Aktivis Yang Beriman Bersatu tidak Berseteru

Altivis Yang Beriman
bagaimanakah menyatukan para aktivis yang beriman ini dalam satu barisah shaff yang teratur rapih dan kokoh layak nya sebuah bangunan yang kuat ?

Jika terdapat Aktivis Yang Beriman dalam barisan maka akan ikut bersama nya kunci-kunci menuju kesuksesan, karena itulah saya meyakini bahwa keberadaan orang-orang sholeh dalam barisan terlebih lagi orang-orang sholeh yang beramal dengan sungguh-sungguh, bekerja sepenuh hati adalah kunci bagi keberhasilan sebuah misi, keberadaan aktivis yang beriman inilah harapan kita.

Masalahnya adalah, aktivis yang beriman ini juga manusia biasa dengan segala sifat kemanusiaan yang ada pada dirinya, mereka memiliki rasa cinta dan benci, ambisi dan amarah, sehingga konflik dan gesekan mungkin saja terjadi antar mereka.

Lalu bagaimanakah menyatukan para aktivis yang beriman ini dalam satu barisah shaff yang teratur rapih dan kokoh layak nya sebuah bangunan yang kuat ?

 

Hubungan Antar Aktivis Yang Beriman Ditegakkan pada Dua Pilar Utama, Yaitu Iman dan Persaudaraan

 

Sarana untuk mewujudkan sebuah cita-cita bukanlah harta. Dari dahulu hingga sekarang, sejarah membuktikan bahwa tahap permulaan semua dakwah tidak di bangun dengan harta dan sama sekali tidak bangkit dengan harta.

Dakwah membutuhkan harta pada sebagian tahapannya, tapi mustahil dana menjadi tulang punggung dan pilarnya. Para pelopor dan pendukung dakwah, selalu terdiri dari orang-orang yang kekurangan harta.

Bertanyalah kepada sejarah, niscaya dia memberitahukanya padamu.

Sarana perjuangan ini bukan kekuatan. Sebab, dakwah sejati memulai dengan berbicara pada rohani, berbisik pada hati dan mengetuk jiwa-jiwa yang tertutup. Hal ini mustahil di lakukan oleh tongkat atau di capai oleh mata tombak dan panah.

Sarana menancapkan dakwah dan mengokohkannya sudah di kenal, diketahui dan dibaca oleh setiap orang yang mempunyai pemahaman terhadap sejarah berbagai pergerakan Islam. Intisarinya bermuara dalam dua kalimat : Iman yang disertai amal dan cinta yang disertai persaudaraan.

 

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika menanamkan dakwahnya dalam jiwa generasi pertama para sahabat ?

 

Adalah tidak lebih dari mengajak mereka agar beriman dan beramal, kemudian menyatukan hati mereka dalam ikatan cinta dan persaudaraan. Maka tergabunglah kekuatan akidah dengan kekuatan persaudaraan, dan jamaah mereka menajdi menjadi jamaah teladan, yang di pastikan seruannya akan unggul dan dakwahnya meraih kemenangan, meskipun seluruh penduduk bumi menentangnya.

Dakwah yang hari ini kita serukan, bukanlah dakwah yang mengada-ngada, melainkan pantulan dari dakwah pertama yang terus menggema dalam hati orang-orang beriman dan selalu terucap  dalam lisan mereka.

Mereka berusaha menancapkannya sebagai keimanan dalam  hati seluruh umat Islam agar nampak implikasinya dalam tindakan dan perbuatan, dan agar mereka bersatu karenanya. Jika mereka telah melakukan itu, maka Allah akan memperkuat, menolong dan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus.

Karena itulah wahai saudaraku, mari beriman dan berbuat, mencintai dan bersaudara, Kalian adalah Aktivis Yang Beriman, niscaya Allah bersama kalian, itulah sarana kalian, Dan Allah Maha Kuasa atas Urusan-Nya

 

Titik Tolak Kejiwaan Para Aktivis Yang Beriman

Bersih dari ambisi pribadi dan kepentingan materi

Kebersihanya benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menggap kecil keuntungan materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia terus melaju di Jalan Dakwah, untuk para Da’I,

“Katakanlah, Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf:108)

 

Hanya mengharap dari Allah, bukan dari Manusia

“Kami tidak meminta sesuatupun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas dan tidak menghendaki imbalan serta ucapan terimakasih. Sungguh pahala amal kami hanyalah dari Zat yang telah menciptakan kami”

 

Cinta pada Umat

“Kami ingin agar umat mengetahui  bahwa mereka lebih kami cintai dari diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami ini senang gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan atau melayang untuk membayar kejayaan, kemulyaan, agma dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.

Tiada yang membawa kami pada sikap seperti ini kepada mereka, kecuali akrena rasa kasih saying yang telah mencengkram hati kami, menguasai perasaan kami, menggelisahkan tidur kami dan mengalir air amta kami. Sungguh kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridho pada kerendahan dan pasrah pada keputusasaan.

Sungguh kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kamimadalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta, bukan untuk orang lain. Sesaat pun kami tak akan pernah menajdi musuh kalian.

 

Pada Kesucian, Ketulusan dan Cinta itulah jiwa para Aktivis Yang Beriman bertolak, marilah wahai saudaraku kita perkuat ikatan Iman dan Persaudaraan di antara kita, beriman dan bersatu, beramal dan bersaudara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *