BRAND ENGAGEMENT LEBIH PENTING DARI LABA

BRAND ENGAGEMENT LEBIH PENTING DARI LABAMendahulukan BRAND ENGAGEMENT LEBIH PENTING DARI LABA DAN REVENUE : Merek-merek yang top, sebagian menggunakan rule ini untuk mencapai Top Brand.

Di masa mendatang, dengan semakin besarnya peran teknologi digital, maka strategi engagement menjadi semakin penting.  Kita tahu di industri digital, yang lebih diutamakan adalah menciptakan engagement dan bukan revenue, apalagi laba.

Perusahaan internet atau apps dunia seperti Google, Facebook, Instagram, dan WhatsApp menjadikan brand engagement sebagai tujuan utama terlebih dahulu.  Setelah itu, baru kemudian mereka menikmati kekuatan merek yang besar, dan akhirnya penjualan yang berkesinambungan.

Di Indonesia pun contohnya banyak. Perusahaan seperti Kaskus, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, Lazada, dan Gojek, selalu fokus kepada customer engagement terlebih dahulu. Perusahaan-perusahaan ini masih merah laporan keuangannya.  Tetapi, mereka percaya bahwa investor akan menghargai nilai perusahaan karena adanya engagement yang sangat tinggi dengan para pelanggannya.

Jadi, engagement dipercaya akan menjadi dasar untuk membangun merek yang top dan kemudian menciptakan perusahaan yang menguntungkan di masa mendatang.

Apa yang terjadi dengan Google, Facebook, Alibaba, dan perusahaan-perusahaan internet lainnya telah memberi inspirasi kepada perusahaan-perusahaan digital bahwa brand engagement menjadi kata kunci untuk membangun fondasi yang kuat.

Apakah brand engagement ini hanya selalu ada di industri digital? Tentunya tidak! Semua industri memiliki derajat tertentu untuk menciptakan engagement.

 

Indomie sudah mampu menciptakan engagement ke konsumennya sehingga mereka mencintai merek ini. Nasabah BCA merasa adanya engagement yang besar dengan ATM BCA, m-BCA, Klik BCA, sehingga mereka merasa sangat dekat dengan bank ini walau tidak mengunjungi cabangnya.

 

Google, Facebook, Alibaba, dan perusahaan-perusahaan internet lainnya telah memberi inspirasi kepada perusahaan-perusahaan digital bahwa, di awal kemunculan nya  BRAND ENGAGEMENT LEBIH PENTING DARI LABA

 

DIMENSI ENGAGEMENT (BRAND ENGAGEMENT)

Konsumen yang engage terhadap merek adalah mereka yang memiliki attitude positif terhadap merek tersebut. Bukan saja attitude yang positif, tetapi mereka juga mencintai merek itu. Mereka merasa sangat dekat dan secara emosional menyukai dan merasa dekat dengan merek tersebut.

Kekuatan brand engagement juga akan terlihat dari perilaku konsumen. Perhatikan saja pemilik berbagai merek ponsel yang merek-mereknya top.

Para pengguna ponsel merek top ini benar-benar menikmati saat menggunakannya untuk telepon, menulis, membaca chat, atau hanya sekadar dipegang, diputar, dan dipencet. Ketika bangun tidur, ponsel inilah yang mereka cari terlebih dulu dan bukan produk lain. Lebih dari itu, merek yang sudah mendapatkan engagement akan terus direkomendasikan oleh konsumen atau pelanggannya.

 

Dimensi lain dari brand engagement : KOMUNITAS

 

Dimensi lain dari brand engagement adalah adanya komunitas. Komunitas bisa dibentuk atau difasilitasi oleh pemilik merek, atau juga sesama konsumen membentuk komunitas sendiri.

Tupperware, salah satu merek pemenang Top Brand, adalah perusahaan yang piawai membangun engagement. Perusahaan beromzet triliunan ini mampu menciptakan komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan engagement seperti itu, tidak mengherankan kalau kekuatan merek Tupperware meninggalkan jauh para pesaingnya.

Honda dan Yamaha adalah dua merek yang perkasa di Indonesia. Kekuatan dua merek ini sungguh sulit untuk disaingi. Keduanya memiliki jumlah komunitas dalam bentuk klub yang sangat besar dan diperkirakan jumlahnya bisa mencapai sekitar 2.000 klub. Tiap-tiap anggota klub ini adalah para pemilik sepeda motor yang mereknya sama dan sering kali mempunyai tipe motor yang sama pula.

Komunitas dari kedua merek sepeda motor ini juga diperkuat secara online. Dibandingkan dengan industri lain dan merek-merek lain, Facebook, Twitter, dan blog-blog kedua merek ini sangatlah aktif. Kombinasi antara online dan offline dalam menggarap komunitaslah yang menjadi brand engagement keduanya tidak tertandingi merek lain.

Merek-merek yang sudah memiliki engagement pastilah mempunyai sense of ownership. Konsumen atau pelanggan justru bisa menjadi pembela yang setia.

 

Gojek sudah mencapai tingkat seperti itu. Di akhir tahun 2015, Gojek sempat dilarang beroperasi oleh Menteri Perhubungan. Hanya beberapa jam kemudian, atau pada hari yang sama, Presiden Jokowi memerintahkan untuk merevisi keputusan ini.

 

Yang menarik, setelah pengumuman dari menteri tersebut ditayangkan, begitu banyak pelanggan Gojek yang menjadi pembelanya melalui media sosial. Hal itu justru kemudian menciptakan awareness Gojek yang lebih tinggi dan citra yang lebih baik.

 

Nasib Gojek di masa mendatang tentunya masih penuh tantangan, tetapi modal engagement dari Gojek ini merupakan jalan untuk mencapai merek yang kuat dan melakukan cross-selling.

 

Tingkat engagement tertinggi tentunya terwujud kalau konsumen atau pelanggan sendiri secara aktif melakukan engagement. Konsumenlah yang kemudian aktif untuk engage dengan merek produk tersebut atau dengan sesama konsumen.  Pada tingkat seperti ini, sangatlah sulit bagi merek lain untuk mampu menandingi.

PENJUALAN DULU ?

Banyak perusahaan tidak mampu menciptakan merek yang kuat karena sangat berorientasi pada penjualan. Mereka menciptakan berbagai program promosi seperti diskon atau bentuk-bentuk promosi lainnya yang memang dapat mendorong penjualan dalam waktu singkat, tetapi merek tetap saja lemah.

Penjualan yang banyak ditopang dengan sales promotion, pada titik tertentu, tidak akan mampu menahan penurunan penjualan.

Pertama, mereka menciptakan konsumen-konsumen yang sensitif terhadap sales promotion, dan akhirnya hanya membeli dari sales promotion yang menarik.

Kedua, mereknya tidak akan menjadi kuat dan mungkin justru akan semakin melemah. Ketiga, akhirnya perusahaan pemilik merek juga tidak akan mampu berinovasi dan menjaga kualitas. Proses sederhana tersebut akhirnya yang kemudian membawa kematian merek-merek seperti ini.

Industri digital mengajarkan sebaliknya. Dahulukan brand engagement dan bukan fokus melulu pada penjualan.

Brand Engagement yang kuat akan menciptakan penjualan atau kenaikan penjualan dengan mudah di kemudian hari, rumus sederhana nya Brand Engagement Lebih Penting Dari Laba

Tidak mengherankan, banyak perusahaan yang bergerak di industri digital berani melakukan engagement secara ekstrem dengan melancarkan strategi zero economy, alias memberi gratis kepada konsumennya produk dan layanan yang ditawarkan.

 

(Oleh: Handi Irawan D.,MBA. MCom CEO – Frontier @HandiirawanD)

Tersimpan di Inspirasi Dengan label: ,
%d blogger menyukai ini: