Berbagai Jenis Amal Adalah Karena Berbagai Ahwal

Ahwal dan Wisal berbagai amal
foto from pexel

Hikmat 9 – Berbagai Jenis amal adalah Karena Berbagai Ahwal – di atas ringkas tetapi padat. Hikmat ini merupakan lanjutan kepada Hikmat 8 yang diuraikan sebelumnya.

Hikmat yang ke delapan – Jalan Menuju Makrifat – menjelaskan hanya perhentian di hadapan pintu gerbang, namun belum menyentuh makrifat. Hikmat ke sembilan ini memberi gambaran tentang makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak diuraikan secara terus terang, sebaliknya hanya diasebutkan sebagai ahwal.

Ahwal adalah jamak bagi perkataan “hal”. Hikmat ini membawa arti bahwa “hal” membentuk keadaan amal perbuatan. Amal adalah perbuatan atau perbuatan lahiriah dan hal adalah suasana atau perbuatan hati.

Amal berkaitan dengan lahiriyah manakala “hal” berkaitan dengan batiniyah

Amal berkaitan dengan lahiriyah manakala “hal” berkaitan dengan batiniyah. Oleh karena hati menguasai sekalian anggota badan, maka perbuatan hati yaitu “hal” menentukan bentuk amal perbuatan lahiriyah.

Dalam pandangan tasawwuf, “hal” diartikan sebagai pengalaman ruhani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. “Hal” merupakan dzauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah swt).

Oleh karena itu, tanpa “hal” tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat. Ahli ilmu membangun makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasawwuf bermakrifat melalui pengalaman tentang hakikat.

Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli kejiwaan terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbukanya keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin.

Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan, kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenal tipu daya syetan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini.

Ahli Kasyaf

Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau bentuk rupa apa saja yang dihadapi, penting bagi pengembara kejiwaan.

Rasulullah saw sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril as. dalam bentuk rupanya yang asli sebanyak dua kali saja, walaupun setiap kali Jibril as. menemui Rasulullah saw dengan bentuk rupa yang berbeda-beda, Rasulullah saw tetap mengenalnya sebagai Jibril as.

Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang tidak tertipu dengan tipu daya syetan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang kelihatan alim dan warak.

Rasulullah saw bersabda,

لَمْ أَرَهُ عَلَي صُوْرَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنَ السَّمَاءِ إلَي الأَرْضِ (الحديث)
“…aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara langit dan bumi…” (HR Imam Muslim, no. 259; at-Tirmidzi, no. 2994; Imam Ahmad, no. 24030)

Umar bin Khaththab ra. berkata, “Mendekatlah ke lisan orang-orang yang taat dan dengarkanlah apa-apa yang mereka katakan. Sebab mereka dapat melihat hal-hal yang benar. Hal-hal yang benar tersebut adalah hal-hal yang diperlihatkan oleh Allah azza wa jalla kepada mereka. Sesungguhnya, tidak dapat diragukan bahwa para wali Allah memperoleh ilham dan kasyaf…” (Jami’u al-Fatawa, 11/203, 205)

Utsman bin Affan ra berkata ketika seseorang menemuinya, lantas ia berkata kepada orang tersebut,

يَدْخُلُ عَلَيَّ أَحَدُكُمْ وَالزِّنَا فِيْ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أُوْحِيَ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهِ ؟ فَقَالَ: لاَ، وَلَكِنْ فِرَاسَةٌ صَادِقَةٌ
“Seorang dari kalian menemui saya dalam keadaan kedua matanya telah melakukan zina.” Orang tersebut bertanya: “Apakah ada wahyu sepeninggal Rasulullah saw?” Utsman ra menjawab: “Tidak ada, tetapi yang ada adalah firasat yang benar.” (ath-Thuruq al-Hakimah fi as-Siyasat asy-Syar’iyah : 41)

Ahli kejiwaan memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau dzauk yaitu pengalaman kejiwaan tentang hakikat ketuhanan.

Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu.

Sebelum ini telah dijelaskan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai dekat dengan pintu gerbangnya.

Apabila sudah sampai di situ, seseorang hanya menanti karunia Allah swt, semata-mata karunia Allah swt yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah swt yang mengandung makrifat itu dinamakan hal.

Allah swt memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran Nur itu hati akan mendapat suatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati.

Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa saja yang terbentuk di dalam hati tersebut tidak dapat digambarkan, tetapi pengaruhnya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pingsan.

Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau dzauk atau merasakan keperkasaan Allah swt dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah swt.

Pengalaman hati tersebut membuatnya mempunyai pengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari dzauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan makrifat.

Orang yang bersangkutan dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah swt. Oleh karena itu untuk mencapai makrifat, seseorang haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi.

Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu

Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu bisa didapatkan melalui belajar, sementara makrifat secara dzauk didapatkan dengan tanpa belajar.

Ahli tasawwuf tidak berhenti sekedar makrifat secara ilmu bahkan mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan makrifat secara dzauk.

Ada orang yang mendapatkan “hal” hanya sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam rentang waktu yang tertentu saja dan ada juga yang kekal di dalam hal.

Hal yang berkelanjutan atau berkekalan dinamakan wisal yaitu penyerapan hal secara berkelanjutan, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang bersangkutan.

Pembagian Ahwal dan Wisal

Hal-hal (ahwal) dan wisal dapat dibagi ke dalam lima jenis:

1 : Abid:

Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau dzauk yang membuat dia merasakan secara mendalam bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai sebarang daya dan upaya untuk melakukan sesuatu.

Kekuatan, kemampuan, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang datang dari Allah swt. Semuanya itu adalah karunia-Nya semata-mata.

Allah swt sebagai Pemilik yang sebenarnya, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada kapan saja yang Dia kehendaki.

Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah swt, sehingga seandainya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, tidak bermaya, tidak dapat bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan sesuatu yang datangnya dari Allah swt.

Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau perbuatan yang sangat kuat dalam beribadah, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah swt dan gemar bersendirian. Dia merasakan apa saja yang selain Allah swt akan menjauhkan dirinya dari Allah swt.

2. Asyikin.

Asyikin ialah orang yang asyik dengan sifat Keindahan Allah swt. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin dimana dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah swt di dalamnya.

Amal atau perbuatan asyikin ialah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah swt pada apa yang disaksikannya. Dia dapat duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya.

Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah swt. Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah swt.

3 : Muttakhaliq:

Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan berganti sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil.

Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah swt menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau perbuatan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada tindakan dan perbuatannya.

Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, dimana dia tidak berdaya mengendalikan atau mempengaruhinya.

Hal Qurbi Faraidh

Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah swt melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah swt, dan diamnya juga adalah gerakan Allah swt.

Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan kehendak. Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, terjadi secara spontan. Perbuatan atau amal Qurbi Faraidh ialah bercampur-campur di antara logis dengan tidak logis, mengikuti adat dengan merombak adat, perbuatan alim dengan jahil.

Dalam banyak hal penjelasan yang dapat diberikannya ialah, “Tidak tahu! Allah swt berbuat apa yang Dia kehendaki”.

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ [٩٦: ٣٧]
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Surah as-Shaaffaat : ayat 96)

Sedangkan dalam suasana Qurbi Nawafil, muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah swt yang menguasai bakat dan kemampuan pada seluruh anggota badannya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri.

Hal Qurbi Nawafil

Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah swt karena Allah swt memberi karunia kepadanya kemampuan untuk berbuat sesuatu.

Contoh Qurbi Nawafil adalah perbuatan Nabi Isa as. yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah swt, juga perbuatan beliau as. menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya.

Nabi Isa as. melihat sifat-sifat Allah swt yang diizinkan menjadi bakat dan kemampuan beliau as, sebab itu beliau as. tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah swt.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا [١٧:٨٤]
“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (bakat) masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” [Surah al-Isra’ : Ayat 84]

4 : Muwahhid:

Muwahhid fana dalam dzat, dzatnya lenyap dan Dzat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah swt. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud.

Perbuatan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terbebas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke”Abdullah”an dan benar-benar dikuasai oleh ke”Allah”an.

Ketika dia dikuasai oleh hal, dia terbebas dari beban hukum syarak. Dia telah fana dari “aku” dirinya dan dikuasai oleh kewujudan “Aku Hakiki”. Walau bagaimana pun sikap dan perbuatannya, dia tetap dalam keridhaan Allah swt. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat.

Perlu diketahui bahwa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya.

mulhid

Berbeda pula golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada dzauk, tetapi mempunyai perbuatan dan berbicara seperti orang yang berada di dalam dzauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara dzauk.

Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia berpuas hati bercakap tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini bercakap sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahwa siapa yang mengatakan, “Ana al-Haq!” sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang bersangkutan adalah sesat dan kufur!

5 : Mutahaqqiq:

Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam dzat turun kembali kepada kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diuruskan.

Dalam kesadaran dzat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah swt dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya.

Sebab itu orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin. Dia mesti turun kepada kesadaran sifat barulah dia boleh memimpin orang lain.

Orang yang telah mengalami kefanaan dalam dzat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah swt menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah swt dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah swt.

Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli thariqat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani.

Insan Rabbani

Insan Rabbani tahapan tertinggi ialah para nabi-nabi dan rasul-rasul dan Allah swt karuniakan kepada mereka sifat ma’sum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda-beda, dengan itu akan mencetuskan perbuatan amal yang berbeda-beda. Ahwal mesti difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan thariqat kejiwaan, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan shalat, zikir atau puasa.

Dia mesti berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.

Syarah Kitab Al Hikam oleh Prof.Ir.Agus Priyono di salin ulang untuk patriapurwakarta.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *