Jangan Masuk Hanya Dari Satu Pintu

satu pintuNabi Ya’qub As berkata, “Wahai anak-anakku; janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikitpun dari (takdir) Allah,” (Q S Yusuf :67).

CUPLIKAN kisah keluarga Nabi Ya’qub As bisa kita bayangkan bagaimana suasana ruhiyah yang terjadi setelah ditinggal pergi putra tercintanya Yusuf As. Ditambah lagi harus berpisah dengan Bunyamin adik kandung Yusuf As. Digambarkan sampai matanya tidak lagi mampu melihat karena sangat duka citanya.

Tetapi Ya’qub As tidak putus asa. Ia tetap saja menyuruh anak-anaknya pergi ke Mesir mencari Yusuf As dengan perintahnya yang diabadikan dalam Qur’an Surat Yusuf ayat 67. Yang menarik adalah kalimat, “… Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda.”

Saya bukanlah seorang mufasir yang tahu persis maksud kalimat di atas. Saya hanya ingin mencari hikmah dibalik ungkapan, “… Janganlah masuk satu pintu gerbang dan masuklah beberapa pintu gerbang yang berbeda.”

Cukup dipahami ketika itu masyarakat sedang mengalami masa paceklik. Banyak penduduk sekitarnya berdatangan ke Mesir untuk mendapatkan bahan makanan, salah satunya keluarga Nabi Ya’qub As.

Kondisi keamanan mungkin dijaga agak lebih ketat daripada biasanya, mungkin ada pemeriksaan bagi para pendatang juga dilakukan. Maka strategi tidak masuk satu pintu ini sangat menguntungkan. Bayangkan kalau hanya masuk satu pintu gerbang dan ternyata kena razia, maka semuanya diamankan.

Tetapi bila masuk beberapa pintu yang berbeda, andai kena razia juga tetap ada yang masih selamat.

Saya punya guru di kampung yang sudah al marhum, KH Salamun namanya—biasa dipanggil Yi Mun. Yi Mun memberi nasihat kepada saya dan teman-teman yang sampai saat ini masih terkenang, “Kamu kalau bepergian bersama beberapa keluarga yang menggunakan banyak mobil, usahakan yang satu keluarga naik mobil yang berbeda, bukan satu mobil satu keluarga.” “Kenapa begitu, Yi?” tanya saya.

“Ini jaga-jaga saja kalau terjadi apa-apa, misalnya kecelakaan. Tidak satu keluarga atau satu keturunan habis alias meninggal dunia semua. Karena mobil yang ditumpangi keluarga berbeda-beda. Di samping anak-anak bisa saling silaturahim dengan keluarga yang lain dalam perjalanan,” tukasnya sambil tersenyum, seraya membacakan ayat yang artinya “… Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang …” dan seterusnya.

Masih segar ingatan kita, tentang terjadi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8051. ada beberapa keluarga yang meninggal dunia. Memang agak sulit untuk memilih naik pesawat yang berbeda, di samping kebiasaan tidak ingin dipisah sesama keluarga juga kondisi yang tidak memungkinkan tempat terpisah.

Beberapa tahun lalu terjadi musibah kecelakaan mobil yang penumpangnya para huffadh (penghafal al Qur’an) meninggal dunia. Saya tidak dalam posisi menyesali peristiwa, hanya berpikir berapa kerugian umat Islam ditinggal pergi para penghafal al-Qur’an dalam waktu sekejap.

Sekiranya para penghafal itu dibagi menaikki mobil yang berbeda-beda, tentu akan lain ceritanya. Padahal ketika itu banyak pilihan mobil.
Itu semua hanyalah sekadar salah satu bentuk usaha kehati-hatian untuk memperkecil risiko atau madharat. Bukan sama sekali menolak taqdir. Kita ingat ungkapan Ya’kub As berikutnya, “Namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikitpun dari taqdir Allah…”

Sekali lagi, saya sedang mencari hikmah di balik ayat. Ini juga tergantung sudut pandang masing-masing. Misalnya kita termasuk keluarga besar, memiliki banyak anak, tentu ada baiknya disekolahkan atau dikuliahkan dengan jurusan yang berbeda-beda dengan tidak mengabaikan minat dan bakat anak.

Kita bisa bayangkan kalau semuanya sama. Hanya satu pintu.

Dinyatakan bahwa setiap pahala amal shaleh, di akhirat nanti disediakan banyak pintu. Ada pintu ahli puasa, gemar infaq, dan syahid di jalan Allah. Juga pintu para ulama dan lain-lain. Kemudian sahabat Abu Bakar Ra bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah aku bisa memasuki beberapa pintu?”

“Ya kamu wahai Abu Bakar,” jawab Rasulullah, “Bisa memasuki beberapa pintu.”

Akhirnya berpulang pada diri kita untuk memilih memasuki satu pintu atau beberapa pintu sesuai kondisi masing-masing tanpa menafikan taqdir. Wallahu a’lam

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *