Pengertian Liqo Menurut Berbagai Versi

Liqo Menurut Berbagai VersiLiqo Menurut Berbagai Versi. Sempat Ramai di media sosial baik facebook, twitter, whatsapp ataupun instagram pembahasan tentang Liqo. Kehebohan ini bermula dari ceramah seorang ustdz yang mengatkan bahwa Liqo itu tidak memiliki dasar dan tidak ada tuntunan nya dalam Sunnah Rasulullah SAW dalam berdakwah dan membina ummat.

Segera setelah ceramah ust tersebut ter upload di medsos tidak berselang lama ramai lah di medsos pembahasan pro dan kontra tentang liqo yang di bahasa oleh ust tersebut.  Kami coba rangkum, tepatnya copy paste beberapa postingan di medsos yang membicarakan masalah Liqo Menurut Berbagai Versi tersebut.

 

Liqo Menurut Berbagai Versi

Liqo Menurut Versi 1

Oleh : Abu Uwais Al Qarniy

 

Liqo dalam sebutan di Indonesia..

Di Mesir sering kita sebut Jilsah..

Mengambil inspirasi dari sahabat Muadz Bin Jabal..

Landasan nya sangat kuat ada di Shahih Bukhoriy..

Liqo, halaqoh atau Jilsah ini memang bukan untuk mencetak dosen.. mencetak penceramah.. Bukan..!!

Tapi untuk mencetak Rijaal.. melahirkan generasi Quran yang unik, istilah Sayid Qutub, Al Jail Al Quraniy Al Fariid..

 

Fokus pembinaan di dalamnya adalah bagaimana membangunkan iman dan menjaganya, hingga hidup dan menggelora dalam kehidupan nyata, sederhana.. itu saja..

 

Bagaimana melawan Syetan, karena itu musuh kita yang sesungguhnya, bukan justeru kita saling bermusuhan sesama para juru dakwah.. Fastabiqul Khoiroot..!

Sebab inti kehidupan da’i itu selalu tarik-menarik antara dua kutub :

Kutub iman, semangat kebaikan, rasa tanggung jawab, siap siaga menghadapi Akhirat..

Atau Kutub Syetan, hawa nafsu, materi duniawiy, futuur(lemah dan putus semangat kebaikan)..

Demikian ditegaskan Syekh Muhammad Ahmad Rosyid dalam pembuka Trilogi Al Muntholaq, Ar Roqooiq dan Al ‘Awaaiq..

Jadi, ini aktivitas sangat nyunnah..!

Bahasa hadis nya :

إجلس بِنَا نؤمن ساعة

(Ijlis Binaa Nu’min Saa’ah)

 

“Mari duduk sama-sama, beriman sejenak”..

 

Itu dilakukan sahabat Muadz Bin Jabal, lalu dipelihara tradisi ini oleh Abdullah Bin Rawahah saat menggandeng Abu Darda’..

 

“Ayo beriman sejenak..!”

 

Ini bukan hanya tradisi tapi keniscayaan hidup orang beriman.. tiap generasi mukmin sejati waris-mewariskan Dustuur Ajyaalil Mu’miniin..

 

Justeru yang tidak ikut liqo, halaqoh dan jilsah yuk ikutan agar kita bisa saling memperbaiki iman kita”..

 

Liqo Menurut Versi 2

Oleh : Satria hadi lubis

Liqo Yang Baik itu memenuhi ciri – ciri sebagai berikut :

 

  1. Orientasi kepada Allah (Robbaniyah)

Liqo’ yang baik adalah liqo’ yang murobbinya mengajak peserta hanya kepada Allah semata (robbaniyah). “Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia; “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu mejadi orang-orang robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. 3 : 39).

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi untuk mengajak orang hanya berorientasi kepada Allah semata. Tidak boleh mengajak orang untuk mengabdi kepada Nabi. Hal ini tentu berlaku juga untuk da’i dan murobbi zaman sekarang. Mereka tidak boleh mengajak peserta liqo’/halaqah untuk mengabdi atau mengkultuskan murobbi (da’i)nya. Termasuk juga tidak boleh mengajak peserta untuk mengkultuskan kelompoknya (jama’ahnya), sehingga peserta menganggap hanya kelompoknya yang benar, sedang kelompok lainnya sesat.

 

  1.  Rutinitas (Istimroriyah)

Liqo’ yang baik juga terlihat dari pelaksanannya yang rutin. Artinya, liqo’ tersebut berjalan dengan jadwal yang tetap dan pasti, misalnya sepekan sekali, dua pekan sekali, atau sebulan sekali. Kapanpun waktu pertemuan yang ditetapkan, yang jelas halaqah harus memiliki jadwal yang rutin, sehingga peserta mendapatkan tarbiyah secara berkesinambungan.

Yang dimaksud rutinitas disini juga berarti halaqah harus diikuti madal hayah (seumur hidup). Tak ada kata berhenti atau lulus dari liqo’. Bagaimanapun kondisi yang terjadi, liqo’ harus tetap berjalan. Mungkin yang berubah hanya sistem dan murobbinya saja, tapi liqo’ sebagai sarana utama tarbiyah harus tetap diikuti oleh peserta sepanjang hidupnya.

 

  1. Integral (Syamil)

Liqo’ yang baik juga liqo’ yang murobbinya menyampaikan ajaran Islam secara syamil (menyeluruh). Murobbi tidak memilah-milah mana ajaran Islam yang disampaikan kepada peserta halaqah. Misalnya, ia hanya mau menyampaikan masalah akhlak, tapi tidak mau menyampaikan masalah akidah. Ia hanya menyampaikan masalah-masalah ibadah dan akhlak, tapi tidak mau menyinggung masalah politik.

Islam bukanlah ajaran yang parsial (juz’iyah). Islam adalah ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia: ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.Tidak boleh membatasi ajaran Islam hanya sekedar aspek tertentu saja. Sebab hal itu bertentangan dengan perintah Allah. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh…”(QS. 2 : 208).

 

  1. Bertahap (Tadaruj)

Liqo’ yang baik juga liqo’ yang pesertanya mengikuti proses tarbiyah secara bertahap. Kurikulum pengajarannya dibuat secara bertahap dan berkesinambungan. Hal ini penting diperhatikan sebab tarbiyah Islamiyah yang tidak berlangsung secara bertahap besar kemungkinan akan menimbulkan kesalahpahaman terhadap Islam.

Pentahapan merupakan sunnatullah (hukum Allah) di alam semesta ini. Karena itu, sudah sepatutnya tarbiyah Islamiyah juga berlangsung secara bertahap, tidak sekaligus dan tidak pula acak. “Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu dapat membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (QS. 17 : 106).

 

  1. Bersungguh-sungguh (Tajarud)

Liqo’ yang baik diselenggarakan dengan sungguh-sungguh. Murobbi bersungguh-sungguh membina dengan mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya. Begitu pula peserta liqo’. Kesungguhan tersebut juga tampak dari disiplin yang tinggi di dalam halaqah.

Murobbi dan peserta hadir secara rutin dan program berjalan dengan baik. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. 29 : 69).   

 

  1. Moderat (Wasith)

Ciri selanjutnya dari liqo’ yang baik adalah membawa nilai-nilai moderat (pertengahan). Yaitu, nilai-nilai Islam yang tidak mempersulit dan sebaliknya tidak terlalu menggampangkan orang untuk mengamalkan Islam. Nilai Islam yang tidak terlalu kaku, tapi sebaliknya juga tidak terlalu longgar.

Nilai Islam yang seimbang (tawazun) antara berbagai kebutuhan hidup. Yang tidak mementingkan satu aspek, tapi mengabaikan aspek lainnya. Nilai Islam yang mementingkan pencapaian sukses duniawi dan ukhrowi. Bukan nilai Islam yang hanya mementingkan duniawi belaka atau sebaliknya ukhrowi belaka.

Islam adalah dien moderat, seperti firman Allah, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu..” (QS. 2 : 143).

 

  1. Menghidupkan persaudaraan (ukhuwah)

Liqo’ yang baik juga adalah liqo’ yang menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah. Liqo’ yang berusaha dengan sungguh-sungguh mengamalkan ukhuwah Islamiyah. “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara…” (QS. 49 ; 10).

Di dalam liqo’ tersebut ada proses saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (ta’awun) dan saling merasa senasib sepenanggungan (takaful) di antara sesama peserta, juga diantara peserta dengan murobbi. Hal itu terlihat dari munculnya indikasi ukhuwah yang paling rendah, yaitu sangka baik (husnudzhon), sampai munculnya indikasi ukhuwah yang paling tinggi, yakni sifat mengutamakan kepentingan orang lain (itsar).   

 

  1. Regenerasi (Tausi’ah)

Ciri berikutnya dari liqo’ yang baik adalah adanya regenerasi dari liqo’ tersebut. Artinya, liqo’ tersebut mampu membina pesertanya untuk menjadi da’i dan murobbi baru yang siap memikul beban dakwah dan membina liqo’-liqo’ baru. Regenerasi mutlak dibutuhkan untuk melanjutkan estafeta dakwah dan tarbiyah, sehingga Islam dapat menyebar ke seluruh kalangan. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (21 : 107).

Delapan ciri liqo’ yang baik di atas sebaiknya dijadikan parameter dalam memilih liqo” yang akan diikuti. Semakin banyak ciri tersebut terdapat dalam sebuah liqo’, maka semakin ideal liqo’ tersebut untuk diikuti. Sebaliknya, semakin sedikit ciri tersebut ada pada sebuah liqo, maka semakin urgen liqo’ tersebut untuk diperbaiki keberadaannya.

Liqo’ yang baik adalah liqo’ yang mendekatkan diri kepada Allah, sehingga Anda semakin bahagia karena turut serta mengamalkan syari’at Allah di muka bumi

 

Liqo Menurut Versi 3

Oleh: Irsyad Syafar

Kalau liqo sama saya, gak hebat-hebat amat. Pertama karena memang ilmu saya masih sangat-sangat sederhana, tidak pakar fiqh apalagi ushul fiqh, tidak jago tafsir dan hadits, belum hafal Al Quran seluruhnya, apalagi Hadits-hadits Nabi saw, dan masih terbatas wawasannya. Kedua karena sunnahnya para sahabat dahulu tidaklah muluk-muluk.

Biasanya kita liqo itu membaca Al Quran sambil merapikan tajwidnya. Lalu menyetor hafalan Al Quran setengah atau satu halaman. Lalu membahas yang ringan dan sederhana dari ajaran Islam, yang membuat kita lebih baik di sisi Allah, dari ayat-ayat yang jelas dan mudah saja. Adapun yang rumit dan jelimet, itu ruangnya di tempat lain.

Menarik membaca penjelasan Ibnu Abbas tentang kandungan Al Quran yang dikutip oleh Ibnu Jarir:

 

وَقَالَ ابنُ جَرِيرٍ : حَدَّثَنا مُحَمَّدُ بنُ بَشَّارٍ ، حَدَّثَنا مَؤَمَّلٌ ، حَدَّثَنا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنادِ , قَالَ : قَالَ ابنُ عبَّاسٍ : ” التَّفسيرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ : وَجْهٌ تَعْرِفُهُ العَرَبُ مِنْ كَلاَمِهَا ، وَتَفْسِيرٌ لاَ يُعْذَرُ أَحَدٌ بِجَهَالَتِهِ ، وَتَفسيرٌ يَعْلَمُهُ العُلَمَاءُ ، وَتَفْسِيرٌ لاَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ اللهُ

 

Artinya: Ibnu Jarir Ath Thabari berkata, “Kami diceritakan oleh oleh Muhammad bin Basyar, dari Muammal, dari Sufyan, dari Az Zinad, dia berkata: Telah berkata Ibnu Abbas, “Tafsir Al quran itu terbagi 4 sisi: Sisi pertama yang dipahami orang arab dari bahasa arab. Sisi kedua yang tidak ada alasan seseorang tidak mengetahuinya. Sisi ketiga yang hanya dipahami oleh ulama. Dan sisi ke empat adalah yang hanya Allah yang mengetahuinya”.

 

Dengan pembagian Ibnu Abbas ini, maka kandungan Al Quran itu lebih kurang ada 4 macam:

 

Pertama, ayat-ayat yang dipahami oleh siapa saja yang paham bahasa arab, tidak perlu penjelasan dan penafsiran. Begitu dibaca dia langsung bisa paham dan mengerti maksudnya. Masuk juga dalam kategori ini yang memahami Al Quran melalui terjemahannya.

 

Kedua, ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum halal dan haram yang sudah pasti di dalam Quran. Yang seharusnya setiap muslim mengetahuinya. Siapa yang membacanya dapat langsung memahaminya. Seperti ayat tentang haramnya babi, bangkai, darah, tuak, judi dan lain-lain sebagainya.

 

Ketiga, adalah ayat-ayat yang membutuhkan keterangan ulama untuk memahaminya. Hal itu karena adanya hal yang umum dan khusus, hal yang mutlak atau muqayyad, hal yang mansukh (telah dihapuskan) dan sebagainya.

 

Keempat, ayat-ayat yang Allah saja yang memahami maksud dan penjelasannya. Seperti berita-berita ghaib terkait akhirat, sorga dan neraka, juga makna huruf-huruf di awal sebagian surat Al Quran.

 

Dari 4 pembagian ini dapat dipahami, sebenarnya banyak sekali isi atau kandungan Al Quran yang langsung bisa dipahami oleh orang yang paham bahasa arab atau yang membaca terjemahannya. Tanpa perlu harus menjadi ulama dan pakar yang hebat segala ilmu syariah dulu untuk itu.

 

Dalam sebuah ayat Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

 

Artinya: “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

 

Kalaulah harus menjadi Lc atau MA dulu, atau selevel ulama, baru boleh mengajarkan Islam kepada orang lain, niscaya Islam takkan pernah tersebar ke pelosok-pelosok afrika, ke negara-negara Eropa, ke negeri-negeri di asia tenggara, termasuk ke penjuru nusantara.

 

Kalau harus fasih dulu berbahasa arab, dan paham dulu sekian ratus ayat dan hadits, tafsir ilmu tafsir, fiqh ilmu tafsir dan berbagai pendapat ulama, apa artinya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((بلِّغوا عني ولو آية، وحدِّثوا عن بني إسرائيل ولا حرَج، ومَن كذب عليَّ متعمِّدًا فليتبوَّأْ مقعدَه من النار))؛ رواه البخاري.

 

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwa Nabi saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah dari bani Israil, tak ada dosa. Siapa yang berbohong terhadapku dengan sengaja, maka dia akan menempati tempatnya di neraka”. (HR Bukhari).

 

Adalah sangat mungkin bagi seorang yang sudah baligh yang bisa membaca Al Quran dan terjemahannya, lalu mengajak beberapa orang yang seusia dengannya untuk bersama-sama secara rutin membaca dan memahaminya. Kemudian berangsur-angsur mengamalkan yang mudah dipahami tersebut. Tanpa harus berfatwa atau melahirkan hukum-hukum syariat. Apalagi kalau yang diajak tersebut adalah yang lebih yunior usianya.

 

Para Sahabat Rasulullah saw dahulu, tanpa menjadi pakar dan ahli dulu, mereka  sudah langsung berdakwah. Hari ini mereka masuk Islam, besok mereka sudah berdakwah. Mush’ab bin Umair mengislamkan hampir seluruh penduduk madinah, sementara Nabi masih di Makkah, dan ajaran Islam masih jauh dari ketuntasan.

 

Muadz bin Jabal dikirim ke Yaman tanpa harus menjadi ahli segalanya. Thufail bin Amru Ad Dausiy, baru masuk Islam di Makkah, lalu pulang ke Yaman mengIslamkan kaumnya. Setahun setelah itu baru mereka sebagian bisa ke Makkah bertemu Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

 

Jadi, liqo saya sangat sederhana, ada ayat dan hadits yang dibaca, ada buku yang dipelajari. Tidak hebat-hebat amat. Jika mau betul-betul mendalam pembahasannya, maka hanya dengan kuliah sacara runut dan rapi jalannya. Kalau hanya dengan pengajian saja, juga bukanlah cara yang memadai untuk tuntas memahami Islam.

 

Berhentilah mempertanyakan kerja-kerja orang lain yang sedang berdakwah dan berjuang untuk Islam. Karena itu hanya kebiasaan para pengangguran.

 

Wallahu A’laa wa A’lam…

 

Liqo Menurut Versi 4

Oleh: Nandang Burhanudin

Seseorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah Ta’ala, sehingga dakwah yang dilakukannya tegak di atas landasan ilmu dan bashirah (hujjah yang nyata).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah –ketika menjelaskan surat Yusuf ayat ke-108 di atas- berkata bahwa ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu syar’i (ilmu tentang apa yang akan didakwahkan) saja,

Akan tetapi juga mencakup ilmu tentang keadaan orang-orang yang akan didakwahi dan ilmu tentang metode yang paling tepat dan paling sesuai agar dakwah itu sampai kepada mereka. Inilah di antara bentuk hikmah dalam berdakwah. (Lihat Al-Qoulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid, 1/82, cet. Daarul ’Aqidah).

Derap langkah dakwah jika mengikuti Sunnah Rasul, harus ‘alaa rislik (pelan-pelan, gradual, bertahap). Kontennya menyeru pada Islam. Rasul bersabda,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

 

”Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena kontennya seputar Islam, maka meliputi ‘uluum syar’iyyah, yang terbagi menjadi dua macam. Pertama, ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Seorang Muslim tidak boleh bodoh (tidak mengetahui) tentang ilmu tersebut. Contoh ilmu yang wajib adalah ilmu tentang rukun Islam, yaitu ilmu tentang dua kalimat syahadat, ilmu tentang shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke baitullah. Maut tidak mau, Muslim harus mempelajarinya.

Kedua, ilmu tentang hukum-hukum syariat, yang dibutuhkan umat Islam secara keseluruhan, namun belum tentu dibutuhkan setiap orang. Contohnya adalah ilmu tentang hukum jual beli, hukum wakaf, warisan, wasiat, dan hukum nikah. Ilmu ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Apabila sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya, hal itu sudah cukup. Dengan ini, orang-orang yang telah mempelajari ilmu tersebut dapat diminta sebagai tempat bertanya.

Ketiga, ‘uluum insaaniyyah (humaniora) yang tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam. Ilmu humaniora terkait dengan kemaslahatan umum semisal: ilmu berkaitan dengan alam raya, ilmu tentang manusia, ilmu kesehatan, ilmu politik, ilmu geostrategis, ilmu sosial, ilmu mental, dll.

Liqo sejatinya bukan sekedar majlis taklim, tapi sebuah upaya untuk mengeratkan serak-serak jiwa dalam bingkai ukhuwwah (persaudaraan), menyatukan segenap potensi beragam dalam satu ikatan, berkumpul meraih cinta Allah, bersatu dalam dekapan dakwah Lillah wa Ilallah, berhimpun menolong agama Allah, dan berikhtiar menjalankan syariat Allah.

Liqo tarbawi tak lain upaya minimal kita mengikuti Sunnah Rasul, saat membina para sahabat generasi awal di Al-Arqam bin Abil Arqam. Lalu terbentuknya qaa’idah shulbah (kader-kader militan) Islam yang kemudian membentuk Muhajirin-Anshar dalam penegakan peradaban Islam.

Jika liqoat disebut bid’ah, jelas fitnah. Tapi kami tidak menganggap aneh, sebab itulah kerjaan juru dakwah BNPT, yang sejak lama membidik dan menyebut aktivitas tarbawi yang dikemas LDK atau LDKS disebut sebagai biang radikalisme.

Namun, jika liqoat dikritisi sebab cenderung dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab, maka kami menerimanya dengan lapang dada. Kami sadar, liqoaat yang sekarang berlangsung, cenderung kering ilmu dan hampa ruhiyah. Bahkan di beberapa tempat, ukhuwah tergerus oleh arogansi jabatan struktural dan rebutan posisi marhalah.

Kekurangan itu terus kami perbaiki. Sebab prinsip liqoat kami seperti yang dinasihatkan Imam Asy-Syafi’i;

Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka. Semoga  bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak. Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka. Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.”

Ini liqo kami, kok begitu taklimmu?

 

Itulah beberapa pengertian Liqo Menurut Berbagai Versi yang dapat kami salin dari berbagai postingan di medsos yang jelas mencantumkan sumber nya.

ada juga yang memposting nya dalam bentuk dialog seperti versi 5 dan 6 berikut ini :

Liqo Menurut Versi 5

Liqo Metodenya Siapa?

dari fb Heppi Andi Bastoni

 

Samidi : Tadz, ada ustadz dari kamar sebelah yang bilang kalau metode liqo itu bid’ah dan tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah. Ada pencerahan tidak?

 

Mukidi : Sebenarnya, pernyataan itu kurang pas. Kalau ingin memahami metode liqo, kita musti flashback ke fase dakwah tahap awal, yakni fase siriyatud da’wah wa siriyatut tandzim. Sebenarnya dijelaskan panjang lebar karakteristiknya oleh Syaikh Munir Muhammad Ghadban dalam kitab Manhaj Haraki. Nah, liqo itu memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan pola pembinaan di darul arqam.

 

Samidi : Bisa diperjelas bagaimana karakteristiknya tadz?

 

Mukidi : Ada beberapa karakteristik yang menonjol. Pertama, ada pola pembinaan yang intensif. Para shahabat generasi assabiqunal awwalun datang ke darul arqam untuk belajar agama, dengan dibimbing langsung oleh Rasulullah. Kedua, bersifat rahasia karena tempatnya tersembunyi dan terpencil. Tidak pernah kita dengar dalam kajian sirah nabawiyah tempat tersebut diketahui oleh kaum Quraisy.

 

Ketiga, Menggunakan Al Qur’an sebagai instrumen utama. Kala itu, pola pembinaan mutlak hanya menggunakan Al Qur’an. Karena itu rasulullah marah saat melihat Umar membaca kitab Taurat. Keempat, ada sesi khusus untuk membicarakan perkembangan situasi di Makkah. Rasulullah dan para shahabat lalu mendiskusikan beragam info tersebut demi melakukan ekspansi dakwah, dengan membandingkan antara peluang yang bisa dioptimalkan dengan mudharat yang harus dihindari.

 

Samidi : Kalau tentang pelaksanaannya yang sepekan sekali bagaimana tadz?

 

Mukidi : Wallahu a’lam kalau tentang itu. Tapi kita bisa memahaminya pada kasus shahabat Ibnu Mas’ud ra. Beliau kan dakwah di Iraq. Disana, beliau membuka majelisnya sepekan sekali. Ada sebagian santrinya yang ingin agar beliau membuka majelisnya setiap hari. Tapi jawaban dari Ibnu Mas’ud ra adalah “Aku khawatir kamu jadi bosan”. Belajar agama tentu setiap saat dan setiap hari. Namun yang difasikitasi lewat wasilah liqo memang dibuat sepekan sekali.

 

Samidi : Kalau tentang mutaba’ah amal yaumiyah gimana tadz?

 

Mukidi : Rasulullah kan juga pernah memutaba’ah amal yaumiyah para shahabatnya. Riwayat yang paling terkenal yakni seusai shalat berjama’ah, tiba – tiba rasulullah bertanya “Siapa diantara kalian yang sudah bersedekah, sudah menolong orang dll”. Lalu dari semua pertanyaan itu, Abu Bakar menjawab “Saya ya rasulullah”. Jadi kalau masalah mutaba’ah amalan, itu bukan hal baru.

 

Sedangkan secara pribadi, rasulullah juga menanyakan beragam hal dan kondisi beberapa shahabatnya. Demikian pula para shahabatnya sering mengadukan masalah dan kondisi yang mereka alami kepada rasulullah. Misalnya Abu Darda yang mengadukan sikap Salman Al Farisi yang dianggap menghalanginya beribadah. Bahkan, rasululah juga bertanya (dengan maksud menghibur) kepada anak kecil yang burung peliharaannya mati. Jadi, proses interaksi antara murabi dengan mutarabi dalam sesi mutaba’ah adalah hal yang juga biasa dilakukan oleh rasulullah bersama dengan para shahabatnya.

 

Samidi : Kalau tentang tholabul ilminya sendiri gimana tadz? Bukannya kalau mau mencari ilmu harus kepada seorang syaikh?

 

Mukidi : Harus dipahami bahwa liqo bukanlah satu – satunya wasilah tarbawi dalam proses thalabul ilmi. Masih banyak sarana yang lain, seperti tasqif, daurah dll. Liqo lebih menitik beratkan kepada proses pembentukan pribadi muslim yang shalih, penyatuan potensi dan kekuatan, membangun semangat korps dalam kerja – kerja dakwah dilingkungan serta menjadi sarana pengintegrasian individu peserta liqo dalam wadah jama’ah dakwah.

 

Samidi : Berarti dalam liqo, proporsi untuk thalabul ilmi-nya memang tidak banyak ya tadz?

 

Mukidi : Ya betul, tidak banyak porsi untuk itu. Dalam urusan ilmu, mereka yang ikut liqo jelas kalah dibandingkan mereka yang ikut ma’had atau mondok di ponpes. Tapi dari segi produktivitas amal, liqo jauh lebih produktif, lincah dan gesit dalam menangkap peluang dakwah ditengah masyarakat ketimbang model ma’had atau ponpes. Nah, kekurangan ini akan ditambal dengan wasilah lain berupa tasqif dan daurah. Disana, mentornya langsung orang yang bertitel syaikh. Masalahnya, sebagian kalangan menuding bahwa ngajinya kita hanya melalui sarana liqo semata. Ini ya jelas salah.

 

Samidi : Oh, begitu ya tadz. Sebenarnya, apa yang dilakukan didalam liqo ternyata juga ada sandarannya.

 

Mukidi : Ya begitulah. Kalau masih ada yang menganggapnya sebagai bid’ah atau tidak pernah diajarkan oleh rasulullah, situasinya mirip – mirip dengan amalan wiridz atau dzikir.

 

Samidi : Waduh, maksudnya bagaimana itu tadz?

 

Mukidi : Kan banyak ulama atau syaikh yang merangkai bacaan dzikir menjadi sebuah wazhifah tertentu. Karena itu tidak dilakukan oleh rasulullah, maka rangkaian bacaan dzikir tersebut dianggap sebagai bid’ah. Padahal kalau ditelaah satu persatu lafal dzikirnya, semua ada riwayatnya. Nah, situasi atas liqo mirip – mirip dengan kasus itu. Cuma, ada lagi yang lebih mengherankan sebenarnya.

 

Samidi : Apa itu tadz? Jadi penasaran nich.

 

Mukidi : Kalau pembelajaran islam dan pengorganisasian dakwah dengan model liqo dianggap sebagai bid’ah dan tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah, semestinya pembelajaran yang bersifat khusus dan berjenjang juga harus dipermasalahkan. Karena rasulullah kan selalu memberikan pengajaran yang bersifat umum kepada para shahabatnya, baik shahabat generasi awal maupun yang baru jadi mualaf.

 

Sangat masyhur bahwa sejak subuh hingga siang hari, Imam Syafi’i mengajar beberapa majelis ditempat yang sama, dengan peserta yang berbeda – beda. Pertama, beliau mengajar tentang Al Qur’an, dilanjutkan dengan Hadits, Fikih, lalu Bahasa Arab. Antara satu majelis dengan majelis yang lain, pesertanya berbeda. Dimasa rasulullah, tidak ada situasi seperti ini. Beranikah mereka mengatakan bahwa metodenya Imam Syafi’i ini juga bid’ah?

 

Samidi : Hm,.. Betul juga ya tadz.

 

Mukidi : Hal lain, sebagaimana yang sangat lumrah jaman sekarang. Yakni pola berjenjang dalam menuntut ilmu sebagaimana tergambarkan dalam pendidikan formal disekolah, madrasah, ma’had, ponpes dll. Tidak ada juga hal sedemikian itu dimasa rasulullah. Beranikah mereka mengatakan bahwa itu semua adalah perkara bid’ah?

 

Samidi : Tadz, bukannya masalah bid’ah itu hanya dalam urusan ubudiyah semata?

 

Mukidi : Defi isi bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak dilakukan oleh rasulullah. Dalam haditsnya, tidak ada keterangan bahwa bid’ah yang dimaksud oleh rasulullah itu hanya dalam urusan ubudiyah semata. Karena itu, Abu Bakar Ash Shidiq, Zaid bin Tsabit dll awalnya menolak untuk membukukan Al Qur’an (menghimpun dalam satu mushaf) dengan alasan “Perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh rasulullah”. Sangat clear kan?

 

Jika perbuatan itu memang bukan bid’ah, niscaya mereka tidak akan ragu dan tidak akan mengungkapkan alasan yang demikian itu. Karena itulah, kami termasuk pihak yang mengikuti pendapat Imam Syafi’i bahwa ada juga bid’ah hasanah. Imam Syafi’i adalah ulama yang digelari nashirus sunnah dan disebut – sebut sebagai mujadid abad ke-2. Tentu bicaranya pakai ilmu, bukan hawa nafsu saja.

 

Samidi : Hm, betul juga ya tadz. Ya sudah tadz, sudah cukup untuk sementara ini. Untuk liqo besok, insya Allah kami siap jadi shahibul baitnya.

 

Mukidi : Yap, Alhamdulillah.

 

Liqo Menurut Versi 6

(tidak di temukan sumber penulisan nya)

Dari kakak kelas yg tidak berilmu

 

Assalamualaikum. Apa kabar Ustad ? Semoga ustad dan jamaah senantiasa dalam lindungan Allah swt.

Terimakasih kepada ustad, hal ini menjadi pelajaran bagi kami para kakak kelas yang tidak berilmu.

Tapi ustad, dahulu sebelum kami jadi kakak kelas yang tidak berilmu, kami juga belajar dari kakak kelas .

Dahulu, saat kami baru mulai liqo, para kakak kelas yang tidak berilmu-itu lah yg banyak mengajarkan kami hal2 mengenai islam.

Dahulu di saat kami sering sholat tidak tepat waktu berjamaah di masjid dan bahkan kami sering tidak sholat, maka dg senang hati kakak kelas yang tidak berilmu itu mengingatkan , mengetuk pintu kos-kos dan mengajak kami utk segera sholat ke masjid.

Dahulu di saat kami belum bisa baca Al-Quran dg baik, maka dg senang hati kakak kelas yang tidak berilmu itu mengajari, mendisiplinkan kami dalam membaca Al-Quran. Tidak lupa juga mereka mengajak kami belajar tahsin kepada ustad yg lebih baik.

Dahulu di saat kami masih PACARAN, di saat masih merasakan enaknya punya gandengan, maka dg senang hati kakak kelas yang tidak berilmu itu mengingatkan kami akan bahayanya pacaran dan zina. Bahkan sampai2 mereka mau mengawasi kami agar tidak terjebak lg dg PACARAN.

Dahulu di saat kami masih berboncengan dg lawan jenis yg bukan mahram, maka dg senang hati kakak kelas yang tidak berilmu itu lagi2 mengingatkan kami bahwa berkholwat dg lawan jenis itu berbahaya dan dikhawatirkan timbul fitnah.

Dahulu di saat kami belum mengenal berbagai banyak sunnah rosul, maka kakak kelas yang tidak berilmu itu memberikan contoh kepada kami.

Dahulu di saat kami belum mengenal apa itu puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh dsb, maka dg senang hati kakak kelas yang tidak berilmu itu mengajak dan membiasakan kami dg hal2 tsb. Sehingga, kami sudah terlatih dan terbiasa.

Dahulu di saat kami tidak tau dan tidak pernah melakukan sholat tahajud, sholat duha serta sholat sunnah lainnya, maka dg senang hati kakak kelas yang tidak berilmu itu mengajak dan membiasakan kami utk sholat.

Dahulu di saat kami sering membuka Aurat ketika main sepakbola, futsal, badminton dsb, maka dg senang hati  kakak kelas yang tidak berilmu itu merangkul  dan mencontohkan bagaimana ber-olahraga dg baik sesuai dg syariat islam dan tentunya menuup Aurat. Padahal kami takut, mereka melarang kami ber-olahraga, ternyata tidak.

Mungkin, jika disebutkan satu persatu, maka tidak cukup dalam tulisan ini, perlu lahan yang lebih luas untuk mengenang dan menulis jasa2 kebaikan mereka untuk kami. Mereka begitu indah untuk dikenang. Betapa kami merindukan liqo bareng kakak kelas yang tidak berilmu itu.

Kini tibalah saatnya bagi kami menjadi kakak kelas yang tidak berilmu. Kami akan mencoba meneladani liqo dan cara2 mereka mengajak kami dalam hal2 kebaikan. Kami harus berhasil mengajak adik2 kelas kami dan jg menjadi teladan bagi mereka kelak.

Tetapi kami kini khawatir tidak punya adik kelas untuk dibina, kami khawatir mereka tidak mau liqo, kami khawatir mereka takut liqo, dan kami khawatir penyebab dikarenakan ceramah yg ustad sampaikan. Apakah benar demikian ustad? Apakah kami tidak boleh liqo, tidak boleh mengajak mereka dalam kebaikan juga? Begitu berbahayanya-kah kami para kakak kelas yang tidak berilmu?

Terimakasih kepada kakak kelas yang tidak berilmu. Jasamu sangat berharga. Semoga dapat terus membina orang banyak.

Mohon maafkan kami wahai adik kelas, kami kakak tingkat yang tidak berilmu ini tidak dapat liqo bersama kalian, tidak dapat mencontohkan kpd kalian.

Assalamualaikum Ustad . Semoga curhat ini sampai kpd ustad. Semoga curhatan inimembuka pintu hati ustad.

Salam dari kakak kelas yang tidak berilmu.

 

Demikian contoh postingan penjelasan Liqo dalam bentuk dialog.

berikut kami tambahkan lagi contoh penjelasan tentang Liqo Menurut Berbagai Versi, postingan ini viral tapi kami tidak menemukan sumber asal nya

 

Tambahan Penjelasan Liqo Menurut Berbagai Versi

Liqo Menurut Versi 6

Dia katakan liqo-liqo  bukanlah metode Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

 

Ini merupakan salah berpikir tingkat berat. Apakah dia pikir liqo itu ibadah ritual yang sifatnya tauqifi, yang aturan bakunya harus sama persis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berasal darinya?

 

Liqo  hanyalah metode pendidikan dan pembinaan, dan masalah tersebut bukan pada tempatnya menanyakan “adakah dalil liqo?”,

 

Tapi masalah ini pada kaidah “adakah larangannya?” Sebab, masalah metodologi adalah masalah duniawi yang fleksibel selama tidak ada pelanggaran terhadap syariat

 

Masalah-masalah teknis di mana syariat tidak membahas secara khusus, adalah zona ma’fu ‘anhu (dimaafkan), sebagai rahmat Allah Ta’ala kepada hambanya.

 

Imam Muhammad At Tamimi Rahimahullah  menjelaskan:

 

أن كل شيء سكت عنه الشارع فهو عفو لا يحل لأحد أن يحرمه أو يوجبه أو يستحبه أو يكرهه

 

“Sesungguhnya segala sesuatu yang didiamkan oleh Syari’ (pembuat Syariat) maka hal itu dimaafkan, dan tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan, atau memakruhkan.” (Imam Muhammad At Tamimi, Arba’u Qawaid Taduru al Ahkam ‘Alaiha, Hal. 3. Maktabah Al Misykah)

 

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:

 

وهو سبحانه لو سكت عن إباحة ذلك وتحريمه لكان ذلك عفوا لا يجوز الحكم بتحريمه وإبطاله فإن الحلال ما أحله الله والحرام ما حرمه وما سكت عنه فهو عفو فكل شرط وعقد ومعاملة سكت عنها فإنه لا يجوز القول بتحريمها فإنه سكت عنها رحمة منه من غير نسيان وإهمال

 

Dia –Subhanahu wa Ta’ala- seandainya mendiamkan tentang kebolehan dan keharaman sesuatu, tetapi memaafkan hal itu, maka tidak boleh menghukuminya dengan haram dan membatilkannya, karena halal adalah apa-apa yang Allah halalkan, dan haram adalah apa-apa yang Allah haramkan, dan apa-apa yang Dia diamkan maka itu dimaafkan. Jadi, semua syarat, perjanjian, dan muamalah yang didiamkan oleh syariat, maka tidak boleh mengatakannya haram, karena mendiamkan hal itu merupakan kasih sayang dariNya, bukan karena lupa dan membiarkannya. (I’lamul Muwaqi’in, 1/344-345)

 

Sungguh mengherankan orang-orang seperti ini. Selalu mencari kesalahan saudara sesama muslimnya. Masih bagus jika itu memang benar-benar salah, tapi ini lebih pada asumsi dan halusinasinya sendiri.

 

Imam Muhammad bin Sirin Rahimahullah berkata:

 

إنَّ أكثر الناس خطايا أكثرهم ذكرًا لخطايا الناس

 

Sesungguhnya manusia paling banyak kesalahannya adalah manusia yang banyak menyebut kesalahan orang lain. (Ibnu Abi Dunya, Ash Shamtu wa Adabul Lisan, Hal. 104)

 

Kemudian, dia pun juga menyalahkan perjenjangan dalam Liqo. Benarkah itu kesalahan?

 

Imam Al Bukhari membuat bab:

 

بَاب مَنْ خَصَّ بِالْعِلْمِ قَوْمًا دُونَ قَوْمٍ كَرَاهِيَةَ أَنْ لَا يَفْهَمُوا

 

         “Bab manusia yang mengkhususkan ilmu kepada sebuah kaum tapi tidak pada kaum lainnya khawatir mereka tidak memahaminya.” (Shahih Al Bukhari, Kitabul ‘Ilmi)

 

Dalam  Bab ini, terdapat dialog antara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu. Beliau bersabda:

 

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا

 

               Tidaklah seseorang yang bersaksi tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah secara tulus dari hatinya, melainkan Allah akan haramkan neraka baginya. Muadz berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya boleh sebarkan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau bersabda: “Jangan! Sebab nanti mereka akan bergantung saja pada hal itu.” Muadz baru mengabarkannya sebelum kematiannya sebab khwatir dia berdosa jika tidak menyebarkannya. (HR. Bukhari No. 128)

 

Dalam kitab yang sama, Imam Al Bukhari terdapat Bab Al ‘Ilmu Qabla Al Qaul wal ‘Amal, di sana  terdapat keterangan ttg makna ayat Kuunuu Rabbaniyuun – jadilah kalian orang-orang yang Rabbani. (QS. Ali Imran: 79) menurut Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu sebagai berikut:

 

{ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ }

حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

 

“(Jadilah kalian kaum yang Rabbani) yakni orang yang sabar dan berilmu, ada juga yang mengatakan: yaitu orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar”.

 

(Lihat Shahih Bukhari, Kitabul ‘Ilmi).

 

Maksud dari “mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar” adalah bi at tadriij –dengan bertahap. (Fathul Bari, 1/121).

 

Imam Al ‘Aini mengatakan:

 

أي الذي يربي الناس بجزئيات العلم قبل كلياته أو بفروعه قبل أصوله أو بمقدماته قبل مقاصده

 

“Yaitu orang yang mendidik manusia dengan bagian-bagian dari ilmu sebelum total keseluruhannya, atau mengajarkan yang cabang-cabang sebelum yang pokoknya, atau mengajarkan pengantarnya sebelum isi utamanya”.

 

(‘Umadatul Qari, 2/487)

 

Imam Al Munawi mengatakan tentang makna Tarbiyah:

 

التربية إنشاء الشيء حالا فحالا إلى حد التمام

 

Tarbiyah adalah mengembangkan sesuatu  dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya sampai batas sempurna.

 

(At-Ta’aariif, Hal. 169. Darul Fikr).

 

Syaikh Shalih Al Munajid  Hafizhahullah  bercerita tentang  Syaikh  Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah -mantan Mufti Kerajaan Arab Saudi, dan guru dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz-:

 

“Beliau Rahimahullah memiliki tiga majelis, mengajar tiga mustawayat (tingkatan), untuk penuntut ilmu yang sudah lama satu pelajaran, untuk yang pertengahan satu pelajaran, dan untuk penuntut ilmu yang pemula juga satu pelajaran, dan jika beliau melihat ada seorang penuntut ilmu yang baru lalu duduk di majlis penuntut ilmu yang lama, maka beliau akan mengusirnya dan membentaknya, seraya berkata: “Di sini bukan tempatmu, bukan dari sini kamu memulai, dan perkara ini bisa melahirkan rasa ujub (bagimu). “

 

(Majmu’ah Muhammad Al Munajjid, Mawaaqif Tarbawiyah Muattsirah min Siyar Al Ulama, 33/29)

 

Maka, begitu jelas bahwa marhalah dalam liqo’ tarbiyah (membina), mengajak, dan memperbaiki manusia adalah masyru’, serta benar menurut akal dan budaya manusia dan kehidupan.

 

Alangkah mengherankan  jika pentahapan dalam membina dan mendidik manusia dalam sebuah wadah organisasi da’wah, dunia pendidikan, dan lainnya, disebut sebagai penyimpangan..

 

Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah.

 

Wallahu A’lam

 

Liqo Menurut Versi 7

Liqo adalah inner cycle (grup inti) yg dibutuhkan untuk peningkatan kualitas pribadi dan jama’ah. Untuk ta’awun dan ukhuwah dalam sinergi terprogram.

 

Liqo’ dipimpin oleh seorang murobbi atau mentor yg berperan sebagai pembimbing intim anggotanya.

 

Para pebisnis sukses saja memiliki inner cycle yg dipimpin seorang mentor (disebut juga dgn coach). Bill Gates, orang terkaya di dunia, tetap memiliki mentor.

 

Jika bisnis saja butuh liqo’ dan mentor, apalagi jika ingin sukses hidup di dunia dan akhirat.

 

Itulah sebabnya Rasulullah saw membudayakan liqo’ sejak dini di kalangan para sahabat. Bahkan saat situasi genting sekalipun, para sahabat tetap liqo’ di rumah Arqom bin Abil Arqom yg tersembunyi. Dipimpin langsung oleh Rasulullah saw sebagai murobbi (mentor) nya.

 

Itulah sebabnya umat Islam jaya di masa lalu selama hampir 14 abad. Dan mulai terpuruk semenjak 1924 (sejak runtuhnya khilafah Turki Utsmani). Keterpurukan tsb bersamaan dengan semakin ditinggalkannya budaya liqo’ (mengaji dgn seorang guru/mentor/murobbi) di kalangan umat Islam.

 

Kini budaya mengaji dgn bertemu langsung antar anggota dgn murobbi itu berupaya dihidupkan kembali dgn harapan kembalinya kejayaan Islam.

 

Tapi sayang, ada pihak-pihak tertentu yang tidak suka dgn kebangkitan Islam berupaya menghalang-halanginya tumbuh suburnya liqo’ dgn menuduh bid’ah, eksklusif, radikal dan calon teroris. Atau membuat tandingan-tandingan acara yg lbh menarik agar liqo’ ditinggalkan.

 

“Mereka memikirkan tipu daya (makar) dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik- baiknya pembalas tipu daya (makar).”

(Qs. 8 ayat 30).

Demikian lah 7 versi penjelasan dari Liqo Menurut Berbagai Versi yang sempat patriapurwakarta.com rangkum dari berbagai postingan viral di medsos.

Jadi Liqo mu versi yang mana ?

Tersimpan di Sisi Lain Dengan label: , , , ,
%d blogger menyukai ini: