. Namun, Ibnu Katsir berbeda pendapat dengan mengunduh pendapat Ibnu Jarir ath-Thabbari bahwa Qarun adalah anak paman Nabi Musa atau dengan kata lain sepupu Nabi Musa.

Qarun adalah orang yang dikaruniai anugerah dari Allah berupa kemewahan dan kekayaan harta. Kekayaan Qarun tidak terhitung jumlahnya. Untuk memikul keseluruhan kunci gudang hartanya, paling tidak dibutuhkan 60 ekor kuda dan setiap kunci gudang penyimpanan hartanya sangat berat dipikul oleh sejumlah orang yang bertubuh kuat. Hal ini dengan jelas digambarkan oleh Allah dalam  surat Al-Qashash ayat 76.

Qarun termasuk kaumnya Nabi Musa. Namun, ia mengingkari ajaran yang dibawa Musa. Ia terlena dengan kekayaan yang dimilikinya. Ia seringkali membangga-banggakan kekayaannya di depan orang banyak. Dalam kesehariannya, Qarun selalu memanjangkan satu jengkal pakaiannya hingga menyapu bumi saat berjalan.

Nabi Musa dan pengikutnya seringkali menasehati Qarun agar tidak berlaku sombong. Namun, nasehat-nasehat itu tidak diindahkan. Bahkan, kesombongan Qarun semakin menjadi. Di hadapan orang banyak Qarun malah berkata, bahwa harta yang ia peroleh karena ilmu yang dimilikinya.

Ungkapan tersebut jelas menafikan keberadaan Allah. Sikap sombong Qarun ini mengundang murka Allah. Allah pun menitahkan bumi untuk menelan Qarun beserta harta kekayaannya. Ibnu Abbas berpendapat bahwa Qarun dan hartanya tenggelam sampai bumi ketujuh.

  1. Putri Ariel

Dimasa kehidupan Nabi Yahya ada seorang raja bernama Haddad bin Haddad. Ia memiliki kedudukan tinggi dan kekayaan yang berlimpah. Haddad jatuh hati dengan Putri Ariel; anak dari saudara laki-lakinya. Begitu juga Ariel yang menyimpan gelora asmara kepada Haddad. Meski Haddad tahu bahwa menikahi Ariel adalah sesuatu yang terlarang tetapi ia tetap ngotot ingin menikahinya.

Kemudian Haddad memanggil Yahya untuk memberikan fatwa spesial untuk membolehkan pernikahan tersebut, tapi Yahya tetap melarang dan menjelaskan bahwa pernikahan itu haram. Haddad kemudian mengurungkan niatnya. Tidak demikian dengan Ariel. Ariel marah besar dengan penjelasan Yahya.

Berkoalisi dengan setan, Ariel kemudian membujuk Sang raja untuk menikahinya. Karena nafsu birahinya telah memuncak, Haddad kemudian melakoni pernikahan haram tersebut.

Setelah menikah dengan Haddad, Ariel bertekad untuk membalas fatwa Nabi Yahya yang tidak mengenakan itu. Merasa sudah diatas angin –dengan memanfaatkan  kedudukan baru yang diperolehnya sebagai istri raja– Ariel meminta Haddad untuk membunuh Yahya, lalu membawa darah dan kepala Yahya kehadapannya.

Gayung bersambut, permintaan Ariel dituruti Haddad. Kemudian Haddad menyewa pembunuh bayaran untuk mengekseskusi Yahya. Yahya pun berhasil ditebas kepalanya saat berdoa kepada Allah. Oleh Ariel, kepala Yahya ditaruh di baki dan dibawa pulang untuk diperlihatkan ibunya.

Saat berada di depan ibunya, Allah menenggelamkan kedua kaki Ariel ke dalam bumi hingga lutut. Perlahan Allah menenggelamkan Ariel hingga pundaknya. Sang ibu panik dan menyuruh tukang pedang untuk memenggal kepala Ariel agar ia dapat memakamkan tubuh anaknya, meski hanya kepalanya.  Akhirnya tubuh Ariel yang tanpa kepala itu terhempas masuk ke perut bumi.

  1. Raja Fir’aun

Menurut salah satu sumber nama asli Fir’aun adalah Al-Walid bin Mush’ab. Namun, dari sumber lain disebutkan nama Fir’aun adalah Qabus bin Mush’ab. Fir’aun adalah raja Mesir yang berkuasa selama 760 tahun. Ia raja sombong yang mengaku sebagai Tuhan.

Fir’aun tidak segan-segan mengintimidasi dan memenjarakan seseorang bila tidak mengakuinya sebagai Tuhan. Mesti Allah telah mengutus Nabi Musa untuk menasehatinya tetapi Fir’aun semakin bertambah-tambah kesombongannya. Allah pernah mendatangkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Fir’aun dan pengikutnya berupa banjir bandang, hama kutu, hama belalang, dan hama kodok.

Semestinya semua peristiwa itu dapat menyadarkan Fir’aun dan pengikutnya dari sifat sombong dan mengakui eksistensi Allah yang satu. Namun, mereka masih tetap berada dalam kedurhakaan. Saat mengejar Musa, Allah SWT membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dengan menenggelamkan mereka ditengah laut yang ombaknya menggulung setinggi gunung.

Ketika kematian telah di pelupuk mata dan mengetahui dirinya bakal tenggelam, Fir’aun memohon ampun kepada Allah. Perkataan taubat Fir’aun ini terekam jelas dalam Al-Qur`an surat Yunus ayat 90, “Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercaya Bani Israel dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Taubat Fir’aun terlambat dan tidak diterima Allah. Fir’aun tewas dengan ceceran dosa.

sumber:Ibnu Syafaat/Suara hidayatullah

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *